STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Peradaban Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Peradaban Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2014

PENGERTIAN, OBJEK, METODE DAN KEGUNAAN SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM



BAB   I
P E N D AH U L U A N
 Oleh: Yuri Alamsyah
A.    Latar Belakang
Sejarah dan pendidikan adalah dua hal penting yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan maju dan mundurnya sebuah peradaban, karena dengan sejarah kita dapat belajar dari masa lalu untuk memperbaiki masa depan, sedangkan dengan pendidikan kita dapat mengupgrade tingkat sumber daya manusia.
Pendidikan Islam memunyai sejarah yang panjang, dalam pengertian yang lesuas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan munculnya Islam itu sendiri.[1] Oleh karena itu, mempelajari sejarah pendidikan adalah hal yang sangat penting, karena kita dapat menilai seberapa kemajuan pendidikan peradaban kita dari masa ke masa.
Sebelum kita belajar banyak tentang Sejarah Pendidikan Islam, ada baiknya kita ketahui dulu pengertian sejarah, sejarah pendidikan Islam, obyek, materi dan tujuan mempelajarinya, agar memudahkan dalam mempelajari Sejarah Pendidikan Islam.

Sabtu, 15 Februari 2014

SEJARAH AWAL MASUKNYA ISLAM DIINDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan pendidikan islam di indonesia antara lain di tandai oleh munculnya berbgai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap. Lembaga pendidikan islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat pada zaamannya. Perkembangan lembaga-lembaga pendidik tersebut telah menarik perhatian para ahli baik dari dalam maupun luar negeri untuk melakukan studi ilmiah secara konfrehensif. Kini sudah banyak hasil para ahli yang menginformasikan tentang pertumbuhan dan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan islam tersebut. Tujuannya selainuntuk memperkarya khazanah ilmu pengetahuan yang bernuasa keislaman, juga sebagai bahan rujukan dan perbandingan bagi para pengelola pendidikan islam pada masa-masa berikutnya. Hal ini sejalan denagn prinsip yang umumnya di anut masyarakat islam di Indonesia, yaitu mempertahankan tradisi masa lampau yang masih baik dan mengambil tradisi baru yang baik lagi. Dengan cara demikian, upaya pengembangan pendidikan islam di indonesia tersebut tidak akan terserabut dari akar kulturnya secara radikal

Rabu, 27 Maret 2013

SPI: DAULAH BANI ABBASIYAH


A.  Asal Mula Daulah Bani Abbasiyah

Daulah Bani Abbasiyah yang didirikan pada tahun 132 H / 750 M oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas merupakan kelanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Gerakan bani Abbas pada waktu itu yang dipimpin oleh Ibrahim Al Imam melakukan gerakan diam-diam atau rahasia yang berpusat di Khurasan. Dengan pimpinan panglima perang yang bernama Abu Muslim Al Khusrasany, Bani Abbas dapat menguasai daerah Khurasan dan Kufah. Setelah Kufah dapat dikuasai sepenuhnya, diangkatlah Abul Abbas menjadi Khalifah pertama pada tahun 132 H / 750 M. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulah Bani Umayyah pada saat itu. Dinamakan kekhalifahan Daulah Abbasiyah, karena para pendiri dan penguasa dinasti ini merupakan keturunan Bani Abbas, paman Nabi Muhammad SAW.[1]

Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. memiliki lima periode yaitu :
1.      Periode pertama 132 H – 232 H sebagai pengaruh Persia pertama.
2.      Periode kedua 232 H – 334 H di sebut masa pengaruh Turki pertama.
3.      Periode ketiga 334  – 447 H masa kekuasaan Dinasti Buwaih.
4.      Periode keempat 447 H – 590 H masa kekuasaan dinasti Saljuk.
5.      Periode kelima 590 H – 656 H masa khilafah bebas dari dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya di sekitar Baqdad.[2]

