STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Hadits Tarbawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits Tarbawi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

KUMPULAN HADIS-HADIS TARBAWI

BAB I
MANUSIA DAN POTENSI PENDIDIKANNYA
عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَنِهِ اَوْ يُمَجِّسَنِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ )
Dari Abu Hurairah R.A, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori dan Muslim)
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  اَدِّبُوْا اَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ : حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ قِرَأَةُ الْقُرْأَنِ فَإِنَّ حَمْلَةَ الْقُرْأَنُ فِيْ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلٌّ ظِلَّهُ مَعَ اَنْبِيَائِهِ وَاَصْفِيَائِهِ (رَوَاهُ الدَّيْلَمِ )
Dari Ali R.A ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi Al-Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, diwaktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya” (H.R Ad-Dailami)

Senin, 17 Februari 2014

Hadits Tarbawi: Akhlak Terpuji



BAB I
PEMBAHASAN

            Kata “AKHLAK” berasal dari bahasa Arab “KHULQUN” yang berarti : Haalun linnafsi raasikhatun tashduru ‘anhaal af-‘aalu min ghairi haajatin ila fikrin wa rawayyatin, artinya : Suatu keadaan jiwa yang dapat melakukan tingkah laku tanpa membutuhkan banyak akal dan pikiran[1] dan dikhususkan untuk sifat dan karakter yang tidak dapat dilihat oleh mata. Sedangkan Al-Qurthubi berkata, Akhlak adalah sifat manusia dalam bergaul dengan sesamanya, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang terpuji, secara umum adalah menjadikan diri anda dan orang lain dalam diri anda lalu anda mengambil baktinya tetapi tidak mengabdi kepadanya. Detailnya adalah : lapang dada, lembut, sopan, sabar, saling mencintai, dan sebagainya. Sedangkan tercela adalah kebalikannya[2].
            Ibnu Al-Mubarak rahimahullah meriwayatkan ketika mendefinisikan tentang akhlak yang baik ia berkata, “Yaitu bermanis muka, melakukan kebaikan, dan menahan diri dari perbuatan buruk[3]”. Akhlak menempati kedudukan yang luhur dalam Islam, bahkan di antara misi utama agama ini adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi SAW :
اكمل المؤ منين ايمانا احسنهم خلقا
Artinya : “ Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”[4]
Dari penjelasan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai keimanan paling sempurna adalah apabila orang tersebut memiliki akhlak yang baik, karena dari akhlak yang baik akan menimbulkan hati yang bersih untuk beribadah dan menambah keimanan seseorang kepada Tuhannya. Bahkan akhlak yang baik menjadi penyebab terbanyak masuknya seorang hamba ke dalam surga, karena dengan begitu seorang hamba akan selalu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Akhlak terpuji (baik) mempunyai arti yang sangat luas dan banyak sekali contohnya, karena akhlak baik tidak hanya satu di dunia ini maka dari itu kami akan menjelaskan sebagian contoh hadis  tentang  akhlak baik.

Sabtu, 15 Februari 2014

Hadits Tarbawi: Ikhlas Dalam Beramal

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Uradhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
mar bin al-Khattab
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه
“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad'i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907])

Faedah Hadits
Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya [Sahih Bukhari] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 13)

Sabtu, 01 Februari 2014

Hadits Tarbawi: REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN

I. Pendahuluan
Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagai syahidan, mubasysyiran, dan nadziron[1] bagi segenap manusia. Ajaran Islam ad-Din al-Haq yang dibawanya kesemua dasarnya adalah wahyu Allah SWT dalam Al-Qur’an . Sebagai seorang uswat al-Hasanah beliau SAW adalah penyampai, penafsir, dan penjelas firman-firman Allah dalam Al-Qur’an lewat qoul beliau, fi’liyah beliau, dan taqrir beliau SAW.
Islam adalah Rahmat li al-‘Alamin, di dalam ajaran-ajarannya terkandung nilai-nilai cinta kasih yang telah nyata dicontohkan oleh baginda Muhammad SAW lewat akhlak mulia beliau.  Berikut ini adalah sedikit pembahasan berkaitan dengan realisasi iman dalam kehidupan sosial berdasarkan uswah Rasulullah SAW dalam sunah beliau SAW.

