STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Akhlaq dan Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Akhlaq dan Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

SEJARAH LAHIRNYA TASAWUF

A. Asal Mula Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Istilah ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. Abdul Hasan Al Fusyandi mengatakan, "Pada zaman Rasulullah saw, tasawuf ada realitasnya, tetapi tidak ada namanya. Dan sekarang, ia hanyalah sekedar nama, tetapi tidak ada realitasnya."
Ilmu tasawwuf menurut Ibn Khaldun merupakan ilmu yang lahir kemudian dalam Islam, karena sejak masa awalnya para sahabat dan tabiin serta generasi berikutnya telah memilih jalan hidayah (berpegang kepada ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi) dalam kehidupannya, gemar beribadah, berdzikir dan aktifitas rohani lainnya dalam hidupnya. Akan tetapi setelah banyak orang islam berkecimpung dalam mengejar kemewahan hidup duniawi pada abad kedua dan sesudahnya, maka orang-orang mengarahkan hidupnya kepada ibadat disebut suffiyah dan mutasawwifin. Insan pilihan inilah kemudian yang mengembangkan dan mengamalkan tasawwuf sehingga diadopsi pemikirannya sampai sekarang ini.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dari Hasan Al Bashri.”
Pernyataan ulama dari kalangan tabi'in ini bisa menjadi acuan bagi kita. Memang benar, tidak ada istilah tasawuf pada zaman Rasulullah saw. Namun, realitasnya ada dalam kehidupan dan ajaran Rasulullah saw, seperti sikap Zuhud, Wara’ , Qona'ah, Taubat, Ridho, Sabar, dll. Kumpulan dari sikap-sikap mulia seperti ini dirangkum dalam sebuah nama yaitu Tasawuf.

Selasa, 05 Maret 2013

Akhlaq Tasawuf: Relasi Fiqih dan Sufisme

ABSTRAKSI
Para sufi dalam masa  sejarahanya memberi kesan dan warna yang berbeda terhadap kancah perjalanan ajaran Islam yang semua itu berimplikasi pada pemahaman tentang Islam. Ada banyak kritikan-kritikan dan tuduhan-tuduhan umum yang ditujukan kepada para sufi entah yang bersifat masih bisa di toleransi bahkan terkadang sikap ekstrim, ada juga kegaguman sementara dari sekian kelompok orang yang mengatas namakan dirinya sebagai orang yang dekat dengan Tuhan atau paling tidak punya keyakinan bahwa merekalah yang mempunyai petunjuk menuju jalan kebenaran. Persepsi itu semua datangnya dari umat Islam itu sendiri.
Para sufi hanya memperdulikan usaha pengembangan batin dan tertarik dengan dunia yang tak kasat mata serta melalaikan hukum Islam dan mencaci dunia lahir. Ajaran Islam bersifat multidimensional dan mencakup setiap aspek dari kehidupan baik batin maupun lahir, karena manifestasi dari kesemuanya itu adalah merupakan bagian dari realitas yang satu.

PENDAHULUAN
Terdapat satu faktor penyatu fundamental di balik seluruh dunia yang kasat dan yang tak kasat. Pembedaan terhadap dunia lahir dan batin, atau kasar dan halus adalah untuk tujuan pembedaan intelektual atau praktis sebagaimana membedakan macam-macam warna dalam satu horizon. Manusia memiliki rasa dan kecendrungan yang berbeda-beda dan karenanya sebagian mereka ada yang lebih memperhatikan aspek-aspek ritual ajaran Islam dan sebagian lagi lebih memperhatikan nilai-nilai atau aspek filosofisnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa perlu adanya keseimbangan karena setiap manusia meliputi realitas batin dan lahir dan keduanya sama-sama memerlukan perawatan dan pemeliharaan. Perhatian yang berlebihan hanya terhadap satu aspek dapat memperlemah aspek yang lainnya dan akibat yang ditimbulkannya adalah terjadinya disharmonisasi dalam seseorang dan prinsip yang sama juga berlaku bagi masyarakat dan lingkungan alam
Ketika disharmoisasi itu lahir maka akan terjadi benturan-benturan antara pemikir keagamaan ortodok dan para sufi yang hal itu di sebabkan karena semata-mata pembedaan pengalaman eksistensial hidup mereka serta pemahaman terhadapnya dan oleh karenanya juga tindakan-tindakan dan kebiasaan tingkah laku mereka meskipun kedua kelompok sama-sama mengklaim telah menjalankan ajaran Islam. Benturan-benturan ini bersifat dan seringkali membentuk sebuah siklus yang menandakan adanya dualitas dan polaritas antara Syari’ah dan haqiqah.

