Sebagai landasan pendidikan Islam, maka al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai qat’ī al-dalālah. Sedangkan hadis, ada yang qat’ī al-dalālah dan ada yang zannī al-dalālah.
Karena demikian halnya, maka yang harus dijadikan landasan pertama dan
utama dalam pendidikan Islam adalah al-Qur’an, di mana di dalamnya
banyak ditemukan ayat yang berkenaan dengan teori belajar-mengajar, dan
teori belajar-mengajar itu sendiri merupakan esensi dari pendidikan.
Di samping teori belajar mengajar, ada pula teori nativisme, empirisme,
dan konvergensi. Teori-teori ini erat kaitannya dengan teori belajar
mengajar yang bersumber dari aliran-aliran klasik dan merupakan benang
merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini,
dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai
variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis
sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang
bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang
telah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis
memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati.
Banyak pemikiran yang berada di antara kedua kutub tersebut, yang
dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.
Ketiga aliran pendidikan yang disebutkan di atas, juga memiliki
keterkaitan erat dengan petunjuk al-Qur’an tentang masalah fitrah
manusia. Karena itulah, maka dapat dirumuskan bahwa sangat penting untuk
dibahas berbagai petunjuk al-Qur’an tentang teori belajar mengajar dan
kaitannya dengan teori nativisme, teori empirisme, dan teori
konvergensi.











