STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM

BAB I
PENDAHULUAN

Satu hal yang paling penting dalam masalah pendidikan formal adalah pengaturan kurikulum. Karena kurikulumlah yang dijadikan sebagai acuan bagi berjalannya proses pendidikan. Bahkan termasuk sebagai acuan bagi evaluasi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan guru/ sekolah.
Dalam sistem pendidikan Islam, tentu kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Penyusunan kurikulum diatur sedemikian rupa, sehingga benar-benar bisa membentuk kepribadian Islam yang sempurna pada peserta didik. Mereka bukan hanya menguasai sainstek, cerdas secara intelektual saja, tetapi juga memahami hakekat diadakannya proses pendidikan itu sendiri.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam formal dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama yang sekaligus menjadi karakteristik, yaitu (1) pembentukan kepribadian islami), (2)Tsaqafah Islam, dan (3) Ilmu kehidupan (IPTEK, keahlian, dan ketrampilan). Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian islam yang secara terus menerus pemberiannya untuk semua tingkat, muatan tsaqafah islam dan Ilmu terapan/ilmu kehidupan diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup Islami, yang diharapakan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Namun pertanyaan selanjutnya; apa saja aspek-aspek kehidupan itu ? Jawaban pertanyaan ini setidaknya muncul bebarapa paradigma pengembangan pendidikan Islam yaitu: pertama; paradigma Formisme; kedua; paradigma mekanisme dan ketiga paradigma organisme .

Senin, 16 Maret 2015

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM



BAB I
PENDAHULUAN

Satu hal yang paling penting dalam masalah pendidikan formal adalah pengaturan kurikulum. Karena kurikulumlah yang dijadikan sebagai acuan bagi berjalannya proses pendidikan. Bahkan termasuk sebagai acuan bagi evaluasi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan guru/ sekolah.
Dalam sistem pendidikan Islam, tentu kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Penyusunan kurikulum diatur sedemikian rupa, sehingga benar-benar bisa membentuk kepribadian Islam yang sempurna pada peserta didik. Mereka bukan hanya menguasai sainstek, cerdas secara intelektual saja, tetapi juga memahami hakekat diadakannya proses pendidikan itu sendiri.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam formal dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama yang sekaligus menjadi karakteristik, yaitu (1) pembentukan kepribadian islami), (2)Tsaqafah Islam, dan (3) Ilmu kehidupan (IPTEK, keahlian, dan ketrampilan). Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian islam yang secara terus menerus pemberiannya untuk semua tingkat, muatan tsaqafah islam dan Ilmu terapan/ilmu kehidupan diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.
Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup Islami, yang diharapakan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Namun pertanyaan selanjutnya; apa saja aspek-aspek kehidupan itu ? Jawaban pertanyaan ini setidaknya muncul bebarapa paradigma pengembangan pendidikan Islam yaitu: pertama; paradigma Formisme; kedua; paradigma mekanisme dan ketiga paradigma organisme .

Senin, 17 Februari 2014

PEMIKIRAN PENDIDIKAN K.H. HASYIM ASY'ARI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota kecil yang bernama Jombang tidak henti-hentinya memunculkan sosok tokoh yang sangat berpengaruh di bumi Indonesia Raya. Sebelum era Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Cak Nun (Emha Ainun Najib) dan Cak Nur (Nurkhalis Majid), Jombang telah melahirkan tokoh besar yang mampu mewarnai jalannya NKRI. Beliau adalah KH. Hasyim Asy’ari, yang tak lain juga merupakan kakek Gus Dur.
Sosok fenomenal Hasyim Asy’ari kenyang pengalaman menyinggahi pesantren di Jawa sebelum melanjutkan pendidikan ke tanah Arab. Sekembalinya ke Indonesia beliau mendirikan pesantren Tebuireng Jombang yang terkenal dengan ilmu haditsnya. Kedalaman ilmu, dan pemikirannya dalam pendidikan sangat brilian, sampai-sampai para kiai di Jawa memberinya gelar “Hadratus Syekh” yang berarti “Tuan Guru Besar”.
Hasyim Asy’ari termasuk tokoh utama pendiri lembaga sosial keagamaan terbesar di Indonesia yaitu NU ( Nahdlatul Ulama’). Organisasi ini bertujuan mempertahankan ajaran ahlu sunnah wal jamaah serta tradisi Islam. Sementara corak pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh lembaga ini pada mulanya bersikap tradisional dengan hanya mengajarkan agama saja dengan bersistem halaqah. Namun seiring dengan perkembangan, lembaga ini juga memasukkan ilmu umum dengan sistem madrasah.