Senin, 04 Maret 2013

PENDIDIKAN AKHLAK

1. PENGERTIAN PENDIDIKAN AKHLAK

Dalam pengertian pendidikan akhlak ini dijelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian pendidikan dan pengertian akhlak.
a. Pengertian Pendidikan
Secara etimologi, pengertian pendidikan yang diberikan oleh ahli. John Dewey, seperti yang dikutip oleh M. Arifin menyatakan bahwa pendidikan adalah sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional) menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa.[1]
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang diarahkan untuk mematangkan potensi fitrah manusia, agar setelah tercapai kematangan itu, ia mampun memerankan diri sesuai dengan amarah yang disandangnya, serta mampu mempertanggung jawabkan pelaksanaan kepada Sang Pencipta. Kematangan di sini dimaksudkan sebagai gambaran dari tingkat perkembangan optimal yang dicapai oleh setiap potensi fitrah manusia.[2]
Dalam Islam, pada mulanya pendidikan disebut dengan kata “ta’dib”. Kata “ta’dib” mengacu kepada pengertian yang lebih tinggi dan mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Akhirnya, dalam perkembangan kata-kata “ta’dib” sebagai istilah pendidikan hilang dari peredarannya, sehingga para ahli didik Islam bertemu dengan istilah at tarbiyah atau tarbiyah, sehingga sering disebut tarbiyah. Sebenarnya kata ini asal katanya adalah dari “Rabba-Yurobbi-Tarbiyatan” yang artinya tumbuh dan berkembang.[3]
Walaupun dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara jelas tentang definisi pendidikan, namun dari beberapa ayat dapat ditemukan indikasi ke arah pendidian, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. 17/Al-Isra : 24 :
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَياَّنِيْ صَغِيْرًا.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka mendidik aku waktu kecil”. (Q.S. al-Isra : 24)[4]

Sabtu, 09 Februari 2013

Akhlaq Tasawuf: MAQAMAT DAN AHWAL , FANA’ DAN BAQA’

 A. PENDAHULUAN

Tujuan akhir dari perjalanan sufi adalah untuk mengenal dan berada sedekat mungkin dengan Allah dan sekaligus disana akan diperoleh kebahagiaan yang hakiki. Jalan yang harus ditempuh agar bisa sampai disana, menurut Al-Ghazali, disamping harus mengamalkan seluruh ajaran syariat, juga harus menempuh jalan panjang yang berjenjang atau al-maqamat.

Dikalangan sufi orang pertama yang membahas masalah al-maqamat barangkali adalah Haris Ibnu Asad al-Muhasibi (w. 243 H). Ia digelari al-Muhasibi karena kegemarannya melakukan muhassabah atau intropeksi diri. Menurutnya, perhitungan dan perbandingan terletak diantara keimanan dan kekafiran, antara kejujuran dan kekhianatan, antara tauhid dan syirik serta antara ikhlas dan riya. Hampir satu angkatan dengannya muncul al-Surri al-saqathi (w.257 H) dengan pendapatnya, ada empat hal yang harus ada dalam kalbu seseorang, yaitu rasa takut hanya kepada Allah, rasa harap hanya kepada Allah, rasa cinta hanya kepada Allah dan rasa akrab hanya kepada Allah. Kemudian tampil pula Abu Sid al-Kharraz (w. 277 H) dengan formasi lengkap serial dan fase perjalanan sufi.[1]

Siapapun yang pertama menyusun al-maqamat tidaklah dipermasalahkan, tetapi yang pasti adalah bahwa sejak abad tiga hijriah setiap orang yang ingin mencapai tujuan tasawuf atau ingin menjadi sufi, ia harus menempuh jalan yang berat dan panjang, melakukan berbagai macam latihan amalan, baik yang bersifat amalan lahiriah maupun amalan bathiniyah. Kendatipun pengetahuan ketasawufan itu pada dasarnya bersifat refetatif, namun dapat dipelajari melalui tahapan-tahapan tertentu yang disebut al-maqamat. Apakah tujuannya hanya sekedar ingin mendekatkan diri kepada Allah , ataukah tujuan ma’rifah dan mahabbah, ataukah sampai pada ittihad, setiap orang harus melalui tahapan-tahapan tadi. Penamaan jenjang-jenjang itu adalah karena sifatnya yang mapan atau langgeng. Artinya seorang salik harus mapan lebih dahulu pada satu tingkat, baru ia boleh beralih ketingkat berikutnya, kondisi kejiwaan pada saat peralihan itu disebut al-hal.[2]

Hubungan Ilmu Kalam, Tasawuf dan Filsafat

BAB 1
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf adalah ilmu yang dilahirkan dari persentuhan umat Islam dengan berbagai masalah sosiocultural yang dihadapi oleh masyarakat sedang berkembang kala itu mencari dan mempertahankan kebenaran. Dari itu pula lahirlah para pakar dunia yang telah berhasil mempertahankan kebenara mereka masing- masing, walaupun dengan cara atau jalan yang ditempuh berbeda. Maka dari itu. Pada makalah ini akan memebahas hakekat Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Filsafat beserta hubungan ketigannya agar para pembaca mengetahui dan memahami hakikat ketiganya serta hubungan ketiganya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa hakekat Ilmu Kalam itu?
2. Apa hakekat Tasawuf itu?
3. Apa hakekat Filsafat dan itu?
4. Bagaimana hunbungan Ilmu Kalam, tasawuf, dan filsafat?