Rabu, 06 Maret 2013

SPI: GERAKAN MODERNISME MESIR M. ALI PASHA & RAFI’ AL-TAHTAWI

BAB I
PENDAHULUAN

LatarBelakang
Perjalanan sejarah Mesir tidaklah sesederhana kawasan Timur Tengah lainnya. Ia dengan segudang kisah historisnya mampu menarik berjuta-juta wisatawan asing dengan pendapatan devisa yang melimpah. Bukan tanpa alasan Mesir dikatakan sebagai salah satu kota terunik di dunia, karena sejarah yang terukir di kota ini memiliki variasi yang sangat beragam. Berawal dari masa Pharaonic, Hellenistic, Romawi, Islam sampai pada periode Mesir Modern yang diusung oleh Muhammad Ali PashadanjugaRafa’ Al-Tahtawi.
Nah di sini yang menjadipermasalahanyaialahhalapa yang melatarbelakangisemuaini yang mengakibatkanBeliauberduamunculkepermukaan? dansaja yang menjadilandasanpemikirianBeliauberduasehinggarakyatMesirmenyebutmerekaberduasebagai Sang Revolusioner?.
Bukansekedaritusaja,adabeberapapembahasanmenarik di dalamriwayathidupbeliauberdua,seperti M. Ali Pasha yang takbisamembacakarenadulunyabeliaumerupakananakdariketurunanTurki yang sangatsederhana,danjugaambisibesarbeliauterhadapkemajuanMesir.
Begitu pula denganRafa’ Al-Tahtawi yang manabeliaumerupakanpendudukasliMesirdanterlahir dikotakecil yang bernamaTahta,kota yang manaPerancisuntukterakhirkalinyamenginjakan kaki di Mesir.Beliaujugasangattertarikdenganceritakejayaan Islam di masasilam,Beliau adalah seorang pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama dari abad ke-19 di Mesir.

Selasa, 05 Maret 2013

SEJARAH PERADABAN ISLAM: MASA USMAN BIN AFFAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banyak apa yang kita ketahui adalah apa yang kita dengar dan dan kita lihat. Dari banyaknya kita mendengar, maka banyak pula kita akan mengetahui isi dunia. Kita mengetahui suatu hal pastinya ada seseorang yang memberitahu baik dengan cara apapun, bercerita, membaca karya seseorang, melihat dan lain sebagainya. Akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dan bahkan tak ternilai harganya apabila kita mempelajari sebuah sejarah. Karena dari sejarah itu kita akan mendapatkan berbagai informasi yang bisa memotifasi kita dalam berjuan dalam kehidupan.
Ir. Soekarno juga mengingatkan kepada kita dengan wejangan “ JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Dari sejarah pula kita mengetahi akibat-akibat yang timbul dari suatu perbuatan baik perbuatan itu buruk atau baik. Terutama kita sebagai mahluk yang hidup setelah para mahluk yang terdahulu, tentunya sangat memerlukan pengetahuan tentang mereka yang telah sukses dalam kehidupannya. Mereka adalah cermin bagi kita untuk panutan umat selanjutnya.
Kholafaur Rosidin adalah para sahabat nabi yang setia mendampingi perjuangan Nabi, mereka menggantikan perjuangan dengan tetap memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Terkhususkan pada makalah ini Kholifah Utsman bin Affan. Pada masa itu usman  mengembangkan peradaban sebagai bentuk kemajuan agama islam yang telah dikembangkan kholifah sebelumnya yaitu Abu Bakar dan Umar. Maka kita sebagai umat yang hidup setelah mereka akan mendapatkan jalan lurus apabila mengikuti perjalanan-nya.

Sabtu, 09 Februari 2013

SEJARAH PERADABAN ISLAM: Peradaban Islam Pada Masa Bani Umayyah II (di Andalusia)

PENDAHULUAN
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan pada periode Islam klasik. Andalusia mencapai puncak keemasannya.Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pegaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, Andalusia juga dikatakan mampu menyaingi Baghdad yang ada di timur. Banyak orang Eropa mendalami studi di Universitas-Universitas Islam disana. Ketika itu bisa dikatakan, Islam telah menjadi guru bagi orang Eropa. Selama delapan abad, Islam pernah berjaya di bumi Eropa (Andalusia) dan membangun peradaban yang gemilang. Namun peradaban yang di bangun dengan susah payah dan kerja keras kaum Muslimin itu, harus ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin sendiri dan karena keberhasilan Bangsa Barat atau Eropa bangkit dari keterbelakangan. Kebangkitan yang meliputi hampir semua element peradaban, terutama di bidang politik yakni dengan dikalahkannya kerjaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya sampai kemajuan di bidang sains dan teknologi.
PEMBAHASAN
Penaklukan dan Pemerintahan
Al Andalus berarti “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” dan merujuk pada wilayah yang diduduki oleh kerajaan Muslim di Spanyol Selatan yang meliputi kota-kota seperti Almeria, Malaga, Zadiz, Huelva, Seville, Cordoba, Jaen dan Granada.
Andalusia terletak di benua Eropa barat daya dengan batas-batas ditimur dan tenggara adalah laut tengah, diselatan benmua Afrika yang terhlang oleh selat Gibraltar, dibarat samudra atlantik dan utara ole teluk Biscy. Pegunungan Pyneria ditimur laut membatasi Andalusia dengan Prancis. Andalusia adalah sebutan pada masa Islamm bagi daerah yang dikenal dengan senanjung Liberia (kurang lebih 93 % wilayah Spanyol, sisanya Portugal) dan Vadalusia. Sebutan ini berasal dari kata Vandalusia, yang berarti negeri bangsa vandal, karena bagian selatan semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka diusir ke Afrika Utara oleh Bangsa Goth pada abad ke 5 M.