II. Pembahasan A.               Cinta sesama muslim adalah sebagian dari kesempurnaan Iman
Cinta adalah sesuatu yang niscaya ada dalam peri kehidupan makhluk berakal seperti manusia baik berbangsa, bernegara, maupun dalam kehidupan beragama. Rasulullah SAW sebagai suri tauladan agung bagi manusia telah menjelaskan tentang betapa pentingnya cinta dan kasih sayang terhadap sesama insan dalam hadits berikut ini:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَِخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه ِ)رواه البخاري ومسلم وأحمد والنسائى([2]
.Artinya: “Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yahya telah menceritakan kepada kami dari Syu’bah dari Qatadah dari Anas r.a berkata bahwa Nabi saw. telah bersabda : “Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)
Hadis di atas menegaskan bahwa di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah bahwa ia mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya sendiri. Kecintaan yang dimaksudkan di sini termasuk di dalam rasa bahagia jika melihat sesamanya muslim mendapatkan kebaikan yang ia senangi, dan tidak senang jika sesamanya muslim mendapat kesulitan dan musibah yang ia sendiri membencinya. Ketiadaan sifat seperti itu menurut hadis di atas menunjukkan kurang atau lemahnya tingkat keimanan seseorang.

Hadits Tarbawi: PERILAKU TERPUJI (JUJUR, SALING MENYAYANGI)

A. Hadits yang berkaitan dengan perilaku terpuji (Jujur dan Saling menyayangi).
1. عن ابن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال : عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي الي البر وإن البر يهدي الي الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحري الصدق حتي يكتب عند الله صديقا, وإياكم من الكذب فإن الكذب يهدي الي الفجور وإن الفجور يهدي الي النار وما يزال الرجل يكذب و يتحري الكذب حتي يكتب عند االله كذابا. متفق عليه.
“ Berlaku jujurlah kamu karena sesungguhnya perbuatan jujur itu mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan pada surga. Dan hendaklah orang selalu berkata benar dan dia selalu memilih kebenaran sehingga ia dicatat disisi allah sebagai orang yang sangat benar. Dan jauhilah dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada kejelekan dan kejelekan itu menunjukkan pada neraka, dan orang yang senantiasa dusta dan memilih dusta akan dicatat disisi allah sebagai orang pendusta.”
2. عن ابي محمد الحسن بن علي بن ابي طالب رضي الله عنهما قال : حفظت من رسول الله صلي الله عليه وسلم, دع ما يريبك الي ما لا يريبك فإن الصدق طمأنينة والكذب ريبة. رواه الترمذي.
“ Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu, karena sesungguhnya benar/jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan”.
3. عن انس رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم : و الذي نفسي بيده لا يؤمن احدكم حتي يحب لأخيه ما يحب لنفسه. متفق عليه.
“ Demi tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman seseorang sampai dia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.
4. عن ابي موسي رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا و شبك بين أصابعه. متفق عليه.
“ Orang mu’min satu dengan lainnya itu bagaikan sebuah bangunan dimana sebagian saling menguatkan sebagian yang lain, dengan menyilangkan jari-jarinya.”
5. عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : من لا يرحم الناس لا يرحمه الله. متفق عليه.
“ Barangsiapa yang tidak mencintai sesama manusia maka allah tidak akan mencintainya”.

Hadits Tarbawi: IKHLAS BERAMAL

PENDAHULUAN

Dewasa ini banyak sekali kita temukan orang-orang yang pada zohirnya mereka beramal kesana kemari, bersedekah, membantu fakir miskin, membangun mesjid, serta berinfaq ke panti asuhan dan lembaga-lembaga yang berbasis agama seperti pondok pesatren dan sebagainya. namun tanpa disadari maksud dan tujuan mereka bukanlah ikhlas karena Allah dan mengharap keridhoan-Nya, namun untuk menunjukkan kehebatan serta kekayaan mereka bahkan mereka menjadikannya sebagai lahan politik. Hal ini terbukti oleh gencarnya para pejabat yang mengunjungi berbagai lembaga agama dengan kedok bersedekah dan berinfaq, padahal tujuannya adalah agar di anggap baik oleh orang lain dan agar keinginannya terwujud seperti menjadi bupati, gubernur dsb. Kesimpulan ini saya ambil berdasarkan fakta dan bukti. Mereka yang dulu  bersedekah dan berinfaq ketika hari pemilu, sekarang tidak pernah datang lagi dan tidak ada kabar sama sekali, bahkan mungkin melakukan tindak pidana korupsi untuk mengembalikan modalnya, hal ini tidak mustahil dan inilah fakta hari ini. Pada makalah saya ini, saya akan mengemukakan 5 hadits yang berbicara tentang “Ikhlas dalam beramal/ibadah: Kedudukan niat dalam ibadah, Konsistensi (Istiqomah) ibadah serta menjelaskan kandungan dari hadits tersebut agar
Kita semua tahu betapa niat itu menentukan segala amal dan istiqomah dalam beramal itu adalah hal yang paling Allah cintai dengan tujuan menanamkan keikhlasan pada diri kita dalam beramal dan beribadah.

