STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ILMU PENDIDIKAN ISLAM

I.            PENDAHULUAN
Pendidikan sangat diperlukan sebagai proses yang mampu membangun potensi manusia menuju kemajuan dalam segala aspek. Pendidikan menurut Islam atau Pendidikan Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan yang dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al-qur’an dan Al-Sunnah.[1]
Kemajuan ilmu dan teknologi yang makin canggih dewasa ini telah menimbulkan berbagai macam perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk perubahan dalam tatanan sosial dan moral. Dibalik kemajuan yang demikian pesat itu, mulai terasa pengaruh yang kurang menggembirakan, yaitu mulai tampak dan terasa nilai-nilai luhur agama, adat dan norma sosial yang selama ini sangat diagungkan bangsa indonesia mulai menurun bahkan kadangkala diabaikan, karena ingin meraih kesuksesan dalam karier dan kehidupan. Untuk menangkal kesemuanya ini salah satu upaya yang dianggap ampuh adalah melalui jalur pendidikan, terutama pendidikan agama khususnya pendidikan agama Islam. Sebab pendidikan agama Islam berorientasi pada pembekalan kemampuan intelektual tinggi yang memiliki akhlaqul karimah yang baik.
Pendidikan haruslah dilihat sebagai bagian yang utuh, yang memposisikan guru, materi pelajaran yang diberikan, proses pendidikan, lingkungan rumah, sosial atau masyarakat, ekonomi, dan budaya lingkungan siswa sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan karakter (building) siswa menjadi anak yang sholeh.[2]

LINGKUNGAN PENDIDIKAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

I.         PENDAHULUAN
Jika kita berbicara mengenai pendidikan, maka kita tidak bisa terlepas dari yang namanya lingkungan tempat pendidikan berlangsung. Disini lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap anak didik. Islam yang mengakui bahwa fitrah (potensi) manusia itu merupakan dua hal yang saling bertentangan satu yang lainya. Yaitu fitrah berbuat baik dan fitrah berbuat jahat.[1] Dalam kondisi demikian lingkungan merupakan sarana untuk mengembangkan fitrah tersebut.
Apabila lingkungan yang melatarbelakangi perkembangan anak didik itu telah kondusif dalam mengembangkan fitrah (potensi) secara maksimal, maka akan terjadi perkembangan yang positif. Apabila lingkungan yang melatarbelakangi perkembangan anak didik itu destruktif dalam mengembangkan fitrah (potensi) itu, maka akan terjadi sebaliknya. Adapun lingkungan dalam pendidikan Islam bermacam-macam yang mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pula. Untuk lebih jelasnya akan dibahas secara detail dalam makalah berikut ini.

Jumat, 26 April 2013

KURIKULUM & PEMBELAJARAN

A.PENGERTIAN, KONSEP, FUNGSI, DAN PERANAN KURIKULUM.
a.      Pengertian Kurikulum dari berbagai Ahli
Istilah “Kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar yang bersangkutan. Istilah kurikulum berasal dari bahas latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti , bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ketempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.
Di Indonesia istilah “kurikulum” boleh dikatakan baru menjadi populer sejak tahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal orang di luar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan adalah “rencana pelajaran” pada hakikatnya kurikulum sama sama artinya dengan rencana pelajaran.
b.      Konsep Kurikulum
-          Kurikulum Sebagai Rencana : sebuah konsep yang didukung oleh beberapa ahli pendidikan diantaranya; Murray Print (1993) menyatakan: “Curriculum is defined as all the planned learning opportunities offered to learner by the educational institution and the experiences learners encounter when the curriculum is implemented”. Konsep kurikulum sebagai program atau rencana pembelajaran sejalan dengan rumusan kurikulum menurut Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional, yakni:” seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan”. sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dicapai siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen terancang dalam bentuk  nyata.