C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Mengetahui dan memahami hakekat ilmu kalam
2. Mengetahui dan memahami hakekat tasawuf
3. Mengetahui dan memehami hakekat Filsafat
4. Mengetahui dan memahami hubungan Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Filsafat

Akhlaq Tasawuf: PERBANDINGAN FILSAFAT DAN MISTISME

“Ilmu kita harus selalu disesuaikan dengan al Qur’an dan sunnah. Maka barang siapa yang tidak menghafal al Qur’an dan tidak menulis Hadis, maka ia dianggap belum paham tentang agama dan tidak layak dijadikan qadhi (hakim).” (Junaid Al-Bagdadi)[1]
A.Pendahuluan
Surah yang paling mulia dalam al Qur’an adalah surah al Fatihah, maka dapat dikatakan bahwa do’a yang paling penting ialah do’a yang terdapat dalam al Fatihah Tunjukilahk kami jalan yang lurus. (QS. [1]: 6). Kenapa kita harus memohon ash Shiraath al Mustaqiim ? pentingkah? Karena ash Shiraath al Mustaqiim adalah jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala. “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. [1]: 7).

Di dalam Surah an Nisa’ ayat ke-69, disebut bahwa orang-orang yang telah mendapat nikmat ialah para Nabi, ash Shiddiqiin, asy Syuhada’, dan ash Shalihin. Agar Allah menempatkan kita kelak bersama dengan mereka, maka kita harus mentaati Allah dan Rasul-Nya (al Qur’an dan Hadis). Namun dalam memahami al Qur’an dan Hadis, kadang terjadi perbedaan dan silang pendapat, maka Nabi saw memberi petunjuk.
قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ فَقَالَ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“…Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di tengah-tengah kami. Beliau memberi nasihat yang sangat menyentuh, membuat hati menjadi gemetar, dan airmata berlinangan. Lalu dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan nasihat kepada kami satu nasihat perpisahan, maka berilah kami satu wasiyat,’ beliau bersabda, ‘Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski kepada seorang budak Habasyi. Dan sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat dahsyat, maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham, dan jangan sampai kalian mengikuti perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya semua bid’ah itu adalah sesat’.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Addarimi).[2]

Akhlaq Tasawuf: AL HULUL

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam sebagai agama atau ajaran yang tidak hanya mengajarkan masalah-masalah eksternal dalam membimbing manusia untuk mengetahui jalan hidup yang harus dilalui, tapi juga mengajarkan hal-hal yang bersifat internal dalam sisi-sisi humanis dengan teologi dan implementasinya, telah diinterprestasikan oleh pemeluknya dengan berbagai wacana dan pergulatan pemikiran yang sangat beragam.
Salah satu pemikiran yang paling rawan dalam konflik adalah pemikiran-pemikiran Tasawuf. Pembahasan Tasawuf adalah pembahasan yang banyak berkutat dengan hal-hal yang metafisik. Sehingga dibutuhkan penguasaan metodologi dan pengalaman langsung untuk memudahkan kita menjelaskan apa yang sebenarnya dialami tokoh-tokohnya saat menuangkan gagasan dan tindakannya sebagai manifestasi keyakinannya.
Dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan sedikit tentang pemikiran dan ajaran Tasawuf  “Al Hulul”. Semoga dari apa yang penulis akan paparkan bisa menambah wawasan kita tentang masalah-masalah spiritual keagamaan. Terutama dalam agama Islam.

Kamis, 24 Januari 2013

AKHLAQ TASAWUF

A.    Pengertian Akhlak
Menurut Ustadz Manshur Ali Rozaq dalam buku yang berjudul Ta’amilati Fi Filsalafati Akhlak, bahwa akhlak berbentuk jama’ dari khuluqun/khulqun. Secara Etimologi akhlak itu mengandung beberapa pengertian, antara lain : tabiat (at-thobiah) atau watak, perangai (as-ajjiyah), kebiasaan (al-‘adah), keperwiraan (al-muniah), agama (ad-din).
a.       Tabiat tidak bisa diubah hanya kemungkinan kecil saja, watak/tabiat menurut orang jawa ditentukan oleh hari lahirnya. Watak berbeda dengan watuk (batuk), watuk bisa diobati, sedangkan watak tidak.
b.      Perangai, hampir mirip dengan watak, menurut ahli jiwa, perangai bisa dilihat dari wajah.
c.       Kebiasaan (al-‘adah) dengan mengawali dari hal-hal yang bermanfaat, nantinya akan menjadi akhlak, suatu saat hal walaupun berat tetapi ada kemauan untuk merubah suatu saat akan menjadi kebiasaan[1]
d.      Keperwiraan adalah penampilan “maju terus pantang mundur”, dan “sedikit bicara banyak bekerja”.
e.       Agama yang diikuti dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya akan membentuk akhlak.
Secara terminologi beberapa ulama memberikan definisi pengertian akhlak yang berbeda-beda, antara lain:
·        Menurut Ibnu Maskawaih:
ٲلخلق حال للنفسىدعيۃلهاألى أفعالها من غيرذكرورعية
“Akhlak adalah keadaan jiwa (seseorang) yang menolongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatannya tanpa pertimbangan fikiran lebih dahulu”
·        Menurut Al-Ghozali:
الخلق عبارةعن هيئة فى النفس راسمة عنها تصدرالافعال بسهولة ويسرمن غير حاجة الى فكروروئسة
 “Akhlak adalah suatu sifat ungkapan dari sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan dengan mudah dan tidak membutuhkan pemikiran”.