Hadits Tarbawi: KEPEDULIAN LINGKUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.     Latar belakang
Secara naluriah manusia tidak bisa dilepaskan dari makhluk lainnya, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tak mampu hidup sendirian, esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggung jawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan. Kewajiban kebersamaan ini bisa diaplikasikan dengan cara saling menolong, saling menghargai, saling memberi dan hubungan sosial lainnya. Islam merupakan salah satu agama yang sangat menganjurkan berhubungan baik antar sesama, namun pada relitanya banyak orang yang kurang peka terhadap kepedulian sosial ini, sehingga menjadikan tatanan sosial yang tidak seimbang, maka terjadilah perilaku negatif yang membahayakan keterjalinan hubungan sosial antara individu dengan individu yang mengakibatkan kurangnya keharmonisan dalam pergaulan. Maka alangkah ironisnya jika umat Islam antipati terhadap sosial.
Disisi lain seorang muslim mempunyai karakter dan kewajiban yang sama besarnya dengan hablum minallah yaitu hablum minannas atau hubungan dirinya dengan sesama manusia. Hubungan tersebut merupakan hubungan yang lebih kompleks karena hubungan ini melibatkan banyak pihak yang besifat relatif serta penuh dengan dinamika. Oleh sebab harus diingat bawa manusia itu makhluk yang dibekali rasa, karsa dan  periksa. Sehingga segala tindak-tanduknya tak akan terlepas dari ketiga faktor tersebut.

Hadits Tarbawi: DOSA-DOSA BESAR DAN ETOS KERJA

PEMBAHASAN
  1. DOSA-DOSA BESAR
  1. Menyekutukan Allah / Musyrik
ﺣﺪﻳﺙ ﺃﻧﺱ ﺭﺿﻲﺍﷲ ﻋﻧﻪ ﻗﺎﻞ ﺳﺋﻞ ﺭﺳﻭﻝ ﺍﷲ ﺻﻟﻰﺍﷲ ﻋﻟﻳﻪ ﻮﺳﻟﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻛﺑﺎﺌﺭ ﻗﺎﻝ׃ ﺍﻻﺷﺭﺍﻙ ﺑﺎﺍﷲ ﻭﻋﻘﻭﻕ ﺍﻠﻮﺍﻟﺪﻳﻥ ﻭﻗﺗﻝ ﺍﻟﻧﻔﺱ ﻭﺷﻬﺎﺪﺓ ﺍﻟﺯﻭﺮ: (ﺍﺨﺭﺠﻪ ﺍﻟﺑﺨﺎﺭﻯ ﻓﻰ ׃ ٥٢ ـ ﮐﺘﺎﺏ ﺍﻟﺷﻬﺎﺪﺍﺕ ׃١٠ ـ ﺑﺎﺐ ﻣﺎ ﻗﻳﻝ ﻓﻰ ﺷﻬﺎﺪﺓ ﺍﻟﺯﻭﺭ).
  • Arti Hadits
Hadits Anas ra. Dimana ia berkata, “Nabi ditanya tentang dosa-dosa besar, kemudian beliau menjawab: “Syirik (mempersekutukan Allah), durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa (manusia), dan saksi palsu.” (Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam Kitab “Syahadat” bab : apa yang dikatakan dalam saksi palsu).
  • Mufrodat Hadits
Bentuk jamak dari (اَلْكَبِيْرَةٌ) artinya         dosa-dosa besar
:
اَلْكَبَائِرُ
  Durhaka
:
عُقُوْقٌ
  Palsu, miring
:
الزَّوْرَ
  • Urgensi Hadits
Dalam hadits di atas diterangkan empat macam dosa besar, yakni menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa manusia tanpa hak dan menjadi saksi palsu.