SEJARAH PERADABAN ISLAM: KEMUNDURAN TIGA KERAJAAN BESAR (1700-1800 M)

BAB I
PENDAHULUAN
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa Kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun, kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk, sebagai mana telah disebut, menghancurkan pusat-pusat kekuasaan islam yang lain.
Setelah Bani Abbas mengalami kehancuran, umat islam bangkit kembali dengan adanya kerajaan-kerajaan Usmani, Mughal dan Safawi. Kerajan-kerajaan tersebut merupakan tiga kerajaan terbesar pada masa itu. Akan tetapi dalam perjalanannya, ketiga kerajaan tersebut juga mengalami kemunduran dan kehancuran. Apa penyebab kehancuran dan kemunduran ketiga kerajaan tersebut ?
Makalah ini akan membahas bagaimana kehancuran dan kemunduran tiga kerajaan besar bagi umat islam tersebut yaitu kerajaan Safawi, Mughal dan Usmani.

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA

A.     LATAR BELAKANG
Sudah menjadi  tradisi  turun temurun,  umat  Muslim  di  Indonesia terutama di pulau jawa  dan beberapa negara lain, ramai memperingati hari lahir Nabi Muhammad pada 12 Rabî’ul Awwal setiap  tahunnya.  Bahkan,  ada  yang  menganggap  ritual  keagamaan  ini  bagian  dari  keimanan seseorang, jika tidak merayakannya maka ia tidak beriman.
 Jika dihadapkan pada pertanyaan: mana yang lebih utama, merayakan maulid nabi dengan cara seremonial,   atau   mengingat   kembali   perjuangan   Nabi   Muhammad   dalam   rangka   menjadi manusia  yang  bermakna?  Tentu  kita  akan  menjawab:  lebih  utama  dua-duanya,  merayakan maulid juga mengingat perjuangannya untuk dijadikan barometer menuju hidup yang bermakna.

B.     PERMASALAHAN
Sekarang kita  lepaskan  kontroversi  seputar  boleh  tidaknya  memperingati  maulid  Nabi  dan kepastian tanggal kelahiran Nabi. Yang ingin diketengahkan saat ini adalah: apa yang bisa kita petik dari peringatan maulid Nabi Muhammad saw dan bagaimana maulid bisa dijadikan peringatan ?

Kamis, 24 Januari 2013

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH

A.      Pendahuluan
Serangkaian peristiwa telah mengantar Bani Umayyah dalam mengukir sebuah sejarah  peradaban Islam. Dengan berakhirnya masa pemerintahan Ali bin Abi Tholib, maka berakhir pula masa khilafah, yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk pemerintahan dinasti yaitu  kerajaan, yaitu dinasti Bani Umayyah.
Sebutan Daulah Umayyah berasal dari nama “Umayyah  ibn ‘Abdi Syam ibn Abdi Manaf, salah seorang pemimpin suku Quraisy pada zaman Jahiliyyah. Bani Umayyah baru masuk Islam setelah Nabi Muhammad SAW berhasil menaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah).[1]
B.       Rumusan Masalah
1.         Kapan dan Siapa sajakah Khalifah  Bani Umayyah?                                            
2.         Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Umayyah?
3.         Bagaimana sistem pemerintahannya?                           
4.         Apa penyebab runtuhnya Dinasti Bani Umayyah?
                                                         