Minggu, 04 November 2012

PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN

A. Riwayat Hidup ( Biografi ) Fazlur Rahman
Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan.[1] Fazlur Rahman di besarkan dalam madzhab Hanafi. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya, meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah.
Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Qur’an walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang menolak pemikiran modern, bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan. [2]
Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India, Darul Ulum Deoband . Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum, ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat dengan Ayahnya, ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih, Ilmu kalam, Hadits, Tafsir, Mantiq, dan Filsafat. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini, ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg. Disertasi itu merupakan terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt, milik filosof muslim kenamaan abad ke-7, setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958. ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. Gill University Kanada di Montreal. [3] Dimana dia menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy.

AKHLAQ DALAM ISLAM


Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya suatu bangsa dan masyarakat, tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik (berakhlak), akan sejahteralah lahir batinnya, akan tetapi apabila akhlaknya buruk (tidak berakhlak), rusaklah lahirnya dan batinnya.
Seseorang yang berakhlak mulia, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan hak yang harus diberikan kepada yang berhak, dia melakukan kewajibannya terhadap dirinya sendiri, yang menjadi hak dirinya, terhadap Tuhannya, yang menjadi hak Tuhannya, terhadap makhluk yang lain, terhadap sesama manusia, yang menjadi hak manusia lainnya, terhadap makhluk hidup lainnya, yang menjadi haknya, terhadap alam dan lingkungannya dan terhadap segala yang ada secara harmonis, dia akan menempati martabat yang mulia dalam pandangan umum. Dia mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, dan menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela, dia menempati kedudukan yang mulia secara obyektif, walaupun secara materiil keadaannya sangat sederhana.
A. Definisi Akhlak
Ada banyak sekali definisi mengenai akhlak yang dikemukakan oleh para ahli ilmu akhlaq. Sekalipun begitu, pengertian akhlaq tetap terpaku pada satu titik point yaitu tingkah laku.
Akhlak menurut arti bahasa sama dengan adab, sopan santun, budi pekerti atau juga etika.
Menurut pengertian para ilmu akhlaq, akhlaq ialah suatu keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatan seseorang dengan mudah.

Selasa, 09 Oktober 2012

IBN ‘ARABI DAN WAHDATUL WUJUD

I. PENDAHULUAN
Doktrin Ibn ‘Arabi tentang Wahdatul Wujud telah mewarnai keragaman pemikiran tentang sufistis. Dan juga merupakan tokoh tasawuf yang fenomenal dalam peradaban Islam. Pemikirannya juga spiritualis yang berkelahiran Spanyol kali ini menghentak-hentak kesadaran dan kemapanan. Terlebih tema-tema yang diusung menyangkut hakikat dan makna hidup yang tak pernah berhenti. Karena terpinggirkannya pemikiran dan ajaran Ibn ‘Arabi adalah terbatasnya para pengikutnya dan literatur yang tersebar dan karakteristik dengan bahasa agama yang berbenturan dengan bahasa budaya perpaduan dan tradisi tasawuf dengan mengekspresikan pengalaman, penghayatan komitmen dan konsep keragaman dimensi metafisis transendental.
II. PEMBAHASAN
A. Biografi Ibn al-‘Arabi
Muhyi-d-din Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn al-Arabi al-Hatimi ath-Tha’i al-Andalusi, yang telah terpilih untuk menjadi simbol kesucian Muhammad yang dilahirkan di Murcle, Andalusia, Spanyol. Pada abad 27 Ramadhan 560 atau 7 Agustus 1165 di lingkungan keluarga yang berketurunan Arab. Dan kegiatan duniawi beliau yang amat banyak jumlahnya dan berakhir pada 28 Rabi’utsani 638 atau 16 November 1246. Dan dia dalam suatu perjalanannya panjang dia telah membawa beliau dari Sevilla, tempat keluarganya bermukim pada 568/1173 sampai di Damas, tempat peristirahatan terakhir beliau sampai sekarang masih dikunjungi orang-orang peziarah. Pada tahun 578 Ibn al-Arabi mulai belajar agama dengan usia yang masih muda. Beliau mempelajari al-Qur’an di bawah bimbingan Ibn Safi al-Lakhimi (meninggal 589/1189) yang mengajarkan haditsnya.[1]
Selama menetap di Seville, Ibn al-Arabi dengan memanfaatkan perjalanannya untuk mengunjungi para sufi dan sarjana terkemuka. Salah satu kunjungannya yang sangat mengesankan ialah ketika berjumpa dengan Ibn Rusyd (w. 595 / 1198) di Cordova. Percakapannya dengan filsuf besar ini membuktikan kecermelangannya yang luar biasa dalam wawasan spiritual dan intelektual. Di antara guru-guru spiritual Ibn al-Arabi terdapat dua wanita lanjut usia : Yasamin (sering pula disebut dengan Syams) dari Marchena dan Fatimah dari Cordova. Ia sangat mengagumi kedua wanita itu dan mengakui jasa mereka dalam memperkaya kehidupan spiritualnya. Pada perjalanannya tahun 590/1193 dia mengadakan perjalanan itu pertama kali Ibn al-‘Arabi ke semenanjung Iberia. Di sana dia belajar Khal al-Na’ Laya (melepas dua sandal) oleh Ibn Qasi, pemimpin sufi yang melakukan pemberontakan terhadap dinasti al-Munabbitin di Algerve. Ia kemudian menulis karya dengan berbagai komentar. Dan yang sama ia juga mengunjungi ‘Abd al-Aziz al-Mahdawi, dengan dikirimnya ruh al-Quds, al-Kinani, guru al-Mahdawi, dengan ajaran al-Kumi dan al-Mawruri.[2]