Sabtu, 01 Februari 2014

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA

  1. PENDAHULUAN
Dunia pendidikan di indonesia khususnya, dan dunia Islam pada umumnya masih di hadapkan pada persoalan, mulai dari rumusan, tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum dan lain sebagainya.
Di kalangan para ahli masih terdapat perbedaan mengenai pemakaian istilah tujuan, hasan langgulung misalnya mengatakan bahwa istilah tujuan itu sendiri banyak di campur baurkan pengguanaannya dengan istilah maksud. Kadang-kadang tampak berbeda, dan kadang- kadang tampak serupa. Namun demikian, pada akhirnya ia menganggap bahwa kedua istilah itu mempunyai arti yang sama.
Pendidikan Islam dengan pendidikan nasional merupakan sebuah system pendidikan yang sangat baik. Karena di dalam pendidikan Islam maupun pendidikan nasional terdapat beberapa metode yang berkaitan dengan masalah dunia pendidikan. Apabilah seseorang dengan baik melakukan metode-metode tersebut maka orang tersebut akan menjadi orang yang berguna bagi Agama dan bangsa.
Membahas masalah konsepsi pendidikan Islam dalam langkah pendidikan nasional, harus dimulai dari konsep manusia secara integral dan utuh. Ketepatan mengkaji dan merumuskan masalah ini akn memerlukan landasan yang kuat dan tetap untuk mebahas masalah filsafat, dasar dan tujuan pendidikan, yang selanjutnya di jadikan pangkal tolak dalam menyatukan dan mengkaitkan hubungan, sebagai bagian integral dari mata rantai dalam kesatuan system pendidikan nasional.

KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM KONTEKS FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

  1. PENDAHULUAN
Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya pedagogis untuk menstranfer sejumlah nilai yang dianut oleh masyarakat suatu bangsa kepada sejumlah subjek didik melalui proses pembelajaran. Sistem nilai tersebut tertuang dalam sistem pendidikan yang dirumuskan dalam dasar-dasar pandangan hidup bangsa itu. Rumusan pandangan hidup tersebut kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan itu pandangan filosofis suatu bangsa di antaranya tercermin dalam sistem pendidikan yang dijalankan.
Konsep pendidikan Islam dalam langkah pendidikan nasional harus dimulai dari konsep manusia secara integral dan utuh. Ketepatan mengkaji dan merumuskan masalah ini akn memerlukan landasan yang kuat dan tetap untuk mebahas masalah filsafat, dasar dan tujuan pendidikan, yang selanjutnya di jadikan pangkal tolak dalam menyatukan dan mengkaitkan hubungan, sebagai bagian integral dari mata rantai dalam kesatuan system pendidikan nasional.
Pendidikan Islam dengan pendidikan nasional merupakan sebuah system pendidikan yang sangat baik. Karena di dalam pendidikan Islam maupun pendidikan nasional terdapat beberapa metode yang berkaitan dengan masalah dunia pendidikan. Apabilah seseorang dengan baik melakukan metode-metode tersebut maka orang tersebut akan menjadi orang yang berguna bagi Agama dan bangsa.