C.      Pembahasan      
1.    Masa Pemerintahan Bani Umayyah dan para Khalifahnya
Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan bin Harb Umayyah. Bani Umayyah berdiri selama 90 tahun (40 – 132H/661 -750M), beribukota di Damaskus.
Daulah  Umayyah  diperintah  oleh 14 orang khalifah. Mereka itu adalah: Mu’awiyah (41 H/661), Yazid I (60/680), Mu’awiyah  II (64/ 683), Marwan I (96/683), Abdul Malik (65/685), Walid I  (86/705), Sulaiman (96/715), Umar II (99/717), Yazid II (101/720), Hisyam (105/724), Walid II  (125/743), Yazid  III (126/744), Ibrahim (126/744), dan Marwan II (127-132/744-759).[2]  

Selasa, 23 Oktober 2012

Memperbarui Kehidupan dengan Masa Lalu (Iqamatuddin Perspektif Shirah)

Oleh: Sufairi Janwadi 
Perbaruilah kehidupanmu dengan mempelajari sejarah.
Keniscayaan Kebangkitan
            Semenjak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah enam abad silam, ummat islam merasakan ketidak jelasan status. Mereka kehilangan cahayanya kecuali hanya sedikit saja yang tersisa, itu pun sangat redup. Yang masih jelas dalam pandangan mereka bahwa islam hanyalah sederet tata cara rukuk dan sujud, zakat dan puasa, haji serta ritual-ritual lainnya. Krisis identitas keislaman melanda timur hingga barat tanah kaum muslimin  seiring menuanya dunia. Sudah menjadi tabiat sejarah bahwa ketika sebuah peradaban melemah, maka peranannya di dunia ini akan digantikan oleh peradaban yang kala itu dianggap kuat dari segi ketercakupannya dalam menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Maka ketika islam sudah mulai tertatih, peradaban baratlah yang memegang peranan penting di panggung sejarah manusia.
Namun demikian peradaban islam adalah peradaban yang tidak akan pernah hilang. Kendati ia semakin lemah tapi tidak akan sampai mati. Hal itulah yang disampaikan oleh Dr.Raghib As-Sirjani dalam bukunya yang berjudul Ummatun Lan Tamut (judul terjemahannya: Islam Is Never Die). Ummat islam akan tetap eksis walau dalam selemah-lemah keadaannya, dan akhirnya akan bangkit lagi. Islam akan kembali tegak, dengan perkasa memimpin kembali kehidupan manusia menuju keemasannya.
Bukti riil tentang datangnya kebangkitan islam kini semakin jelas terlihat. Ummat islam semakin bergairah mengkaji islam, semakin banyak shaf-shaf di masjid dan isinya tidak hanya orang-orang tua tapi juga para pemuda bahkan anak-anak. Wanita-wanita muslimah semakin banyak yang menggunakan jilbab, bahkan sekolah-sekolah umum sekarang banyak yang mewajibkan siswi-siswi mereka yang mulim untuk menutup aurat. Kampus-kampus mulai mengembangkan kajian terhadap sistem islam, mulai dari ekonomi islam sampai politik islam, mahasiswa dengan semangat mereka yang khas telah mendongkrak perkembangan yang pesat terhadap perkembangan pemikiran islam. Semakin terlihat upaya kaum muslimin untuk menegakkan agama mereka. Berbagai organisasi bermunculan, mulai dari organisasi islam yang memfokuskan diri dalam pelayanan sosial masyarakat sampai partai-partai politik islam, tidak ketinggalan pula peran para pemuda muslim yang semakin menyadari akan pentingnya peran mereka untuk menegakkan kembali agama ini. Bahkan tidak hanya kaum muslimin saja yang mulai tertarik dengan islam tapi mereka yang nashrani, hindu, budha bahkan atheis juga mulai memperbincangkannya. Islam telah menjadi agama yang mengalami pertumbuhan tercepat akhir-akhir ini. Ada yang menyebutkan bahwa situs-situs islam di internet dikunjungi oleh sekitar 2 juta pengunjung setiap harinya. Bukankah semuanya itu sebagai bukti bahwa islam sedang merangkak naik menu kegemilangannya untuk kali yang kedua.