ABU YAZID AL-BISTHAMI

A. Pendahuluan
Dalam pergerakannya, tasawuf merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sejajar dengan ilmu pengetahuan lain. Tasawuf lebih banyak berbicara persoalan bagaimana manusia mampu menembus dan menangkap ilmu pengetahuan langsung dari sumbernya yakni dari Tuhan, dan tasawuf juga lebih banyak berbicara tentang kesalehan, etika (akhlak) dan bagaimana manusia bisa berhubungan secara intens atau bisa berhubungan secara langsung dengan sang khaliq (Tuhan).
Pada abad ketiga dan keempat tasawuf sebagai bentuk atau pola keberagamaan umat Islam, mengalami kejayaan dan kemajuan yang sangat signifikan. Dalam hal ini bisa kita lihat yang semula pemikiran tasawuf di dominasi pola pikir tekstual, dalam hal ini yang melekat di kalangan kaum / faham sunni (tasawuf sunni) pola pikir tersebut mulai terkikis, dan pola pikir tasawuf mulai condong pada pola pikir yang berbau filsafat, dalam hal ini melahirkan faham tasawuf falsafi. Unsur-unsur filsafat dalam tasawuf ini bisa kita cermati dari lahirnya konsep seperti al-fana dan al-baqa dan konsep tersebut melahirkan beberapa istilah seperti : ma’rifat, hulul, cinta, wahdat al-wujud dan ittihad, yang masing-masing teori atau konsep ini sesuai dengan pemahaman dan pengalaman dari masing-masing tokoh, akan tetapi memiliki esensi yang sama.
Sebagaimana Abu Yazid al-Bisthami, sebagai salah satu tokoh yang sangat populer di kalangan sufi yang condong pada pemikiran falsafi di mana beliau yang pertama kali melahirkan konsep al-fana dan al-baqa serta konsep ittihad. Ia juga pionir aliran eksotik (‘mabuk’) dalam sufisme. Ia juga dikenal karena keberaniannya dalam mengekspresikan peleburan mistik menyeluruh kepada ketuhanan.[1]

Rabu, 03 Oktober 2012

AKHLAQ TERCELA

I. PENDAHULUAN
Membahas dan menghilangkan sifat-sifat tercela ini bagi mahasiswa maupun di kalangan masyarakat umum sangatlah penting, karena dengan kita mengetahui sifat-sifat ini kita dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal tersebut. Ini termasuk usaha tahliyyah mengosongkan / membersihkan diri dan jiwa lebih dahulu sebelum diisi dengan sifat-sifat terpuji. Sifat tercela in adalah terjemahan dari pada bahasa arab “sifahul mazmumah”, artinya sifat-sifat yang tidak baik yang tidak membawa seseorang manusia kepada pekerjaan-pekerjaan atau akibat-akibat yang membinasakan.
Imam Ghazali menyebut sifat-sifat tercela ini dengan sifat-sifat muhkilat, yakni segala tingkah laku manusia yang dapat membawanya kepada kebinasaan, sifat-sifat yang tercela ini beliau sebut juga sebagai suatu kehinaan. Pada dasarnya sifat-sifat yang tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu maksiat lahir dan maksiat batin.
Maksiat lahir adalah segala sifat yang tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir seperti mulut, tangan, mata dan lain-lain. Sedangkan maksiat batin adalah segala sifat yang tercela yang diperbuat oleh anggota batin, yaitu hati.[1]
II. PEMBAHASAN
A. Buruk Sangka (Suuzhan)
Buruk sangka adalah merupakan suatu perbuatan yang timbulnya dari lidah, tidak ada buruk sangka terhadap seseorang, jika lidah tidak bicara / mengata-ngatai.
Sesungguhnya prasangka buruk terhadap seorang muslim disertai fakta yang benar merupakan kendaraan melalui jalan yang kasar dan aib, serta dapat menjadi wabah kemadlaratan bagi masyarakat Islam. Prasangka buruk bukanlah suatu dosa bila hanya bisikan hati sesaat dalam jiwa manusia.[2]