PARADIGMA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

  1. PENDAHULUAN
Pengalaman pendidikan Islam di indonesia sebagai pendidikan berbasis masyarakat menunjukan bahwa proses akulturasi budaya pendidikan islam kedalam sistem pendidikan nasional ternyata tidak terjadi dalam satu tahap secara mudah. Akan tetapi berjalan secara bertahap dan seringkali tidak mudah.
Sejarah pendidikan Islam di Indonesia mula-mula hanyalah pendidikan keagamaan untuk penyebaran Agama. Ketika zaman penjajahan datang, terjadi politik pendidikan diskriminatif karena pemerintah penjajahan memandang rendah pendidikan pribumi. Kondisi itu berubah setelah umat Islam mengembangkan sekolah umum. Termasuk dalam tradisi pendidikan Islam tumbuh tradisi madrasah yang akhirnya berubah menjadi sekolah umum berciri Agama Islam.
Dari catatan proses akulturasi pendidikan Islam, dengan manajemen pendidikan nasional, terdapat catatan yang perlu digaris bawahi, diantaranya adalah dengan satu sistem pendidikan, sebenarnya isu dualisme pengelolaan pendidikan tidaklah ada, dan sebenarnya merupakan ungkapan yang tidak benar. Selain itu, dalam satu sistem pendidikan, pemerintah, mempunyai daya untuk mengawasi dan membina pendidikan yang diselenggarakan oleh siapapun di negeri ini, maka pemerintah bertanggung jawab umtuk membinanya agar sesuai tujuan pendidikan nasional.

Kamis, 09 Mei 2013

KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS KECAKAPAN HIDUP

A.    Landasan Pendidikan Kecakapan Hidup
1. Landasan Historis Pendidikan Kecakapan Hidup
Secara historis pendidikan sudah ada sejak manusia ada dimuka bumi ini. Ketika kehidupan masih sederhana, orang tua mendidik anaknya, atau anak belajar kepada orang tuanya atau orang lain yang lebih dewasa di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari lingkungannya atau alam sekitarnya. Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mecari solusi untuk memecahkan dan mengatasi problem yang dihadapi sehari-hari.[1]
            Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Maka dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan masyrakat.
            Menurut keyakinan kita, sejarah pembentukan masyarakt dimulai sejak kelaurga Adam dan Hawa sebagai unit kecil dari masyarakat besar umat manusia dimuka bumi ini. Dalam keluarga Adam itulah telah dimulai proses kependidikan umat manusia, meskipun dalam ruang lingkup terbatas sesuai dengan kebuTuhan untuk mempertahankan kehidupannya.
            Dasar minimal dari usaha memertahankan hidup manusia terletak pada orientasi manusia kearah tiga hubungan, yaitu:
a.      Hubungan manusia dengan yang maha pencipta yaitu Tuhan sekalian alam.
b.      Hubungan dengan sesama manusia. Dalam keluarga Adam, hubungan tersebut terbatas pada hubungan anggota keluarga.
c.      Hubungan dengan alam sekitar yang terdiri dari berbagai unsur kehidupan, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan kekuatan alamiah yang ada.[2]

MEMBANGUN KERANGKA KEILMUAN IAIN (Perspektif Filosofis)

Dunia selalu bergerak dan berubah. “Kita”, kata Heraklitus, “tidak pernah menginjak air sungai yang sama dua kali.”1  Dengan nada yang sama Henri Bergson (w. 1941) memberikan realitas sebagai “kesinambungan menjadi” dan masa kini dalam kesinambungan tersebut sebagai bagian quasi-inetantaneus yang dipengaruhi oleh persepsi kita dalam masa yang mengalir.2  Namun, gerak kehidupan cenderung bergerak ke arah yang lebih baik dan lebih maju. Rumi berkata: “Segala sesuatu cinta pada kesempurnaan, maka ia pun meronta ke atas laksana tunas.”3  Mullah Shadra juga mengatakan bahwa seluruh dunia fisik, bahkan psikis dan imajinal yang bergerak ke atas hingga arketip-arketip yang tidak bergerak dan bercahaya, selalu dalam gerak dan menjadi.”4  Semua inilah yang kita namakan dinamika kehidupan.