Selasa, 02 Oktober 2012

KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM TERHADAP KEMAJUAN BARAT

A. PENDAHULUAN
Sejarah Islam telah memperlihatkan kepada kita, pada awal kebangkitan Islam, di saat itu telah muncul dua kerajaan besar yang telah maju dengan pesatnya yaitu Persia dan Romawi yang merupakan dua kerajaan yang super power yang benar-benar di kagumi oleh dunia internasional dewasa itu sehingga hal ini pernah di nyatakan sendiri oleh Rasulullah saw.
Peradaban Barat berada dalam posisi yang kuat, karena itu kita harus mengambilnya dengan satu modal dan mngikuti perkembangannya.
B. PEMBAHASAN
Dalam Islam tidak ada permusuhan antara agama dan negara. Islam merupakan sistem total bukan hanya dari keyakinan melainkan juga tindakan yang menetapkan aturan-aturan untuk kehidupan sehari-hari dan dorongan wahyu untuk memerangai atau mengislamkan kaum kafir.[1] Barat yang ingin melihat Islam tetap tidur dan mendur itupun sudah bisa membaca jalannya sejarah, dan memang fajar Islam telah mulai menyingsing dan Insya Allah akan nampak jelas pada abad XV H. kebangkitan itu adalah laksana sungai yang mengalir, kalaupun di bendung pada satu tempat, ia pasti mencari jalan aliran ke tempat yang lain sehingga akhirnya bermuara ke satu samudra yang luas.[2]
Selama beribu tahun pertama perkembangan dunia muslim hanya ada tiga tulisan yang masih dapat di temukan dan memberi pembaca muslim informasi. Tentang sejarah Eropa Barat. Jika sejarah Eropa Barat hampir diabaikan sama sekali, namun peta bumi Eropa terus mendapatkan perhatian. Para ilmuwan muslim mencurahkan perhatian besar pada geografi dan menciptakan banyak literatur dengan cabang-cabang pengetahuan di bidang ini. Mulai dari adaptasi dan penjelasan tambahan pada karya-karya Yunani, yang kemudian di perkaya oleh sebuah buku perjalanan, dan para sarjana muslim menyusunnya secara lebih sistematik. Beberapa literatur tersebut berbentuk risalah, dan yang lain dalam bentuk kamus alfabetik geografis, yang kadangkala memuat beberapa nama orang Eropa. Dalam pandangan masyarakat dunia negeri Islam (Darul Islam) dan negeri musuh (Darul Harbu). Darul Islam terdiri dari semua negara dan semua wilayah yang menjunjung hukum Islam, dansecara umum dapat di katakan bahwa di daerah itu berdiri kerajaan Islam. Darul Harbi adalah wilayah selebihnya sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam semesta ini. Maka demikian pula hanya ada satu komunitas, dipimpin oleh satu pemerintahan yang dikepalai oleh satu penguasa negara yang berdaulat.[3]

MASA PASCA TURKI USMANI

I. PENDAHULUAN
Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam politik ketika masuk dalam barisan tentara profesional maupun dalam birokrasi pemerintahan. Begitu juga masyarakat Turki menekankan pembaharuan-pembaharuan kelompok sekuleris Republik Turki, sehingga masyarakat Turki mempunyai ciri khas ke-Islamannya. Maka di tahun belakangan ini Turki telah memperlihatkan suatu kontras yang menyolok dengan negeri-negeri Islam di Timur Tengah, baik di bidang politik luar negeri, tapi kebanyakan negeri Islam lain telah memperlakukan dunia barat dengan sikap yang berkisar dari sikap netral sambil merenggut namun penuh harap sampai kepada sikap yang terang-terangan permusuhan sehingga timbullah permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Apakah yang menjadi politik bangsa Turki berkembang dan apakah ada perubahan-perubahan oleh bangsa Turki?
II. PEMBAHASAN
A. Asal Mula Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang berasal dari wilayah Asia Tengah, yang termasuk suku Kayi. Ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi Sulaiman Syah, mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dan lari ke arah Barat. Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kelompok yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya, yang kedua meneruskan perantauannya ke wilayah Asia Kecil.
Kelompok kedua itu berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh Erthegrol (Arthoghol) anak Sulaiman. Akhirnya mereka menghambakan dirinya kepada Sultan Ala Ad-Din II dari Turki Saljuq Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatholi, Asia Kecil. Ertheghol mempunyai seorang anak yang bernama Usman, kira-kira lahir tahun 1258. Nama Usmanlah ditunjuk sebagai nama kerajaan Turki Usmani.[1]
Namun dikawasan Timur, kekuatan Turki memperoleh tantangan dari dinasti Shafawiyyah, yakni dinasti lain yang muncul dari asal-usul yang tidak jelas, yang juga cikal bakal terbentuknya kabilah Turki. Terjadi perjuangan panjang guna mengendalikan wilayah-wilayah perbatasan yang terletak diantara pusat kekuasaan, yakni Anatolia timur dan Irak. Bagdad ditaklukkan oleh dinasti Utsmaniyyah pada tahun 1534 M, direbut oleh Shafawiyyah pada tahun 1623 M, dan tidak dikuasai lagi oleh dinasti Utsmaniyyah hingga tahun 1638 M. Sebagian disebabkan perjuangan melawan dinasti Shafawiyyah. Dinasti Utsmaniyyah berpindah ke selatan memasuki tanah-tanah kesultanan mamluk.