SYEIKH HAMZAH AL-FANSURI

A. PENDAHULUAN
Hampir semua penulis sejarah Islam mencatat bahwa Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Syamsuddin Sumatrani adalah termasuk tokoh sufi yang sefaham dengan al-Hallaj, faham hulul, ittihad, mahabbah dan lain-lain adalah seirama. Syeikh Hamzah Fansuri diakui salah seorang pujangga Islam yang sangat populer di zamannya, sehingga kini namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesusasteraan Melayu dan Indonesia, namanya tercatat sebagai tokoh kaliber besar dalam perkembangan Islam di Nusantara dari abadnya hingga ke abad kini.
Pokok permasalahan yang dibahas dalam makalah ini sebagai berikut :
1. Biografi dan karya-karyanya
2. Pemikiran dari tokoh-tokohnya
B. PEMBAHASAN
1. Biografi
Syeikh Hamzah Fansuri adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 sampai awal abad ke-17. Nama gelar atau takhallus yang tercantum di belakang nama kecilnya memperlihatkan bahwa pendekar puisi dan ilmu suluk ini berasal dari Fansur, sebutan orang-orang Arab terhadap Barus, sekarang sebuah kota kecil di pantai barat Sumatra yang terletak antara kota Sibolga dan Singkel sampai abad ke-16 kota ini merupakan pelabuhan dagang penting yang dikunjungi para saudagar dan musafir dari negeri-negeri jauh.
Sayang sekali bukti-bukti tertulis yang dinyatakan kapan sebenarnya Syeikh Hamzah Fansuri lahir dan wafat, di mana dilahirkan dan di mana pula jasadnya dibaringkan dan di tanam, tak dijumpai sampai sekarang.[1] Dari syair dan dari namanya sendiri sudah sekian lama berdominasi di Fansur, dekat Singkel, sehingga mereka dan turunan mereka pantas digelari Fansur. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri, ayah dari Abdur Rauf Singkel Fansuri. Pada ahli cenderung memahami dari syair bahwa Hamzah Fansuri lahir di tanah Syahmawi, tapi tidak ada kesepakatan mereka dalam mengidentifikasikan tanah Syahmawi itu, ada petunjuk tanah Aceh sendiri ada yang menunjuk tanah Siam, dan bahkan ada sarjana yang menunjuk negeri Persia sebagai tanah yang di Aceh oleh nama Syamawi.[2]

AL-HALLAJ

I. PENDAHULUAN
Al-Hallaj adalah sufi terkemuka dari abad ke-9 (3 H). kehidupannya, pengembaraannya dan pandangan hidupnya serta faham tasawufnya, semuanya telah menggegerkan dunia fiqih. Beratus ulama fiqh menentangnya dan beratus pula membelanya.
Dia dihukum mati dengan kejam sekali, karena ajarannya dipandang oleh ulama-ulama dizamannya merusak kepada pokok kepercayaan Islam. Pendekatannya asal saja orang menyelami perkembangan ilmu tasawuf dalam Islam orang senantiasa akan bertemu dengan al-Hallaj.
Dalam makalah ini akan mencoba menjelaskan tentang perjalanan hidup al-Hallaj dan ajaran yang seperti apa yang akhirnya membawa al-Hallaj dalam kematian.
II. PEMBAHASAN
A. Biografi
Nama lengkapnya al-Hallaj adalah Abu al-Mughits al-Husain bin Mansur bin Muhammad al-Baidhawi, lahir di Baida, sebuah kota kecil di wilayah Persia, pada tahun 244 H/858 M.[1] dan dia mulai dewasa di kota Wasith, dekat Baghdad. Ketika usia 16 tahun, yaitu di tahun 260 H (873 M), dia telah pergi belajar pada seorang sufi yang besar dan terkenal, yaitu Sahl bin Abdullah al-Tusturi di negeri Ahwaaz.[2] Selama 2 tahun lamanya dia belajar kepada sufi besar itu. Sehabis belajar dengan Tusturi, dia berangkat ke Basrah dan belajar kepada Sufi ‘Amar al-Makki, di tahun 264 H (878 M) dia masuk ke Baghdad dan belajar kepada al-Junaid. Setelah itu dia pun pergi mengembara dari satu negeri ke negeri lain, menambah pengetahuan dan pengamalan dalam ilmu tasawuf. Sehingga tidak ada lagi seorang syeikh ternama, semua telah dijelangnya dan dimintanya fatwa dan tuntutannya. Dan tiga kali dia naik Haji ke Mekkah.[3]
Saat pergi ke Mekkah untuk pertama kalinya dalam rangka menunaikan ibadah haji, dan kembali ke Baghdad, mulailah ia memperoleh murid atau pengikut yang semakin lama semakin banyak. Ia juga melakukan perlawatan ke berbagai negeri, seperti Ahwaz, Khurasan, Turkistan, dan bahkan juga ke India. Dimanapun ia berada, ia melaksanakan dakwah, mengajak umat agar mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian pengikut-pengikutnya yang dikenal dengan sebutan Hallajiyah, makin bertambah besar. Para pengikutnya itu yakin bahwa ia adalah seorang wali, yang memiliki berbagai kekeramatan.