Jumat, 19 April 2013

Jalur Pendidikan Menurut Perspektif Islami


Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan secara sadar dengan membimbing, mengasuh anak atau peserta didik agar dapat meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Karena itu, pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sangat ideal, pendidikan yang menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam pandangan Islam, pendidikan dilaksanakan dalam 3 jalur, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Menurut Ki Hajar Dewantara, ketiga jalur pendidikan ini disebut “Tri Pusat Pendidikan”. Pendidikan dalam lingkungan keluarga, disebut jalur pendidikan informal.Dalam lingkungan inilah sebagai dasar pertama anak dipelihara dan dididik serta menerima sejumlah nilai dan norma yang ditanamkan kepadanya. Pendidikan dalam lingkungan sekolah, disebut jalur pendidikan formal. Dalam lingkungan ini, mereka berkumpul dengan umur yang hampir sama, dengan taraf pengetahuan yang kurang lebih sederajat dan secara sekaligus menerima pelajaran yang sama. Pendidikan dalam lingkungan masyarakat, disebut jalur pendidikan non formal. Dalam lingkungan ini, mereka mendapatkan berbagai pendidikan yang berasal dari berbagai pihak, misalnya tokoh-tokoh masyarakat dan termasuk yang berasal dari realita sekitarnya secara berkesinambungan.
Ketiga jalur pendidikan yang disebutkan di atas, sangat terkait satu sama lain dan saling menunjang untuk mewujudkan tujuan inti pendidikan Islam, yakni pembentukan budi pekerti luhur yang diistilahkan dengan akhlak al-karimah.

Minggu, 07 April 2013

Teori Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi

Sebagai landasan pendidikan Islam, maka al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai qat’ī al-dalālah. Sedangkan hadis, ada yang qat’ī al-dalālah dan ada yang zannī al-dalālah. Karena demikian halnya, maka yang harus dijadikan landasan pertama dan utama dalam pendidikan Islam adalah al-Qur’an, di mana di dalamnya banyak ditemukan ayat yang berkenaan dengan teori belajar-mengajar, dan teori belajar-mengajar itu sendiri merupakan esensi dari pendidikan.
Di samping teori belajar mengajar, ada pula teori nativisme, empirisme, dan konvergensi. Teori-teori ini erat kaitannya dengan teori belajar mengajar yang bersumber dari aliran-aliran klasik dan merupakan benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang telah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Banyak pemikiran yang berada di antara kedua kutub tersebut, yang dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.
Ketiga aliran pendidikan yang disebutkan di atas, juga memiliki keterkaitan erat dengan petunjuk al-Qur’an tentang masalah fitrah manusia. Karena itulah, maka dapat dirumuskan bahwa sangat penting untuk dibahas berbagai petunjuk al-Qur’an tentang teori belajar mengajar dan kaitannya dengan teori nativisme, teori empirisme, dan teori konvergensi.

Konsep al-Qur’an Tentang Fitrah dan Kaitannya dengan Teori Belajar-Mengajar

Setiap manusia dapat memperoleh pendidikan dan hasil belajar yang baik sesuai dengan petunjuk agama. Dalam hal ini, agama Islam dengan al-Qur’an sebagai sumber utamanya menuntut penganutnya untuk memperdalam ilmu pengetahuannya, sesuai dengan tabiat agama. Ini berarti bahwa teori-teori aliran kependidikan yakni teori nativisme, empirisme, dan kovergensi bukan menjadi acuan konsep pendidikan al-Qur’an. Namun al-Qur’an lah yang memberikan konsep terhadap aliran-aliran pendidikan tersebut.
Menurut al-Qur’an, tabiat manusia adalah homo religious (makhluk beragama) yang sejak lahirnya membawa suatu kecenderungan beragama. Dalam hal ini, pada QS. al-Rum (30): 30 Allah berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Term fitrah dalam ayat di atas, mengandung interpretasi bahwa manusia diciptakan oleh Allah mempunyai naluri beragama, yakni agama tauhid. Potensi fitrah Allah pada diri manusia ini menyebabkannya selalu mencari realitas mutlak, dengan cara mengekspresikannya dalam bentuk sikap, cara berpikir dan bertingkah laku. Karena sikap ini manusia disebut juga sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik) dan homo education (makhluk pendidik), karena pendidikan baginya adalah suatu keharusan guna mewujudkan kualitas dan integritas kepribadian yang utuh.