Dinamika atau perubahan ini merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa kita bantah dan telah menjadi sifat dasar dari segala yang ada di muka bumi, termasuk manusia dan lembaga-lembaga yang ia bangun. Semua lembaga, baik keagamaan, negara maupun kemasyarakatan, tidak ada yang luput dari pengaruh dinamika kehidupan ini. Bahkan, kelestarian lembaga-lembaga itu sedikit banyaknya tergantung dan dipengaruhi oleh sejauh mana mereka dapat menyesuaikan diri dengan irama perubahan tersebut.

Sabtu, 13 April 2013

Urgensi Pendidikan Islam dalam Upaya Penanaman Spiritual Quotient pada Anak

Demikian pentingnya pendidikan Islam dalam upaya penanaman kecerdasan spiritual (spiritual quotient), sehingga bukan secara kebetulan bila ayat pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. berkaitan dengan urgensi pendidikan, yakni iqra’, perintah membaca sebagaimana firman Allah swt dalam QS. al-Alaq (96) : 1-5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini, mengandung pesan tentang dasar pendidikan yang memuat pesan-pesan pentingnya kecerdasan spiritual. Dalam hal ini, Nabi Saw. yang ummi melalui ayat tersebut, ia diperintahkan untuk belajar membaca. Yang dibaca itu objeknya bermacam-macam, ada ayat-ayat yang tertulis (ayah Alquraniyah), dan ada pula pula ayat-ayat yang tidak tertulis (ayah al-kawniyah).
Hasil yang ditimbulkan dengan usaha belajar membaca ayat-ayat qur’aniyah, dapat menghasilkan ilmu agama seperti fikih, tauhid, akhlak dan semacamnya. Sedangkan hasil yang ditimbulkan dengan usaha membaca ayat-ayat kawniyah, dapat menghasilkan sains seperti fisika, biologi, kimia, astronomi dan semacamnya. Dapatlah dirumuskan bahwa ilmu yang bersumber dari ayat-ayat qur’aniyah dan kawniyah, harus diperoleh melalui proses belajar membaca.

Minggu, 07 April 2013

Teori Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi

Sebagai landasan pendidikan Islam, maka al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai qat’ī al-dalālah. Sedangkan hadis, ada yang qat’ī al-dalālah dan ada yang zannī al-dalālah. Karena demikian halnya, maka yang harus dijadikan landasan pertama dan utama dalam pendidikan Islam adalah al-Qur’an, di mana di dalamnya banyak ditemukan ayat yang berkenaan dengan teori belajar-mengajar, dan teori belajar-mengajar itu sendiri merupakan esensi dari pendidikan.
Di samping teori belajar mengajar, ada pula teori nativisme, empirisme, dan konvergensi. Teori-teori ini erat kaitannya dengan teori belajar mengajar yang bersumber dari aliran-aliran klasik dan merupakan benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling optimis. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang telah dimiliki anak. Sedang sebaliknya, aliran yang sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Banyak pemikiran yang berada di antara kedua kutub tersebut, yang dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.
Ketiga aliran pendidikan yang disebutkan di atas, juga memiliki keterkaitan erat dengan petunjuk al-Qur’an tentang masalah fitrah manusia. Karena itulah, maka dapat dirumuskan bahwa sangat penting untuk dibahas berbagai petunjuk al-Qur’an tentang teori belajar mengajar dan kaitannya dengan teori nativisme, teori empirisme, dan teori konvergensi.