Selasa, 02 Oktober 2012

WAHDATUL WUJUD PANTEISME SPIRITUAL

I.PENDAHULUAN
Tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dan dekat dengan Tuhan, sehingga dirasakan bahwa seseorang sedang berada di hadirat-Nya. Ajaran tasawuf yang berkembang pada masa permulaan dapat dikategorikan sebagai mistik pertama, tipe ini sangat identik dengan paham wahdatul wujud atau wujudiyah, yang merupakan pengembangan teori Tajaliyah Ibn Arabi. Doktrin wahdatul wujud terpusat pada ajaran tentang penciptaan alam, dan manusia melalui penampakan diri Tuhan dalam tuju martabat. Ajaran tasawuf yang dianut umat Islam mempunyai pandangan yang bercorak panteisme. Teori-teori yang diajarkan oleh berbagai macam aliran tasawuf baik teori wahdatul wujud atau yang lain semuanya bersifat panteisme. Pandangan ini merupakan hasil dari konsepsi filsafat disebut monoisme, yaitu konsepsi yang berpendapat bahwa Tuhan dan alam adalah satu.

II.PEMBAHASAN
A.Wahdatul Wujud “Panteisme Spiritual”
Panteisme atau wahdatul wujud (bersatunya kembali manusia dengan Tuhan) bersumber pada filsafat monoisme (Tuhan dan alam adalah tunggal) dengan cara emanasi atau al-faid (pancaran) dari Tuhan terjelmalah universum (alam semesta) yang serba aneka.
Tasawuf panteisme adalah tasawuf yang berpendapat bahwa hanya ada satu semata yaitu wujud Allah, bentuk jamak yang terlihat dari alam ini adalah ilusi yang menguasai keterbatasan akal budi. Ringkasnya wujud adalah satu tidak jamak.

B.Tasawuf dan Panteisme
Tumbuhnya gerakan panteisme di Andalusia dimulai dengan terdapatnya benih-benih panteisme tasawuf yang terdapat di sana. Tasawuf panteisme dari Andalusia atau kawasan Islam bagian barat melebarkan sayapnya ke bagian timur lewat tangan Ibnu Arabi dan Ibnu Sab’in.
1.Kesatuan wujud menurut Ibnu Arabi
Dalam teorinya tentang wujud Ibnu Arabi mempercayai terjadinya emanasi yaitu Allah menampakkan segala sesuatu dari wujud ilmu menjadi wujud materi. Ibn Arabi menginterpretasikan wujud segala yang ada sebagai Teofani abadi yang tetap berlangsung dan tercampaknya yang maha benar di setiap saat dalam bentuk yang terhitung bilangannya.
Ibnu Arabi mengemukakan tentang teori manusia sempurna atau hakekat Muhammad yang berdasarkan pada kesatuan wujudnya manusia. Menurut Ibnu Arabi adalah alam seluruhnya, karena Allah ingin melihat substansinya dalam alam seluruhnya yang meliputi seluruh hal yang ada yaitu karena hal ini bersifat wujud. Kemunculan manusia sempurna menurut Ibn Arabi adalah esensi kecenangan cermin alam. Pendapat Ibn Arabi tentang manusia sempurna atau hakekat Muhammad membuatnya sampai pada pandangan tentang kesatuan agama, sebab sumber agama itu satu, yaitu hakekat Muhammad, agama adalah tunggal dan semua itu adalah kepunyaan Allah.

Senin, 01 Oktober 2012

PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK

Di dalam Al-Qur’an telah ada dasar-dasar pendidikan akhlak anak yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak-anak yang terdapat di dalam surat Luqman :
1. Akhlak kepada Allah SWT terdapat Q..S. 31/Luqman : 13 :
وَاِذْقَالَ لُقْمنَ لاِبْنِه وَهُوَبَعِظُه يبُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ ط إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (Q.S. Luqman : 13)[1]
Berdasarkan ayat tersebut di atas mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya, kemudian anak-anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan shalat, sehingga terbentuk manusia yang senantiasa mengingat dan kontak dengan penciptanya, seperti disebutkan dalam Q.S. 31/Luqman : 17 :
يبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلى مَا اَصَابَكَ ط اِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman : 17)[2]
2. Akhlak Kepada Orang Tua
Dalam Q.S. 31/Luqman : 14
وَوَ صَّيْنَا اْلاِنْسنَ بِولِدَيْهِ. حَمَلَتْهُ اُمُّه وَهْنًا عَلى وَهْنٍ وَّفِصلُهُ فِى عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لىِ وَلِولِدَيْكَ ط اِلَىَّ الْمَصِيْرُ.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman : 14)[3]