Hadits Tarbawi: TANGGUNGJAWAB KEPEMIMPINAN, LARANGAN KORUPSI DAN KOLUSI


A.   LATAR BELAKANG
Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah:30 dijelaskan bahwa Allah swt menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Menjadikan manusia sebagai makhluk yang mulia, yang bertakwa, pemimpin diantara makhluk-makhluk Allah yang lain.Sebagai makluk yang diberi amanah oleh Allah swt, manusia harus bisa menjaga amanah tersebut, dan mempertanggung jawabkan apa yang telah diamanahkan oleh Allah padanya.Sebagai pemimpin manusia, pemimpin negara, bahkan pemimpin bagi keluarganya.
Tanggung jawab pemimpin sangatlah besar, sangat besar bahayanya apabila mereka melalaikan amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka memiliki wewenang dan kekuasaan. Mereka memiliki kekuatan untuk memberlakukan apa yang mereka perintahkan dan mereka larang, dan memaksa manusia untuk melaksanakannya.
Rasulullah saw bersabda “Orang-orang yang bisa diatur oleh kekuasaan lebih banyak daripada yang bisa diatur dengan Al-Qur’an” (disebutkan oleh Ibnu Al Atsir dalam An-Nihayah), yaitu banyak manusia yang tidak terpengaruh dengan nasihat dan petunjuk sehingga mereka tidak takut untuk menyalahi dan tidak tunduk kepada kebenaran, sementara mereka merasa takut jika seorang penguasa mengacungkan tongkat dan menghunuskan pedangnya.
Jika seorang pemimpin tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka para pelaku maksiat akan semakin berani dan bersemangat untuk menyebarkan kejahatan dan kerusakan.
Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surat Al Hajj:41 “(yaitu) orang-orang yang jika kami berikan kedudukan di muka bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” Jika seorang pemimpin melalaikan kewajiban yang agung ini, maka dia telah mengkhianati amanah yang diembankan padanya.
Dan bencana yang paling mengerikan adalah bergelimangnya para penguasa yang menyalahi syari’at, dalam QS. Al-Qasas:41 dijelaskan, “Dan kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka, dan pada Hari Kiamat mereka tidak akan ditolong.”

Hadits Tarbawi: PERSAUDARAAN, TATA PERGAULAN DAN AJAKAN KEPADA KEBAIKAN

PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang harmonis, yang penuh dengan kedamaian, ketenangan dan ketentraman, saling menghormati, menghargai dan membantu antara satu dengan yang lainnya. Semuanya itu tidak akan pernah terwujud, kecuali jika setiap individu yang ada dalam satu masyarakat, menghendaki kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain seperti ia menghendakinya untuk dirinya sendiri. Karena itulah Islam mengaitkan persatuan dengan Iman, bahkan merupakan bagian yang tak terpisahkan. Persaudaraan di dalam islam memilki nilai yang sangat besar, bahkan tidak dikatakan seseorang beriman sehingga dia mencitai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Oleh karena itu memperkokoh pilar-pilar persaudaraan merupakan salah satu tugas penting bagi kita, dan untuk memperkokoh pilar-pilar persaudaraan maka dibutuhkan individu-individu yang memiliki ahklaq yang mulia, hati yang bening bersih dan selamat, karena persaudaraan tidak akan pernah terwujud manakala setiap orang sudah tidak memiliki lagi kemuliaan akhlaq yang terwujud dari kebersihan hati.
 Seperti yang terjadi dengan kondisi sekarang ini dimana manusia berada dalam kegelapan, dimana setiap orang meraba-raba namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih sayang, tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, dunia kita telah berubah menjadi hutan belantara, dimana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja, bahasa bisnis kita adalah persaingan, bahasa politik kita adalah penipuan, bahasa sosial kita adalah pembunuhan, dan bahasa jiwa kita adalah kesepian dan keterasingan. Kita adalah masyarakat sipil yang berwatak militer, kita adalah masyarakat peradaban yang berbudaya primitif, kita adalah manusia-manusia sepi di tengah keramaian dan kita adalah manusia-manusia merana di tengah kemelimpahan.
Pembunuhan, perzinahan, pemerkosaan, penyimpangan sexual, perkelahian antar warga, perkelahian antar pelajar, judi dan mabuk yang meraja lela dimana-mana, praktek riba yang dianggap biasa, korupsi dan kolusi yang membudaya, aborsi, penistaan agama, ghibah, aksi-aksi pornografi dan pornoaksi yang menyebar disetiap media dan lain sebaginya, itulah krisis moral yang sedang melanda kehidupan kita sekarang ini, yang merusak tatanan kehidupan manusia. Semuanya itu terjadi karena manusia-manusia zaman ini telah kehilangan cahaya kehidupan yang dapat membimbing mereka menuju keselamatan dan kebahagiaan.