Konsep al-Qur’an Tentang Fitrah dan Kaitannya dengan Teori Belajar-Mengajar

Setiap manusia dapat memperoleh pendidikan dan hasil belajar yang baik sesuai dengan petunjuk agama. Dalam hal ini, agama Islam dengan al-Qur’an sebagai sumber utamanya menuntut penganutnya untuk memperdalam ilmu pengetahuannya, sesuai dengan tabiat agama. Ini berarti bahwa teori-teori aliran kependidikan yakni teori nativisme, empirisme, dan kovergensi bukan menjadi acuan konsep pendidikan al-Qur’an. Namun al-Qur’an lah yang memberikan konsep terhadap aliran-aliran pendidikan tersebut.
Menurut al-Qur’an, tabiat manusia adalah homo religious (makhluk beragama) yang sejak lahirnya membawa suatu kecenderungan beragama. Dalam hal ini, pada QS. al-Rum (30): 30 Allah berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Term fitrah dalam ayat di atas, mengandung interpretasi bahwa manusia diciptakan oleh Allah mempunyai naluri beragama, yakni agama tauhid. Potensi fitrah Allah pada diri manusia ini menyebabkannya selalu mencari realitas mutlak, dengan cara mengekspresikannya dalam bentuk sikap, cara berpikir dan bertingkah laku. Karena sikap ini manusia disebut juga sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik) dan homo education (makhluk pendidik), karena pendidikan baginya adalah suatu keharusan guna mewujudkan kualitas dan integritas kepribadian yang utuh.

Rabu, 27 Maret 2013

FPI: Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam pertumbuhannya, filsafat sebagai hasil penilaian para filosof, telah melahirkan berbagai macam pandangan. Adakalanya, beberapa pandangan saling mendukung, dan adakalanya pula berbeda dan saling berlawanan. Perbedaan itu antara lain disebabkan oleh pendekatan yang dipakai berbeda-beda, sehingga menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.
Dalam dunia pendidikan Islam, terdapat tiga aliran utama filsafat pendidikan Islam, yaitu: (1) aliran Konservatif, dengan tokoh utamanya adalah al-Ghazali, (2) aliran Religius-Rasional, dengan tokoh utamanya yaitu Ikhwan al-Shafa, dan (3) aliran Pragmatis, dengan tokoh utamanya adalah Ibnu Khaldun.
Pemetaan demikian antara lain didasarkan pada konsep keilmuan yang melandasi aliran pemikiran pendidikan Islam tadi. Menariknya, konsep keilmuan ternyata memang diakui sebagai salah satu tema sentral dalam spektrum tradisi intelektual Islam. Berdasarkan “peta” aliran itu, kita dapat menyimpulkan bahwa khazanah pemikiran pendidikan Islam tidaklah monolitik dan uniform, melainkan variatif dan plural sebagaimana dalam tradisi pemikiran keislaman lainnya.

Selasa, 05 Maret 2013

Hakekat Pendidik Dan Peserta Didik

BAB I
Pendahuluan
Sebelum kami menjelskan Hakekat Pendidik dan Pesrta Didik pelu kiranya kami menjelaskan apa pendidikan itu. Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian secara umum adalah selalu berdasarkan pada apa yang dapat kita saksikan dalam semua macam pendidikan, maka dengan demikian teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu tuntunan dadalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun yang di maksud dengan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Dan perlu kita ketahui bahwa di dalam “pendidikan” mempunyai pengertian suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung beberapa unsur-unsur yang harus diperhatikan, diantaranya adalah :
1)Didalam bimbingan ada pembimbingnya ( pendidik ) dan yang dibimbing (terdidik).
2)Bimbingan mempunyai arah yang bertitik tolak pada dasar pendidikan dan berakhir pada tujuaqn pendidikan.
3)Bimbingan berlangsung pada suatu tempat, lingkungan atau lembaga pendidikan tertentu.
4)Bimbingan merupakan proses, maka harus proses ini berlangsung dalam jangka waktu terntu.
5)Didalam bimbingan harus mempunyai bahan yang akan disampaikan pada anak didik untuk mengembangkan pribadi seperti yang di inginkan.
6)Didalam bimbingan menggunakan metode tertentu.