HUBUNGAN MUSLIM NUSANTARA DENGAN TIMUR TENGAH

I. Pendahuluan

Hubungan antara Nusantara dengan Timur Tengah melibatkan sejarah yang begitu panjang, yang dapat dilacak sampai ke masa yang sangat tua (antiquity). Kontak yang paling awal antara kedua wilayah ini khususnya berkaitan dengan perdagangan, bahkan bermula sejak masa Phunisia dan Saba.[1] Memang, hubungan antara keduanya pada masa beberapa waktu sebelum kedatangan Islam dan masa awal Islam terutama merupakan hasil dari perdagangan Arab dan Persia dengan Dinasti Cina. Agaknya, kapal-kapal Arab dan Persia yang datang ke Cina melakukan pengembangan pula di Nusantara jauh sebelum Islam menjadi nyata di bagian manapun di Nusantara.
Tapi disini kita tidak akan membahas hubungan dagang diantara kedua wilayah ini pada masa pra-Islam, tetapi akan memusatkan perhatian pada berbagai macam kontak dan hubungan – bukan hanya perdagangan – setelah kebangkitan Islam di Timur Tengah.Pengenalan dan penyebaran Islam di pesisir pantai anak Benua India terbukti merangsang tidak hanya hubungan dagang antara Timur Tengah dengan Nusantara, tetapi juga berbagai bentuk hubungan dan pertukaran (exchanges) keagamaan, sosial, politik, dan kebudayaan.

II. Timur Tengah, Cina dan Nusantara

Riwayat-riwayat yang paling awal tentang hubungan antara Timur Tengah dengan Nusantara diberikan sumber-sumber Cina dan Arab. Bahwa terdapat banyak riwayat tentang Nusantara ditulis sejarawan Arab semacam al-Ya’qubi, Abu Zayd atau al-Maududi, tetapi mereka kebanyakannya berdasarkan pada cerita-cerita para pelayar Arab yang lebih tertarik pada hal-hal yang aneh daripada kondisi riil bagian-bagian Nusantara yang mereka singgahi. Untungnya, para pengembara lebih belakang – yang paling terkenal diantara mereka adalah Ibn Bathuthah – meninggalkan deskripsi yang dipandang jauh lebih akurat dan autentik, meski sejumlah nama tempat yang mereka sebut di Nusantara sulit diidentifikasi.
Mempertimbangkan tingginya intensitas hubungan antara muslim Timur Tengah dengan Timur Jauh, dan mengingat terdapatnya pemukiman-pemukiman muslim di Cina, wajar mengasumsikan bahwa muslim Timur Tengah cukup mengetahui tentang Nusantara. Cukup wajar pula menyatakan, muslim Timur Tengah ini menjadikan pelabuhan-pelabuhan tertentu di Nusantara sebagai tempat persinggahan. Dan ini disokong oleh riwayat-riwayat berikut.
Kehadiran muslim Timur Tengah – kebanyakan Arab dan Persia – di Nusantara pada masa-masa awal ini pertama kali disebutkan oleh agamawan dan pengembara terkenal Cina, I-Tsing, ketika ia pada 51/671, dengan menumpang kapal Arab dan Persia dari Kanton berlabuh di pelabuhan di Muara Sungai Bhoga (atau Sribhoga, atau Sribuza, sekarang Musi). Sribuza, sebagaimana diketahui, telah diidentifikasi banyak sarjana modern sebagai Palembang, ibukota kerajaan Budha Sriwijaya.[2]

KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM

1. Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah al-Walid (705-715 M) salah seorang khalifah dari bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Ada tiga tokoh dalam penaklukan Spanyol di antaranya : Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nushain. Untuk pertama kalinya Thariq ibn Ziyad beserta pasukannya menyeberangi Selat kemudian mendarat dan menyiapkan pasukannya di Jabal Thariq (Gibraltar). Dengan ini, Raja Roderick dapat dikalahkan hingga akhirnya kota-kota penting dapat ditaklukkan seperti Cordova, Garnada, dan Toledo. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 87-89)
Pergantian amir tidak mempengaruhi operasi perluasan daerah, pada tahun 717-718 M. Operasi dilanjutkan dengan pemimpin al-Hurr bin Abdul Rahman al-Tsaqafi, gerakan menuju Spanyol Utara setelah menaklukkan Saragosa. Perluasan daerah itu terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Perluasan ke Spanyol masih diteruskan oleh setiap khalifah yang berkuasa di Damaskus. (Prof. Dr. Abu Su’ud, Islamologi Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta, Rineka Cipta, 2003, hlm. 70)
Masuknya Islam di Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam mengalami enam periode dengan berbagai peradaban pada saat itu. Konflik Islam dengan Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan merupakan faktor-faktor yang mendukung hancurnya Islam di Spanyol, tapi meskipun demikian Islam berpengaruh besar terhadap peradaban di Eropa. (Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 110)

KEJAYAAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH

Sepeninggal kholifah Ali bin Abi Tholib (656-661), sebagian masyarakat Islam di Arab, Irak dan Iran memilih dan mengangkat Hasan bin Ali. Beliau memerintah + 3 bulan, setelah itu jabatannya dialihkan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, karena beliau menyadari kelemahan dan kekurangan dalam kepemimpinannya, dia berfikir Muawiyah yang lebih cocok untuk memimpin Umat Islam.
Pada tahun 661 M, terjadilah perpindahan kekuasaan dari Hasan kepada Muawiyah. Serah terima jabatan itu berlangsung di kota Kuffah, kemudian dikenal dalam sejarah Islam dengan istilah “Amul Jama’ah”.[1]
Perpindahan kekuasaan kepada Muawiyah ibn Sufyan telah mengakgiri bentuk pemerintahan yang demokratis. Kekholifahan ini menjadi semacam monarchi absolut. Dan kekholifahan ini bertahan + sampai 90 tahun, dimulai dari tahun 661 – 750 M. Selama masa pemerintantahan bani Umayyah telah berkuasa sebanyak 14 khalifah dan diantara khalifah yang berhasil dalam menjalankan roda pemerintahan adalah ;
1. Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H / 661-680 M)
Muawiyah dilahirkan + 15 tahun sebelum hijriyah dan masuk Islam pada hari penaklukan Mekah. Beliau diangkat langsung oleh Rasulullah sebagai anggota sidang penulis wahyu yang bertujuan agar Muawiyah lebih akrab dan Islam ini benar-benar tertanam dalam hatinya.
Dalam perjalanan sejarah hidupnya, kemudian dia diangkat sebagai Gubernur Damaskus, dari sini karir politiknya dilakukan secara perlahan, yang kemudian mengantarkannya ke puncak kekuasaan. Diantara yang dilakukan adalah perluasan wilayah dan berusaha menaklukkan beberapa daerah kekuasaan Byzantium dan Persia.

Senin, 01 Oktober 2012

DEFINISI SEJARAH PERADABAN ISLAM

A.PENDAHULUAN
Banyak sekali hasilnya dari zaman dahulu sampai sekarang mengenai kebudayaan Islam yang terus-menerus berkembang, misalkan saja dalam sejarah kehidupan Rasulullah Saw, yang telah menyebarkan agama Islam di dunia ini. Banyak kita temui mengenai kepribadian yang seluruh kehidupannya di curahkan untuk agama Allah, dan Beliau di kenal sebagai orang yang banyak berpikir dan memikirkan masyarakat secara serius, dengan keteguhan dan kekuatan kepribadiannya, Nabi merubah pikiran-pikiran, adat-adat dan moral orang-orang Arab. Ia merubah orang kasar menjadi beradab.
Sebelum menginjak kemana-mana, disini pemakalah ingin mengulas sedikit mengenai pengertian dari sejarah peradaban Islam, yang dimana peradaban tersebut bersumber pada Islam itu sendiri.