Hadits Tarbawi: PERILAKU TERCELA

A.BURUK SANGKA
1.Hadits Tentang Buruk Sangka:

حديث عبدالله بن عمر رضي الله عنهما:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: المسلم أخوالمسلم,لايظلمه ولا يسلمه. ومن كان في حاجة أخيه,كان الله في حاجته. ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه كربة من كربات يوم القيامة. ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة. اخرجه البخارى فى:46 كتاب المظالم_3باب لايظلم المسلم ولا يسلمه.1

2.Terjemah Hadits
Hadits Abdullah bin Umar ra., bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tidak halal baginya menganiaya saudaranya atau membiarkan saudaranya teraniaya juga berbuat aniaya. Barangsiapa mau menolong saudaranya, maka Allah SWT. akan menjadi penolongnya. Dan barangsiapa mau meringankan beban saudaranya, niscaya Allah akan meringankan beban-bebannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa mau menutupi aib saudaranya, sungguh Allah akan menutupi aibnya di hari Penghisaban. (HR. Bukhori, hlm. 46 Kitab Madholim_ bab: III/ Larangan Berbuat Dholim).

3.Kata-Kata Inti / Mufrodat
-. لايظلمه: Larangan berbuat dholim karena dihukumi haram
-. لايسلمه : Tidak boleh meninggalkan saudara muslim lainnya dalam kondisi teraniaya, tetapi harus menolongnya.
-. من كان فى حاجة اخيه كان الله فى حاجته : Bahwa Allah akan memberi pertolongan dan rahmat-Nya kepada orang yang mau peduli terhadap sesamanya.
-. كربة : Problematika keduniaan yang memungkinkan hilangnya nyawa seseorang.
-. من ستر مسلما : upaya untuk menutupi aib saudaranya dari orang lain, tetapi di dalam hatinya harus tetap mengingkari perbuatan tercela tersebut.

Hadits Tarbawi: PERSAUDARAAN DAN TATA PERGAULAN

PENDAHULUAN
(الحجرات) اخوة المؤمنون انما
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. (QS. Al-Hujurat : 10)
Dalam syari’at Islam banyak ajaran yang mengandung muatan untuk lebih mempererat tali persaudaraan dan solidaritas sesama umat Islam. Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat, orang yang selalu menyambung silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu. Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak teman dan relasi, sedangkan relasi merupakan salah satu factor yang akan menunjang kesuksesan seseorang dalam berusaha. Selain dengan banyaknya teman akan memperbanyak saudara dan berarti pula ialah meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Hal ini karena telah melaksanakan perintah-Nya, yakni menghubungkan silaturahmi. Bagi mereka yang bertakwa Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap urusannya.
Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum Islam selalu berperang dan bercerai-berai tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama baik lahir maupun batin, mereka dapat bersatu.
Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat, orang yang selalu menyambung silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu.