Sabtu, 09 Februari 2013

Filsafat Pendidikan Islam: SISTEM NILAI DAN MORAL ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Dimuka telah diuraikan bahwa nilai-nilai yang hendak dibentuk atau diwujudkan dalam nilai pribadi anak didik sehingga fungsional dan aktual dalam prilaku muslim, adalah nilai islami yang melandasi moralitas (akhlak).
Sistem nilai dan moral adalah suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari dua atau lebih dari komponen yang satu sama lain saling mempengaruhi atau bekerja dalam satu kesatuan atau keterpaduan yang bulat yang berorientasi kepada nilai dan moralitas islami. Jadi di sini tekanannya pada action system.
System nilai atau system moral yang dijadikan kerangka acuan yang menjadi rujukan cara berprilaku lahiriah dan rohaniah manusia musliam adalah nilai dan moralitas yang diajarkan oleh agama islam sebagai wahyu Allah, yang diturunkan kepada utusanNya Muhammad saw.

Sabtu, 05 Januari 2013

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

A. Pendahuluan
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.
1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal.
2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal.
3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio.
Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme.
Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.

Minggu, 23 Desember 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM “PEMIKIRAN KE ARAH FILSAFAT”

PENDAHULUAN
Berbeda dengan mahluk lain, manusia mempunyai ciri istimewa, yaitu kemampuan berfikir yang ada dalam satu struktur dengan perasaan dan kehendaknya (yang sering disebut sebagai mahluk yang berkesadaran) mengenai apa yang dipikirkan adalah terpusat pada diri sendiri dalam hal asal mulanya, keberadaan dan tujuan akhir hidupnya.
Pada saat manusia masih kecil, ia baru bisa melihat dan mengenal apa yang ada di sekelilingnya secara reseptif, seperti makanan, minuman, pakaian, barang-barang lain dan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Selanjutnya yang dikenal adalah ayah ibunya, saudara-saudaranya dan orang lain dalam hubungan yang semakin jauh. Selanjutnya berkat perkembangan alam pikiran dan kesadaranya, maka ia mulai mengenal makna masing-masing hal itu secara kritis. Lalu kemudian kedudukan, fungsi dan ketertarikan antara satu dengan yang lain.
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak terlepas dari peran filsafat. Sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kedudukan filsafat sebagai induk dari ilmu pengetahuan, memiliki proses perumusan yang sangat sulit dan membutuhkan pemahaman yang mendalam, sebab nilai filsafat itu hanyalah dapat dimanifestasikan oleh seseorang filsuf yang otentik.
Perumusan tersebut merupakan suatu stimulus atau rangsangan untuk memberikan suatu bimbingan tentang bagaimana cara kita harus mempertahankan hidup. Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran, dalam eksistensinya terdapat tiga bentuk kebenaran, yaitu ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.
Filsafat disebut pula sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat eksistensial, artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan filsafat menjadi dasar bagi motor penggerak kehidupan, baik sebagai makhluk individu atau pribadi maupun makhluk kolektif dalam masyarakat.
Oleh karena itu kita perlu mempelajari filsafat hingga keakar-akarnya. Khususnya pada dasar ilmu pengetahuan, sebab manusia hidup pastilah memiliki pengalaman yang berbeda-beda, yang kemudian dari pengalaman itu akan muncul ilmu sebagai kumpulan dari pengalaman atau pengetahuan yang ada agar terbuka wawasan pemikiran yang filosofis.
Dengan demikian esensi (diri) dan eksistensi (keberadaan manusia itu sendiri) setiap hal itu menjadi semakin jelas. Kemudian pengenalanya itu berkembang menjadi semakin kreatif.
Demikianlah pendahuluan dari penulis untuk lebih jelasnya tentang isi makalah ini sendiri, bias dibaca di bagian isi makalah ini.
Apabila penulis salah dalam tutur kata maupun tulisan ini penulis mohon ma’af dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.