Jumat, 02 Maret 2012

Macam-Macam Thoriqoh dan Ajarannya

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
“Zuhhad” (orang-orang yang berperilaku zuhud), ”nussak” (orang-orang yang berusaha melakukan segala ajaran agama) atau “ubbad” (orang yang rajin melaksanakan ibadah). Lama kelamaan cara kehidupan rohani yang mereka tempuh, kemudian berkembang menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih murni, bahkan lebih mendalam yaitu berkehendak mencapai hakekat ketuhanan dan ma’rifat (mengenal) kepeda Allah SWT. yang sebenar-benarnya, melalui riyadloh (laku prihatin), mujahadah (perjuangan batin yang sungguh-sungguh), mukasyafah (tersingkapnya tabir antara dirinya dan Allah), musyahadah (penyaksian terhadap keberadaan Allah) atau dengan istilah lain, laku batin yang mereka tempuh di mulai dengan ”takhalli” yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela, lalu ”tahalli” yaitu menghiasi hati dengan sifat yang terpuji, lalu ”tajalli” yaitu mendapatkan pencerahan dari Allah SWT.
Tata cara kehidupan rohani tersebut kemudian tumbuh berkembang dikalangan masyarakat Muslim, yang pada akhirnya menjadi disiplin keilmuan tersendiri, yang dikenal dengan sebutan ilmu “Tashawuf”. Sejak munculyna Tashawuf Islam di akhir abad kedua hijriyah, sebagai kelanjutan dari gerakan golongan Zuhhad, muncullah istilah “Thoriqoh” yang tampilan bentuknya berbeda dan sedikit demi sedikit menunjuk pada suatu yang tertentu, yaitu sekumpulan aqidah-aqidah, akhlaq-akhlaq dan aturan-aturan tertentu bagi kaum Shufi. Thoriqoh adalah salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah paktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thoriqoh dari generasi ke generasi sampai kita sekarang. Akhirnya muncul aliran-aliran thoriqoh yang mengambil nama dari tokoh-tokoh sentral aliran tersebut, seperti Qodiriyah, Rifa’iyyah, Syadzaliyyah, Dasuqiyyah/Barhamiyyah, Zainiyyah, Tijaniyyah, Naqsabandiyyah, dan lain sebagainya.

Konsep dan Ajaran-Ajaran Tasawuf Serta Tokohnya

A. KONSEP TASAWUF
Ada tiga hal permasalahan besar yang dibicarakan oleh semua agama dunia ini. Pertama, tentang Tuhan, kedua tentang manusia dan yang ketiga tentang dunia. Masing-masing agama mempunyai konsep atau ajaran sendiri-sendiri tentang ketiga hal tersebut. Sementara islam, dan lebig spesifik lagi tasawuf, mempunyai konsep tersendiri tentang tiga hal tersebut.
1. Konsep Ketuhanan Dalam Tasawuf
Hampir semua umat manusia mempercayai adanya tuhan yang mengatur alam ini. Orang-orang yunani kuno menganut paham politehisme (keyakinan banyak tuhan), bintang adalah tuhan (dewa), venus adalah tuhan kecantikan, mars adalah dewa peperangan, minerva adalah dewa kekayaan. Sedangkan tuhan tertinggi adalah apollo atau dewa matahari.
Orang-orang hindu masa lalu juga mempunyai banyak dewa yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Keyakinan itu tercermin antara lain dalam hikayat mahabarata. Pengaruh keyakinan tersebut merambah ke masyarakat arab, walaupun jika ditanya tentang penguasa dan pencipta langit dan bumi mereka menjawab Allah (Q.S. Azzumar:38)

HATI DAN JIWA DALAM PERSPEKTIF PARA AHLI TASAWUF

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagaimana ilmu yang lain, tasawufpun mempunyai objek atau lapangan dan sasaran pembahasannya sendiri. Yang menjadi objek pembahasan tasawuf  ialah  jiwa manusia. Tasawuf  membahas tentang sikap jiwa manusia dalam berhubungan dengan Allah dan sikapnya dalam berhubungan dengan sesama makhluk. Dalam hal ini tasawuf  ingin membersihkan hati itu dari sifat-sifat buruk dan tercela dalam rangka hubungan tersebut. Bila hati sudah suci dan bersih dari noda kotoran, niscaya akan baiklah kehidupan manusia itu, seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya: “ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, bila segumpal darah itu baik, baiklah tubuh seluruhnya dan apabila segumpal darah itu buruk, buruk pulalah tubuh seluruhnya. Segumpal darah itu ialah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).