Kamis, 24 Januari 2013

PERANAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Salah satu sistem yang memungkinkan proses pendidikan berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan dalam mencapai tujuannya adalah institusi atau lembaga pendidikan. Lingkungan pendidikan merupakan institusi atau lembaga pendidikan di mana pendidikan itu berlangsung. Selain itu, lingkungan pendidikan merupakan salah satu faktor eksternal yang ikut berperan dalam menciptakan prestasi belajar dalam proses kependidikan.
Dan dalam makalah ini kami akan membahas hal tersebut lebih mendalam. Apa yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan? Apa sajakah yang termasuk dalam lingkungan pendidikan? Serta bagaimana pengaruh lingkungan pendidikan terhadap pendidikan itu sendiri?.
Semoga pemaparan dari kami dapat bermanfaat, kritik dan saran sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah kami.
A. Pengertian Lingkungan.
Dalam arti yang luas lingkungan mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat , pengetahuan, pendidikan dan alam. Dengan kata lain lingkungan ialah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Ia adalah seluruh yang ada, baik manusia maupun benda buatan manusia, atau alam yang bergerak atau tidak bergerak, kejadian-kejadian atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan dengan seseorang.[1]
Sedangkan menurut Sartain, yang dimaksud dengan lingkungan meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan, atau life proccess kita kecuali gen-gen.[2]
Dan Zakiah Daradjat berpendapat, bahwa sejauh mana seseorang berhubungan dengan lingkungaannya, sejauh itu pula terbuka peluang masuknya pengaruh pendidikan kepadanya. Tetapi tidak selamanya keadaan tersebut bernilai pendidikan, karena bisa saja malah merusak perkembangan seseorang.

Rabu, 26 Desember 2012

LINGKUNGAN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pengetahuan tentang hakekat manusia dan kedudukan manusia merupakan bagian yang amat esensial, karena dengan pengatahuan tersebut dapat diketahui tentang hekekat manusia, kedudukan dan peranannya dialam semesta ini. Pengetahuan ini sangant penting karena dalam proses pendidikan manusia bukan saja objek tetapi juga sebagai subjek, sehingga pendekatan yang harus dilakukan dan aspek yang diperlukan dapat direncanakan secara matang.
Para ahli dalam bidang berbagai bidang memberikan penafsiran tentang hakekat manusia. Sastraprateja, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang historis. Hakekat manusia sendiri adalah sejarah, suatu peristiwa yang bukan semata-mata hanya datum. Hakekat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah bangsa manusia. Dia juga mengatakan apa yang kita peroleh dari pengamatan kita atas pengalaman manusia adalah suatu rangkaian antrhopological constans yaitu dorongan-dorongan dan orientasi yang tetap dimilki oleh manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
LINGKUNGAN PENDIDIKAN
A. Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan (environment) merupakan salah satu unsure/komponen pendidikan. Lingkungan itu bermacam-macam yang satu dengan yang lain saling pengaruh-mempengaruhi berdasarkan fungsinya masing-masing dan kelancaran proses dan hasil pendidikan.
Menurut Ngalis Purwanto, ( 1984 :77) Lingkungan (environment) meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita.

Minggu, 25 November 2012

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

A. Pendahuluan
Pendidikan adalah upaya manusia untuk “memanusiakan manusia”. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi di bandingkan dengan makhluk lainnya di sebabkan memiliki kemampuan berbahasa dan akal fikiran/rasio, sehingga manusia mampu megembangkan dirinya sebagai manusia yang berbudaya. Dan kemampuan untuk mengembangkan dirinya adalah dengan melalui intraksi dengan lingkungannya. Lebih jauh daripada itu pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia pada dasarnya adalah upaya mengembangkan kemampuan/potensi individu sehingga bisa hidup optimal baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Salah satu faktor yang sangat menunjang dalam proses pendidikan dan pengajaran adalah kurikulum, karena kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan arah, isi, peroses pendidikan dan tujuan pendidikan pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Tujuan pendidikan di suatu Bangsa atau Negara di tentukan oleh falsafah dan pandangan hidup Bangsa atau Negara tersebut. Berbedanya falsafah atau pandangan hidup suatu Bangsa atau Negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak di capai dalam pendidikan tersebut dan sekaligus akan berpengaruh pula terhadap kurikulum. Begitu pula dengan perubahan politik pemerintahan suatu Negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, oleh sebab itu kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi . Setiap pendidik harus memahami setiap perkembangan ataupun perubahan kurikulum , karena merupakan suatu formulasi pedagogis yang paling penting dalam konteks pendidikan, dalam kurikulum akan tergambar bagaimana usaha yang dilakukan dalam membantu siswa dalam mengembangkan potensinya, berupa fisik, intelektual, emosional dan sosial keagamaan.
Begitu pentingnya memahami dan menguasai kurikulum bagi seorang pendidik agar dapat meyajikannya dalam bentuk pengalaman yang bermakna bagi siswa, lebih jauh dari itu agar tercapai tujuan yang di harapkan. Oleh sebab itu dalam kaitannya dengan ini S. Nasution mengatakan pada hakekatnya setiap kurikulum formal yang di keluarkan oleh Pemerintah hanya dapat di realisasikan berkat usaha guru dan karena itulah kurikulum seperti yang di wujudkan dalam kelas tak dapat tiada selalu mengandung unsur keperibadian guru .

PENAFSIRAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Terjemahan dan Pembahasan
Penafsiran yang benar terhadap ragam perbedaan pendapat Islam tentang pengertian pengajaran adalah kita kembalikan saja kepada aliran-aliran rasional, pada satu segi dan para penganut aliran pengajaran ini hanya memegang teguh teguh pada salah satu sisi, tetapi menyelaraskan dengan kondisi masyarakat pada sisi yang lain. Artinya dengan kata lain bahwa penafsiran ini berlangsung melalui dua sisi, yaitu sisi arah rasional dan sisi sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan pandangan baru, ini yang kita kehendaki, dan belum ada orang yang mendahuluinya selain kita telah menulis tentang teori-teori pendidikan dan pengajaran pada kaum muslimin, teori-teori tersebut akan eksis bila ia di kembalikan kepada asasnya yang benar. Maka jelaslah bagi kita bahwa rahasia adanya perbedaan aliran-aliran pendidikan dan adab di kerajaan-kerajaan Islam, pada zaman yang berbeda dan pada pemikiran para ahli di timur dan barat.
Kesimpulan pendapat baru yang kita komentar tadi bahwa Ahlus sunnah memiliki metode khusus di dalam pengajarannya, demikian juga dengan ahli filsafat dan juga para sufi. Bahkan kebanyakan pula setiap pemikir memiliki metode khusus di dalam pengajarannya yang saling mendukung dan sesuai pendapat pada mazhabnya.
Hal ini bukan hal yang aneh karena pendidikan itu di anggap bagian dari aliran filsafat, teori dan peraktikyang di gambarkan dan di yakini seseorang dalam hidupnya. Dan secara alamiyah apa yang di gambarkan oleh para penganut aliran yang berbeda tadi, tetap menyebarkan aliran ini dan pembentukan generasi baru sehingga sampai kepada orang sebagaimana penerapan metode pengajaran karena kecendrungan manusia apabila menyakini suatu kebenaran ia akan menyebarkannya pula kepada orang dan menggiring mereka untuk berpartisipsi di dalamnya. Dan seperti inilah apa yang dilakukan oleh Plato dulu ketika ia berbicara di Negaranya tentang pendidikan agar orang-orang mengikuti pendapatnya dan masyarakat akan menjadi baik.
Dan seperti ini pula apa yang dilakukan oleh Russeu, Spencer dan yang lain. Atau para pemikir kontemporer apabila menginginkan pendapat-pendapatnya tersebar luas di tengah-tengah manusia dengan cara peraktik langsung menggring manusia untuk memegang teguh pendapatnya. Ini adalah metode pengajaran yang cocok untuk menyebarkan atau mengembangkan pendapat-pendapat ini.