Senin, 29 Juli 2013

Hadits Tarbawi: Tentang Jihad Fii Sabilillah

BAB I
PENDAHULUAN
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَ ضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم (  مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ. 
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan." (HR. Muttafaq Alaihi)”
َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( جَاهِدُوا اَلْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ, وَأَنْفُسِكُمْ, وَأَلْسِنَتِكُمْ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.
“Dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu." (Riwayat Ahmad dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim)”
Allah ta'ala berfirman:
وَعَدُوَّكُمْ اللَّهِ عَدُوَّ بِهِ تُرْهِبُونَ الْخَيْلِ رِبَاطِ وَمِنْ قُوَّةٍ مِنْ اسْتَطَعْتُمْ مَا لَهُمْ وَأَعِدُّوا
إِلَيْكُمْ يُوَفَّ اللَّهِ سَبِيلِ فِي شَيْءٍ مِنْ تُنْفِقُوا وَمَا يَعْلَمُهُمْ اللَّهُ تَعْلَمُونَهُمُ لا دُونِهِمْ مِنْ وَآخَرِينَ تُظْلَمُونَ لا وَأَنْتُمْ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al Anfal:60)

Jumat, 26 April 2013

Kumpulan Hadits Tarbawi

BAB I
POTENSI ANAK
  1. a.      Hadits   (Al-lu’lu wal Marjan : 1.702)
حديث ابي هريرة رضى الله عنه، قال النبى صلى الله عليه وسلم قال : مامن مولود الا يولد على الفطرة. فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه. كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء. هل تحسون فيها من جدعاء. ثم يقول أبو هريرة رضى الله عنه : فطرة الله التى فطر الناس عليها لاتبديل لخلق الله، ذلك الدين القيم. (رواه بخار و مسلم)
  1. b.      Terjemahannya
“Abu Hurairah berkata:Nabi saw.bersabda:Tiada bayi yang dilahirkan melainkan lahir diatas fitrah,maka ayah bundanya yang mendidiknya menjadi Yahudi,Nasrani atau Majusi,sebagai lahirnya binatang yang  lahirnya lengkap sempurna.Apakah ada binatang yang lahir terputus telinganya? Kemudian Abu Hurairah r.a. membaca : Fitratallahi allati fatharan naasaalaiha,laa tabdila likhalqillahi (Fitrah yang diciptakan Allah pada semua manusia,tiada perubahan terhadap apa yang diciptakan oleh Allah.Itulah agama yang lurus”. (Bukhari,Muslim)
  1. c.       Komentar / Tanggapan
Setiap anak telah memiliki fitrah sejak ia dilahirkan atau suatu potensi yang telah ada di dalam dirinya, orang tuanyalah yang memiliki tanggung tawab untuk mendidik dan menjadikan anaknya seperti apa tergantung kepada kedua orang tuanya. Potensi anak itu sangat bersih bagaikan suatu kertas putih yang belum tercorat-coret oleh tinta. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya ‘Ulumuddin, mengibaratkan anak sebagai permata indah (Jauhar) yang belum diukir, dibentuk dengan ke dalam suatu rupa. Permata itu merupakan amanat Allah yang dititipkan kepada para orangtua. Karena itu, menurut Al-Ghazali, orangtua harus memperhatikan fase-fase perkembangan anaknya dan memberikan pendidikan yang memadai sesuai dengan fase yang ada agar permata yang diamanatkan kepadanya dapat dibentuk rupa yang indah.

Kamis, 07 Februari 2013

HADITS-HADITS TENTANG METODE PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

 Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan. Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. (Anwar, 2003: 42) Rasul saw. sejak awal sudah mencontohkan dalam mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan ajaran Islam. Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah swt. dan syari’at-Nya. Makalah ini akan menyajikan hadis-hadis Nabi saw. tentang metode pendidikan dalam lingkup makro dan mikro, yang dilaksanakan Rasulullah. Hadis-hadis yang berimplikasikan pada metode pendidikan dalam lingkup makro, meliputi; metode keteladanan, metode lemah lembut/kasih sayang, metode deduktif, metode perumpamaan, metode kiasan, metode memberi kemudahan, metode perbandingan. Metode pendidikan dalam lingkup mikro terdiri dari; metode tanya jawab, metode pengulangan, metode demonstrasi, metode eksperimen, metode pemecahan masalah, metode diskusi, metode pujian/memberi kegembiraan, metode pemberian hukuman. 

Hadits Tarbawi: EVALUASI PENDIDIKAN DALAM HADITS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Dalam menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran, nabi SAW juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat, rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agamaatau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, rasulullah SAW sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru.

1.2.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan?

1.3.    Batasan Pembahasan
Dari rumusan masalah diatas, maka dapat diambil batasan pembahasan sebagai berikut?
1.    Menjelaskan tentang evaluasi pendidikan.