Kamis, 29 November 2012

KONSEPSI AL-GHOZALI TENTANG ADAP MURID DAN GURU DALAM KITAB IHYA’ ULUMUDDIN JUZ I

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam pandangan islam,orang yang paling bertanggung jawab dalam perkembangan anak adalah orang tua,anak adalah bagian aset orang tua yang terpenting yang harus dirawat dan dijaga selama-lamanya.agama islam juga memandang pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam mengembangkan dan mengubah diri manusia.untuk itu, kewajiban terpenting bagi orang tua terhadap anaknya adalah pendidikan,hal ini melibatkan beragam usaha dalam pengertian bahwa seluruh sikap dan tingkah laku orang tua harus diarahkan untuk memberikan pendidikan kepada anak secara tepat dan benar.jadi, anak adalah merupakan wujud dari sikap dan prilaku orang tua,namun bila orang tua tidak ada waktu dalam memberikan pendidikan kepada anaknya,maka wajiblah orang tua memasrahkan kapada orang lain untuk mendidik anaknya,dalam hal ini adalah guru.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 3(tiga) komponen yang tidak dapat dipisahkan diantara pendidikan bagi anak,yaitu Murid, Guru, dan orang tua. Dikatakan bahwa guru adalah Abu al-ruh atau abu fi ad-din bagi murid. Sedangkan orang tua adalah Abu al jasad bagi murid itu sendiri. Artinya bila seorang murid hendak mendapatkan ilmu manfaat derajat kemuliaan diakhirat, maka hendaknya berbakti sepenuhnya kepada guru,dan bila hendak mendapatkan kelapangan rizki maka hendaknya berbaktilah sepenuhnya kepada orang tua.[1]
Guru adalah wakil dari orang tua,yang telah memasrahkan kepadanya dan juga merupakan faktor terpenting atas berhasil dan tidaknya murid dalam menekuni pendidikannya,karenanya guru juga ikut bertanggung jawab dalam mengoptimalkan upaya perkembangan seluruh potensi murid,baik potensi kognitif,psikomotorik, maupun afektif. Sesuai dengan nilai-nilai islam. Sehingga selain sebagai pengajar, guru juga sebagai pendidik yang bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi murid dapat teraktualisasikan secara baik dan dinamis.[2]

Selasa, 09 Oktober 2012

PEMIKIRAN IBNU KHALDUN TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

1. Pengertian, Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Pendidikan adalah suatu proses untuk menghasilkan suatu out put yang mengarah kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan berdisiplin tinggi.
Rumusan pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun adalah merupakan hasil dari berbagai pengalaman yang dilaluinya sebagai seorang ahli filsafat sejarah dan sosiologi yang mencoba menghubungkan antara konsep dan realita. Sebagai seorang ahli filsafat sejarah atau historical philosophy approach, karena kedua pendekatan tersebut akan mempengaruhi terhadap sistem dan pemikirannya dalam pembahasan setiap masalah, karena kedua pendekatan tersebut mampu merumuskan beberapa pendapat dan interpretasi dari suatu kenyataan dan pengalaman yang telah dilalui.[1]
Pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan Islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis-empiris. Melalui pendekatan ini, memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal dan praktis. Menurutnya ada tiga tingkatan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan, yaitu:
  1. Pengembangan kemahiran (al-malakah atau skill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa meneliti, pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi potensi al-malakah tidak bisa demikian oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar memahami dan mendalami suatu disiplin tertentu.
  2. Penguasaan ketrampilan professional sesuai dengan tuntutan zaman (lingkungan dan materi). Dalam hal ini pendidikan hendaknya ditujukan untuk memperoleh ketrampilan yang tinggi pada potensi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia di muka bumi. Pendidikan yang meletakkan ketrampilan sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan mengutamakan peradaban secara keseluruhan.
  3. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berpikir merupakan jenis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya di format dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dalam kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.[2]

PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah hal yang terpenting dalam kehidupan ini, karena tanpa pendidikan seseorang tidak akan mampu mengetahui dunia luar. Namun akhir-akhir ini pendidikan kurang diperhatikan tujuan dari pendidikan tersebut. Pendidikan belakangan ini kurang mengarah kepada pembentukan insan kamil, padahal tujuan dari pendidikan tersebut tidak lain adalah untuk membentuk insan kamil atau sempurna. Sehingga pendidikan saat ini bukanlah membentuk manusia utuh atau sempurna yang layak untuk menjadi khalifah dibumi melainkan manusia yang individualis, materialis dan pragmatis. Hal ini sangatlah berakibat fatal karena yang kuat menindas yang lemah, yang berenang tetaplah berwenang dan yang kuat menindas yang lemah, tanpa ingat dosa. Maka dari sinilah kami akan mengangkat sebuah tema yang menyajikan tentang arti dan pentingnya pendidikan bagi kita, yang kami ambil dari pemikiran filusuf muslim yang terkenal yaitu “Al-Ghazali”.
II. PEMBAHASAN
A. Sekilas Tentang Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali. Ia lahir di desa Thus. Wilayah Khurasan, Iran pada tahun 450 H/ 1058 M. ayahnya seorang pengrajin wol dan pedagang hasil tenun. Dia adalah pemikir ulung Islam yang menyandang gelar “pembela Islam” (hujjatul Islam), hiasan agama (Zainuddin), samudra yang menghanyutkan (bahrun mughriq), dan pembaharu agama. Gelar ini didasarkan pada keluasan ilmu dan amalnya serta hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam mempertahankan ajaran agama dari berbagai serangan.[1]
Al-Ghazali adalah orang yang pertama kali menggabungkan antara sufisme dan syari’ah dalam satu sistem.[2] Ia belajar ilmu pertama kali pada seorang sufi di negara Thus, kemudian ia pindah ke Jurjan dan Naisabur untuk belajar ilmu agama pada ulama besar yang termashur yaitu Imam al-Haramain Diya al-Din al-Juwaini, ia seorang direktur sekolah di Naisabur, ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu fiqih, ushul fiqih, mantiq, dan ilmu kalam.
Pada tahun 478 H/ 1058 M al-Ghazali bermukim di al-Muaskar dan kemudian pindah ke Baqhdad untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi Ridzamiyah pada tahun 484 H/ 1091 M. Ia meninggal di Thus pada tangal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H/ 19 Januari tahun 1111 M.[3]

Senin, 13 Agustus 2012

Al-Ghazali Educational Thought


Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali was born in a city named city Thus Spake is a city in the region of Khorasan Persia H/1058 in 405 AD [1]

He left behind the days of childhood death by his parents and later he was entrusted by a parent on a mystic to be educated and raised. Since the early days he was very fond of learning and thirst for knowledge. In addition to his intelligence, he is also very good at hanging out so that at the time ketokohannyanya his friendship with the prime minister of the Seljuk Bani, these circumstances favor him so that he was appointed one of these great teachers in the intellectual circles of al-Muluk Nizamul [2].

Al-Ghazali's thought in education shows that he is really considering the question of education, it is in line with the thinking patterns of a nation is realized through the development of education, especially basic education level, the education of children. Where education is strongly influenced by early childhood family education / parents. According to him, the importance of education based on the empirical, which is again a need kontrolisasi in its infancy in education. [3]

As the teachings of Islam, he argues that the goal of Islamic education should aim to get closer to Allah and not to seek the life of an artificial world, because it is the purpose of education according to his sincerity should be left to obtain the blessing of Allah and for avoiding heart disease that brings people far from His blessings. The purpose of education which he said would be important to get balsan yangsetimpal of Allah is the eternal life Hereafter. [4]