Minggu, 04 November 2012

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

 
Ilmu pengetahuan bagi manuasia merupakan suatu hal yang penting untuk kelanjutan eksistensinya dan untuk mempertahankan hidupnya. Manusia berpacu dengan waktu atau masa dan waktu itu ditentukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu Allah SWT membekali manusia dengan ilmu pengetahuan agar dapat mengatur dan mengolah bumi untuk kepentingan seluruh umat manusia. Ilmu pengetahuan itu dijadikan sebagai salah satu modal dasar untuk mengolah sumber daya alam, agar manusia dapat lebih mengembangkan potensinya dalam mengenal dan mengabdikan dirinya kepada Alloh SWT.
Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan imaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan.
Untuk lebih jelasnya berikut ini kami akan menguraikan dari mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam. dengan pembahasan Tujuan Ilmu Pendidikan Islam. Demikianlah makalah ini kami buat dan sekiranya ada kekurangan yang terdapat dalam makalah ini kami mohon ma'af dan kami siap menerima kritikan sehat yang sifatnya membangun terutama dari Bapak/ Ibu Dosen dan kepada sahabat-sahabati yang membaca makalah ini. Kami berharap setelah membaca makalah yang sederhana ini kita dapat memetik ilmu dan menambah wawasan kita semua.

 
BAB II
PEMBAHASAN

 
Membahas masalah pendidikan tidak akan terlepas dari pengertian pendidikan secara umum sehingga akan diperoleh batasan-batasan pengertian pedidikan Islam secara lebih jelas.Menurut Hasan Langgulung, pengertian pendidikan itu dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari sudut pandangan masyarakat dan dari segi pandangan individu. 

Kamis, 04 Oktober 2012

GURU PAI YANG IDEAL

I. PENDAHULUAN
Guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan, karena fungsi adalah merancang, mengelola, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Di samping itu, kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar juga sangat strategis dan menentukan. Strategis karena guru yang akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran, bersifat menentukan karena guru yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan guru ialah kinerja di dalam merencanakan atau merancang, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar mengajar. Untuk menjadi guru pendidikan Agama Islam yang ideal haruslah memiliki beberapa kemampuan dan juga harus memiliki syarat-syarat tertentu.
II. Pembahasan
A. Sebenarnya, agama Islam mengajarkan bahwa setiap umat Islam wajib mendakwahkan dan mendidikkan ajaran agama Islam kepada yang lain. Sebagaimana dalam Q.S. Al-Nahl 125, Q.S. Al-Syuro’ 15, Q.S. Ali Imron 104, dan Q.S. Al-‘Ashr 1-3. Berdasarkan ayat-ayat di atas dapat di pahami bahwa siapapun dapat menjadi pendidik agama Islam, asalkan mempunyai pengetahuan (kemampuan) lebih, mampu mengimplisitkan nilai relevan (dalam pengetahuan itu), yakni sebagai penganut agama yang patut dicontoh dalam agama yang diajarkan, dan bersedia menularkan pengetahuan agama serta nilainya kepada orang lain.[1]
Asumsi yang melandasi keberhasilan baru pendidikan agama Islam dapat di formalisasikan sebagai berikut : guru pendidikan agama Islam akan berhasil menjalankan tugas kependidikannya bilamana guru tersebut mempunyai kompetensi Personal-Religius dan Kompetensi Profesional-Religius.[2]

Sabtu, 14 Juli 2012

Peranan Pendidikan Islam Di Lingkungan Keluarga Dalam Pembentukan Kepribadian Muslim

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia, pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk generasi mendatang. Dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia berkualitas, bertanggung jawab dan mampu meng-antisipasi masa depan. Pendidikan dalam maknanya yang luas senantiasa menstimulir, menyertai perubahan-perubahan dan perkembangan umat manusia. Selain itu, upaya pendidikan senantiasa menghantar, membimbing perubahan dan perkembangan hidup serta kehidupan umat manusia.
Peranan pendidikan sebagaimana disebutkan di atas tidak terlepas dari kedudukan manusia, baik sebagai abdullāh[1] maupun sebagai khalifatullāh.[2] Sebagai ‘abdullāh, maka manusia harus mengabdikan dirinya kepada Allah swt dengan penuh tanggungjawab, dan sebagai khalīfatullāh maka manusia harus mengelolah alam ini, juga dengan penuh tanggungjawab. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya sekedar tindakan lahiriyah, tetapi ia juga merupakan tinadakan batiniyah, sebab di dalam proses pendidikan ada tanggungjawab yang harus diembang. Dengan melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan baik, praktis bahwa arah dan tujuan pendidikan akan mudah tercapai.

DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM

Setiap usaha, kegiatan, tindakan yang disengaja untuk mencapai tujuan haruslah mempunyai dasar atau landasan sebagai tempat berpijak yang baik dan kuat. Demikian juga dengan proses pendidikan, sebagai aktivitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, tentunya pendidikan Islam memerlukan landasan kerja yang
berfungsi sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah yang menentukan arah usaha tersebut. Maka tentunya pendidikan Islam memerlukan landasan kerja untuk memberikan arah bagi programnya. Sebab adanya dasar pendidikan berfungsi sebagai jalan menuju arah dari usaha tersebut.
1) Dasar Relegius
Dasar relegius adalah yang bersumber dari ajaran agama. Dasar  relegius ilmu pendidikan Islam adalah Al-Qur'an, As-Sunnah dan Ijtihad.
a) Al-Qur'an
Dasar pelaksanaan pendidikan Islam terutama adalah Al- Qur’an dan Al-Hadits. Dalam Al-Qur’an, surat Asy-Syura: 52
Artinya : “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al- Qur’an) dengan perintah Kami sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami beri petunjuk dengan dia siapa yang Kami kehendaki diatara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar” (Dahlan dan Sahil, 1999: 873).
b) As-Sunnah
As-Sunnah adalah sumber kedua hukum Islam, segala aktivitas umat Islam termasuk aktivitas dalam pendidikan. Alasan As- Sunnah dapat dijadikan sumber pendidikan yang kedua adalah:
a) Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar mentaati kepada rasulullah dan wajib berpegang teguh atau menerima segala yang datang dari rasul Allah.
b) Pribadi rasulullah adalah teladan bagi umat Islam.
c) Al-Ijtihad

EPISTEMOLOGI DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatifitas peserta didik,bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.,cerdas,terampil,memiliki etos kerja yang tinggi,berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya,bangsa dan negara serta agama.Proses itu sendiri sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Ilmu pendidikan islam merupakan prinsip,struktur,metodologi,dan objek yang memiliki karakteristik epistemologi ilmu islam.Pengembangan pendidikan islam adalah upaya memperjuangkan sebuah sistem pendidikan alternatif yang lebih baik dan relatif dapat memenuhi kebutuhan umat islam dalam menyelesaikan semua problematika kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari.
A. Pengertian Epistemologi
Secara etimologi,kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani;”Episteme” dan “Logos”.” Episteme” berarti pengetahuan,sedangkan “Logos” berarti teori,uraian atau alasan.Jadi Epistemologi berarti sebuah teori tentang pengetahuan.Dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah “Theori of Knowledge”.
Secara Terminologi,ada beberapa pendapat yaitu:
  1. Dagobert D.Runes dalam bukunya “Dictionary of Philisophy”,mengatakan Epistemologi sebagai cabang filsafat yang menyelidiki tentang keaslian pengertian,struktur,mode,dan validitas pengetahuan.
  2. Harun Nasution dalam bukunya “Filsafat Agama”,mengatakan bahwa Epistemologi adalah ilmu yang membahas apa pengetahuan itu dan bagaimana memperolehnya.
  3. Fudyartanto,mengatakan bahwa Epistemologi adalah ilmu filsafat tentang pengetahuan atau dengan kata lain filsafat pengetahuan.
  4. Anton Suhono, Epistemologi adalah teori mengenai refleksi manusia atas kenyataan.
  5. The Liang Gie, Epistemologi adalah sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dan ruang lingkup pengetahuan,pra anggapan-pra anggapan dan dasar-dasarnya serta reabilitas umum dari tuntutan akan pengetatuan.