B.PEMBAHASAN
Pengertian Sejarah Peradaban Islam
Kata sejarah dalam bahasa Arab disebut tarikh, yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedang menurut istilah berarti “Keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada. Sedangkan pengertian selanjutnya memberikan makna sejarah sebagai catatan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian masa silam yang di abadikan dalam laporan-laporan tertulis dan dalam ruang lingkup yang luas, dan pokok dari persoalan sejarah senantiasa akan sarat dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan keadaan masyarakat. Oleh sebab itu, menurut Sayid Quthub “Sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme waktu dan tempat”.1
Berangkat dari pengetian sejarah sebagaimana yang dikemukakan di atas, peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah al-Islamiyah. Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam. “Kebudayaan” dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebgaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata “kebudayaan” dan “peradaban”. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi dan moral, maka peradaban terrefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi.

Kamis, 28 Juni 2012

PERKEMBANGAN DAN PERADABAN PADA MASA DAULAH ABBASIYAH

BAB I PENDAHULUAN
Masa kejayaan islam mengalami puncak keemasan adalah pada masa Daulah bani Abbasiyah, pada masa itu berbagai kemajuan dalam segala bidang mengalami peningkatan seperti bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sistem pemerintahan nya. Masa keemasan yang terjadi pada masa daulah bani Abbasiyah terjadi disaat masa kholifah Harun Ar- rasyid, dikala ia memimpin pemerintahan tersebut semua bidang dalam pemerintahan mengalami kemakmuran, karena adanya sistem pembayaran pajak dari hasil bumi yang dikelola kembali untuk kepentingan rakyatnya.
Oleh karena itu masyarakat merasakan kesejahteraan pada masa pemerintahan harun ar- rasyid tersebut. Selain dari kepempinan, kemajuan dan kejayaan islam pada masa daulah bani abbasiyah terjadi karena adanya gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh orang – orang yang di utus oleh pemerintah bahkan mendapat bayar yang besar dari pemerintahan. Berbagai buku yang berasal dari bahasa Persia dan yunani mulai diterjemahkan kedalam bahasa arab pada masa itu. Pada masa itu juga lahir berbagai ahli filsafat islam seperti ibnu sina, al – farabi, ar- raji dan berbagai ahli filsafat ilmu yang lainnya.
Para ahli filsafat islam tersebut tidak hanya mendalami satu ilmu melainkan keseluruhan dalam bidang ilmu, seperti kedokteran, matematika, filsafat, astronomi dan sebaginya. Sehingga tidak aneh kalau pada masa pemerintahan daulah bani Abbasiyah mengalami puncak keemasan dan kejayaan. Karena dalam pemerintahan daulah bani Abbasiyah banyak silih berganti kepemimpinan, dan hal itu juga yang secara tidak langsung yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran dari daulah bani Abbasiyah tersebut. Kemungkinan besar karena kurangnya kecakapan dari pemerintah yang memimpin negara, selain itu juga banyak pejabat pemerintahan yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyatnya, sehingga banyak terjadi korupsi dan ajang menikmati kemewahan untuk memperkaya dirinya, akibatnya pengeluaran kas negara lebih banyak dari pada pemasukan negara. Hingga muncullah berbagai faktor intern maupaun akstern yang menyebabkan kemunduran daulah bani Abbasiyah hingga akhirnya hancur.
Karena untuk membangun kembali sesuatu yang telah terjadi adalah dengan mempelajari sejarah sebagai cerminan untuk berhati – hati, sehingga teliti agar dapat menghindari hal- hal yang menghambat terbangunnya itu dan hal yang menyebabkan kehancurannya itu. sehingga kita termotivasi untuk membangun kembali peradaban islam dan dapat membangun kejayaan islam Pada masa sekarang.

Kamis, 31 Mei 2012

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM PADA MASA KHALIFAH BANI ABBAS

BAB I
PENDAHULUAN

                Sebuah masyarakat (Bani Abbasiyah) yang punya kesadaran yang tinggi akan ilmu, hal ini ditunjukan masyarakat yang sangat antusias dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, banyaknya perpustakaan-perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum dan juga hadirnya perpustakaan Bayt al-Hikmah yang disponsori oleh khalifah pada waktu yang membantu dalam menciptakan iklim akademik yang kondusif. Tak heran jika kita menemukan tokoh-tokoh besar yang lahir pada masa ini. Tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita contoh, sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan ini segera lepas dari keterpurukan
Sejak terbunuhnya Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah oleh seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim Al- Khurasani di Fusthath, Mesir pada bulan Dzulhijjah 132 H bertepatan dengan tahun 750 M, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa kurang lebih 90 tahun. Dan itu berarti secara resmi sejak itu kekuasaan berpindah ke tangan Bani Abbas yang kemudian lebih dikenal dengan Daulah Abbasiyah.