STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA

1.      PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang Masalah
Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai setelah melalui proses kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar dapat ditunjukan melalui nilai yang diberikan oleh seorang guru dari jumlah bidang studi yang telah dipelajari oleh peserta didik. Setiap kegiatan pembelajaran tentunya selalu mengharapkan akan menghasilkan pembelajaran yang maksimal. Dalam proses pencapaiannya, prestasi belajar sangat dipengaruhi oleh berbagai factor. Salah satu factor utama yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan pembelajaran adalah keberadaan guru. Mengingat keberadaan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat berpengaruh, maka sudah semestinya kualitas guru harus diperhatikan.
Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, aspek utama yang ditentukan adalah kualitas guru. Untuk itu, upaya awal yang dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kualitas guru. Kualifikasi pendidikan guru sesuai dengan prasyarat minimal yang ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang profesional.
Guru profesional yang dimaksud adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang baik.
Kamal Muhammad ‘Isa mengatakan: “bahwa guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para tokoh dan pemimpin ummat”.[1]  Adapun pengertian guru menurut Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen, yakni sebagaimana tercantum dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat (1) sebagai berikut: “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan  dasar dan menengah”.[2]  Selanjutnya Moh Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional mendefinisikan bahwa: “guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.[3]

Selasa, 14 Mei 2013

GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DAN MOTIVASI BELAJAR

A.    Kepemimpinan Kepala Madrasah

  1. Pengertian Kepemimpinan Kepala Madrasah
 Dalam bahasa inggris kepemimpinan sering disebut leader dari akar kata to lead dan kegiatannya disebut kepemimpinan atau leadership. Dalam kata kerja to lead tersebut terkandung dalam beberapa makna yang saling berhubungan erat yaitu, bergerak lebih cepat, berjalan ke depan, mengambil langkah petama, berbuat paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran atau pendapat orang lain, membimbing, menuntun menggerakkan orang lain lebih awal, berjalan lebih depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori suatu tindakan, mengarahkan pikiran atau pendapat, menuntun dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya.[1]
Sedangkan menurut istilah kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas individu atau group untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam situasi yang telah ditetapkan. Dalam mempengaruhi aktifitasnya individu pemimpin menggunakan kekuasaan, kewenangan, pengaruh, sifat dan karakteristik, dan Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas dan moral kelompok.[2]
Dalam Islam istilah kepemimpinan sering diidentikkan dengan istilah khilafah dan orangnya di sebut kholifah dan Ulil Amri yang orangnya di sebut Amir (pemegang kekuasaan).[3]
J. Reberu dalam dasar-dasar Kepemimpinan  memberikan definisi tentang kepemimpinan. Kepemimpinan adalah kesanggupan menggerakkan sekelompok manusia kearah tujuan bersama sambil menggunakan daya-daya badani dan rohani yang ada dalam kelompok tersebut. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan unsur dinamis yang sanggup mengkaji masa lampau, menelaah masa kini dan menyoroti masa depan, untuk kemudian berani mengambil keputusan yang di tuangkan dalam tindakan

Senin, 18 Maret 2013

SKRIPSI_UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PELAJARAN AL-QURAN HADITS DENGAN METODE DEMONSTRASI DI KELAS VIII MTS

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
   Proses Belajar Mengajar merupakan interaksi edukatif yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam situasi tertentu. Mengajar atau lebih khusus lagi melaksanakan proses belajar mengajar bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan dapat terjadi begitu saja tanpa direncanakan sebelumnya, akan tetapi mengajar itu merupakan sesuatu kegiatan yang semestinya direncanakan dan didisain sedemikian rupa mengikuti langkah-langkah dan prosedur tertentu.[1]
Dalam dunia proses belajar mengajar, yang disingkat menjadi PBM, sebuah ungkapan populer kita kenal dengan: ”metode jauh lebih penting dari materi”. Demikian pentingnya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sebuah proses belajar mengajar (PBM) bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode.[2] Dikatakan pentingnya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran dikarenakan penetapan metode dalam perancangan  pembelajaran merupakan inti dari disain pembelajaran.[3]
Secara sederhana Metode diartikan jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Bila dihubungkan dengan pendidikan, metode mengajar diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran.[4] Metode pembelajaran, sebut saja misalnya: 1). Metode Ceramah, 2). Metode Tanya Jawab, 3). Metode Demonstrasi, 4). Diskusi dan seterusnya, meskipun banyak bukan berarti kita bisa menggunakannya secara serampangan. Metode pembelajaran yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi telah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan pembelajaran.[5]

Sabtu, 14 Juli 2012

Peranan Pendidikan Islam Di Lingkungan Keluarga Dalam Pembentukan Kepribadian Muslim