Sabtu, 12 Mei 2012

Pendidikan Anak dalam Perspektif Islam

Beberapa bulan yang lalu muncul wacana tentang amandemen Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 sebagai sebuah upaya perlindungan terhadap hak perempuan dan anak. Munculnya wacana ini dipicu oleh adanya realitas bahwa UU tersebut belum bisa mengakomodir pelbagai kepentingan dan hak perempuan dan anak yang selama ini lingkupnya masih terbatas.[1] Selain memunculkan eksploitasi terhadap perempuan, UU yang tidak responsif terhadap kepentingan perempuan dan anak ini juga memunculkan fenomena kekerasan terhadap anak, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sosial yang lebih luas, seperti banyaknya anak-anak di bawah umur yang dieksploitasi di lingkungan kerja.
Bagaimana mendidik anak dan menciptakan lingkungan yang kondusif dalam upaya pengembangan pribadi dan karakter anak, sebenarnya sudah dijelaskan secara komprehensif dalam Islam. Dalam Islam, hak-hak anak dan upaya perlindungan terhadap anak benar-benar dijaga dan dihormati. Semuanya berpangkal pada satu orientasi untuk menyiapkan generasi berkualitas dari segi moral, intelektual, dan spiritual. Buku Menjadi Orangtua Bijak, Solusi Kreatif Menangani Pelbagai Masalah Pada Anak karya Abdul Mustaqim mencoba menawarkan konsep pendidikan anak dalam perspektif Islam. Penulis buku ini mengharapkan akan muncul orangtua kreatif dan bijak dalam keluarga, sehingga pendidikan dan hak anak akan terjaga dan terealisasi dengan baik. Karena dari keluargalah pembentukan peradaban sebenarnya dimulai.[2]
Pendidikan Anak: Perspektif al-Qur’an dan al-Sunnah
Secara tegas al-Qur’an menyatakan, bahwa keturunan merupakan bagian dari kelanjutan misi kekhalifahan di muka bumi.[3] Artinya, kelangsungan peradaban bumi ini akan tergantung pada keturunan yang menjadi pewaris generasi sebelumnya. Jika mereka memiliki kualitas yang baik, tentu kehidupan di muka bumi ini akan berlanjut secara simultan. Sebaliknya jika diserahkan kepada generasi yang tidak bertanggungjawab, maka muka bumi ini akan diwarnai keangkaramurkaan dan kehancuran. Di sainilah urgensi pendidikan anak (tarbiyyah al-aulâd) dalam Islam. Dengan pendidikan yang baik dan bekesinambungan, anak-anak sebagai generasi penerus dan pewaris kehidupan di muka bumi ini akan menjadi manusia yang baik dan berorientasi kepada kemaslahatan.[4]

Jumat, 04 Mei 2012

TEORI-TEORI DALAM ILMU PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu. Mari kita kembali berprihatin sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.
Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, sosial dan moral. Sebaliknya apabila pendidikan dalam praktek dipaksakan tanpa teori dan alasan yang memadai maka hasilnya adalah bahwa semua pendidik dan peserta didik akan merugi. Kita merugi karena tidak mampu bertanggung jawab atas esensi perbutan masing-masing dan bersama-sama dalam pengamalan Pancasila. Pancasila yang baik dan memadai, konsisten antara pengamalan (lahiriah) dan penghayatan (psikologis) dan penataan nilai secara internal. Dalam hal ini kita bukan menyaksikan kegiatan (praktek) pendidikan tanpa dasar teorinya tetapi suatu praktek pendidikan nasional tanpa suatu teori yang baik.

Senin, 12 Maret 2012

KONSEP ISLAM TENTANG FITRAH, LINGKUNGAN DAN PENDIDIKAN

1. Dasar-Dasar Kebutuhan Anak Untuk Memperoleh Pendidikan
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati dapat dimengerti dari kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda:
مَامِنْ مَوْلُوْدٍإِلاَّيُوْلَدُعَلَىاْلفِطْرَةِفَأَبَوَاهُ يُهُوِّدَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ كَمَاتَنْتَحُ البَهِيْمَةُ جَمْعَاءُهَلْ تُحِسُّوْنَ مِنْ جَدْعَاءَ ,ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْهُرَيْرَةَ, وَاقْرَءُوْاإِنْ شِئْتُمْ فِطْرَةَاللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَالاَتَبْدِيْلَ لَخَلْقِ اللهِ ذلِكَ الدِّيْنُ اْلقَيِّمُ (رواه مسلم )
Artinya:
“Tiadalah seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka akibat kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikan atau men-Nasranikannya atau me-Majusikannya. Sebagaimana halnya binatang yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu lihat binatang itu tiada berhidung dan bertelinga? Kemudian Abi Hurairah berkata, apabila kau mau bacalah lazimilah fitrah Allah yang telah Allah ciptakan kepada manusia di atas fitrahNya. Tiada penggantian terhadap ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus (Islam).”
(H.R Muslim)
Allah berfirman:
وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً (النحل:78)
Artinya:
“Tuhan itu melahirkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun.”
(QS. An Nahl:78)