Hadits Tarbawi: MOTIFASI PENDIDIKAN DALAM HADITS

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.    Latar Belakang
Kreasi kajian motifasi dalam bidang psikologi menempati posisi penting, tetapi kurang mendapat perhatian dari pakar pendidikan islam. Dapat dibuktikan bahwa teori-teori motifasi umumnya berasal dari barat. Padahal dalam ajaran islam terdapat banyak isyarat-isyarat motifasi untuk peningkatan etos kerja dan belajar. Berbeda dengan barat yang memandang pengkajian motifasi adalah objek kajian yang urgen. Karena dari barat banyak muncul pakar psikologi yang memformulasikan teori-teori motifasi. Tokoh utama bidang motifasi adalah Maslow. Dengan teori kebutuhan. Teori tersebut muncul di latarbelakangi pentingnya peningkatan etos kerja.
Urgensi motifasi dalam peningkatan etos kerja dibuktikan dari kajian-kajian yang telah ada. Misalnya Edmund J. Fredberg, dalam bukunya activation, the core competency, mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya selalu memunculkan kinerja yang menunjukkan tingkat keberhasilan kerjanya. Freedberg memandang kemampuan itu penting, namun ia tidak dapat efektif tanpa pengaktifan.

Hadits Tarbawi: Dasar Pendidikan Dalam Hadits

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan pada era rasulullah SAW sudah jelas dan tidak membutuhkan pembuktian. Dalam al-qur’an di jelaskan bahwa al-qur’an diturunkan supaya tidak ada hujjah bagi orang-orang kafir, sebagai bukti bahwa informasi tentang dzat allah SWT dan segala hukumnya sudah dijelaskan dalam al-qur’an yang dibawa oleh rasulullah SAW.
Sementara hadits ataupun sunnah nabi SAW sebagai hujjah, dapat di temukan dalam al-qur’an yang menyebutkan tentang keteladanan rasulullah SAW, dalam surat al-ahzab ayat 21 al-maraghi menjelaskan, Muhammad SAW merupakan contoh yang paling tinggi, dan teladan yang baik, yang harus diteladani. Meneladani semua amalnya, tentunya hal ini dilakukan terutama bagi ornag yang mengharap rahmat allah dan percaya kepada akhirat.

1.2.    Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat dimabil rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Apa dasar pendidikan yang terkandung dalam hadits?

1.3.    Batasan pembahasan
Dari rumusan masalah diatas, maka materi  pembahasannya adalah sebagai berikut :
1.    Menjelaskan tentang dasar pendidikan dalam Hadits.

Hadits Tarbawi: METODE PENDIDIKAN DALAM HADITS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah (keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri peserta didik, terkait dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani (lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan. Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. (Anwar, 2003: 42) Rasul saw.
 sejak awal sudah mencontohkan dalam mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan ajaran Islam. Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah swt. dan syari’at-Nya. Makalah ini akan menyajikan hadis-hadis Nabi saw. tentang metode pendidikan dalam lingkup makro dan mikro, yang dilaksanakan Rasulullah.

Hadits Tarbawi: PENDIDIKAN UNTUK KAUM WANITA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Citra wanita dalam islam dapat dipikirkan kebanyakan orang, diantara sebagian pakar, dan diantara kaum muslim sendiri, sering jatuh pada dua pandangan ekstrim.
Satu pandangan menyatakan bahwa kaum wanita dalam masyarakat islam tertindas, dan pandangan lain menyatakan bahwa islam memberikan kepada wanita suatu kedudukan yang tidak ada tandingannya dalam agama-agama dan kultur-kultur lain.
Bila dianalisa dalam sejarah, terutama pada era rasul dan masa sahabat, keberadaan wanita sebagai pengembang ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang periwayatan hadits dan hukum islam sangat dipentingkan. Bagaimanapun sepanjang sejarah kehidupan rasul, beliau hidup di dampingi para istri setia beliau. Keberadaan istri rasulullah inilah yang dikemudian hari, bahkan pada masa hidup rasulullah SAW menjadi pilar pendamping pengembang kajian islam, terutama pada masalah-masalah yang tidak memungkinkan rasulullah SAW untuk menjelaskannya.
Dengan demikian pemakalah dalam membuat tugas kelompok ini mengambil judul “PENDIDIKAN UNTUK KAUM WANITA”