Rabu, 07 Maret 2012

ENSIKLOPEDI PENDIDIKAN

a. Tarbiyah Lughatan (Etimologi)
Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah,
maka sumber pendidikan Islam yang paling utama juga Al-Qur'an dan
Sunnah Rasul. Dan perlu ditambah satu lagi, yaitu “Sirah as Salaf” (begitu menurut Dr. Amin Abu Lawi, dalam buku dengan judul yang sama)

Ketiga sumber pendidikan Islam tersebut dapat ditemukan di
dalamnya kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait
dengan pendidikan, yaitu rabba ( ربىّ ) kata kerja dari tarbiya (تربية ), ‘allama ( علّم ) kata kerja dari ta’lim ( تعليم ) dan addaba ( أ د ب) kata kerja dari  ta’dib تأديب

Misalnya :

1) Rabba ربى
رب ارحمهما آما ربياني صغيرا
Ya Tuhan, sayangilah keduanya (orang tuaku) sebagaimana mereka telah
mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. (QS. Al-Isra’/17: 24)
2) ‘Allama علّم
علّم الإنسان ما لم يعلم
Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS.
Al-Baqarah/2 : 5)

أدّب Addaba
هَذَا أَدَّبَتْهُ أُمُّهُ وَأَنْتَ أَدَّبَتْكَ أُمُّكَ
Ibunya telah mendidiknya dan ibumu telah mendidikmu (HR. Muslim,
Masajid, no: 66)

Selasa, 06 Maret 2012

PARADIGMA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SATUAN PENDIDIKAN


وقل رب ارحمهما كما ربياني صغيرا (الإسراء: 24)
يأمر الله المسلم ان يدعو ربه أن يرحم والديه ، لأنهما ربياه صغيرا، أي لأنهما قالما برعاية شؤونه وتنشئته وتوجيهه.

PENDIDIKAN ADALAH SEBUAH AKTIFITAS (AMALIYAH) YANG DILAKUKAN OLEH INDIVIDU ATAU KUMPULAN INDIVIDU DITUJUKAN KEPADA INDIVIDU-INDIVIDU LAIN, DAN MEMBERIKAN PENGARUH PADA PERILAKU MEREKA (SULUK).

PENDIDIKAN = AMAL KEGIATAN, YANG MELIPUTI RI`AYAH (Perhatian secara intens), TAUJIH (pengarahan), TANSYI’AH (Pembentukan & Pertumbuhan), YANG DAPAT MEMBANTU PEMBENTUKAN PRILAKU INDIVIDU (PESERTA DIDIK), DAN MEMBANTU TUMBUH KEMBANGKAN ASPEK-ASPEK PERTUMBUHAN INDIVIDU, AKALNYA, JASMANINYA, SOSIALNYA, KEJIWAAANNYA, AKHLAKNYA …… DST

AKTIFITAS PENDIDIKAN DIMULAI DARI RUMAH TANGGA (USRAH MUSLIMAH), TERLETAK DI PUNDAK KEDUA ORANGTUA ANAK-ANAK, MENGARAHKAN PERTUMBUHAN MEREKA (SECARA MENYELURUH), DALAM RANGKA MENJAGA MEREKA DARI KEMURKAAN ALLAH DAN ADZAB NYA, SEKALIGUS MEWUJUDKAN UNSUR KEMANUSIAN MEREKA DAN KEMASLAHATAN SOSIAL MEREKA.

MASJID, SEKOLAH-SEKOLAH, YAYASAN-YAYASAN PENDIDIKAN KEMUDIAN KINI DIRASAKAN SANGATLAH MEMBANTU KELUARGA MUSLIM DALAM AMALIYAH PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN, BAIK YANG KONVENSIONAL MAUPUN YANG MODERN.

DISAMPING ITU BERPERAN PULA BANYAK MEDIA YANG MEMBANTU PENDIDIKAN, SEPERTI : TV, RADIO, INTERNET, MEDIA CETAK, DLL.