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia, pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk generasi mendatang. Dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia berkualitas, bertanggung jawab dan mampu meng-antisipasi masa depan. Pendidikan dalam maknanya yang luas senantiasa menstimulir, menyertai perubahan-perubahan dan perkembangan umat manusia. Selain itu, upaya pendidikan senantiasa menghantar, membimbing perubahan dan perkembangan hidup serta kehidupan umat manusia.
Peranan pendidikan sebagaimana disebutkan di atas tidak terlepas dari kedudukan manusia, baik sebagai abdullāh[1] maupun sebagai khalifatullāh.[2] Sebagai ‘abdullāh, maka manusia harus mengabdikan dirinya kepada Allah swt dengan penuh tanggungjawab, dan sebagai khalīfatullāh maka manusia harus mengelolah alam ini, juga dengan penuh tanggungjawab. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya sekedar tindakan lahiriyah, tetapi ia juga merupakan tinadakan batiniyah, sebab di dalam proses pendidikan ada tanggungjawab yang harus diembang. Dengan melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan baik, praktis bahwa arah dan tujuan pendidikan akan mudah tercapai.

Jumat, 13 Juli 2012

JUDUL-JUDUL SKRIPSI PAI

1.      URGENSI BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR STUDI KASUS DI ____________
2.      Fungsi Program Kerja Aktivitas Pelajar Muslim dan Upaya Mengontrol Tingkah Laku Siswa di SMA Negeri ____________
3.      Peran Perpustakaan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP Negeri 13 Surabaya
4.      INTERNET SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER BELAJAR PENDIDIKAN ISLAM ( STUDI DESKRIPTIF DI WWW.ALSOFWAH.OR.ID)
5.      Peran Kultural Sekolah dalammeningkatkan Etjoos Kerja Guru di MIN ____________
6.      Strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas Guru MTs. ITTAQU di ____________
7.      PERANAN HEGEMONI BUDAYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS LEMBAGA PENDIDIKAN DI MA ____________
8.      HUBUNGAN MASYARAKAT (HUMAS) SEBAGAI STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN MUTU SMA NEGERI ____________
9.      Pengaruh Bimbingan Konseling tentang Karier terhadap Pemahaman Karier Siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Pendidikan ____________
10.  Pengaruh Standar Penilaian Ujian Nasional Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan di MTs.  ____________

Kamis, 31 Mei 2012

PENYELENGGARAAN MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah lembaga pendidikan bimbingan dan konseling merupakan suatu komponen yang sangat penting untuk memejukan mutu sebuah sekolah. Karena jika kita lihat pada masyarakat pada umumnya sebuah sekolah atau lembaga pendidikan secara umum dapat dikatakan berkualitas dengan cara melitak output yang dihasilkan oleh sebuah sekolah, dalam arti kata masyarakat akan menganggap sebuah sekolah itu berkualitas apabila siswa atau peserta yang dihasilkan memiliki kualitas dan memenuhi harapan yang masyarakat inginkan.
Ukuran kualitas lulusan tidak hanya diukur dari kematangan kognitif saja, akan tetapi ukuran seorang peserta didik bisa dikatakan berkualitas apabila dia sudah matang secara emosional, sosial, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya, dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan juga yang paling penting yaitu kematangan moral, siswa bisa dikatakan berkualitas jika dia memiliki moral yang baik, baik itu moral yang berlandaskan kepada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat maupun moral yang ada dalam agama.
Karena manajemen bimbingan dan konseling sangat dapat membantu sekolah dalam meningkatkan mutu dari sekolahnya itu khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia yang ada dilingkungan sekolah.
Oleh karena itu manajemen bimbingan konseling merupakan satu komponen yang sangat dibutuhkan dalam sebuah lembaga pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan dari segi kematangan sumber daya manusia.
Bimbingan dan konseling merupakan upaya bantuan untuk mewujudkan perkembangan manusia secara opimal baik secara kelompok maupun individual sesuai dengan hakikat kemanusiaannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemahan, serta permasalahannya.[1]
Oleh karena itu pelaksanakan manajemen bimbingan dan konseling harus dirumuskan secara matang baik dari segi program pelayanan bimbingan dan konseling, meneliti hal-hal apa sajakah yang dibutuhkan oleh para siswa, materi-materi yang harus diajarkan untuk membentuk kematangan siswa, satuan layanan dan kegiatan dalam bimbingan dan konseling, dapat merumuskan dengan baik tatalaksana bimbingan dan konseling, dan mengevaluasi program yang telah dilaksanakan.
Manajemen bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara matang agar tujuan dari sebuah lembaga pendidikan yaitu menghasilkan lulusan yang berkualitas dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Senin, 19 Maret 2012

Pengembangan Kompetensi Guru Menuju Pelaksanaan dan Tanggung Jawab Secara Profesional

A. Latar Belakang Masalah
Guru merupakan suatu pekerjaan profesional, yang memerlukan suatu keahlian khusus. Karena keahliannya bersifat khusus, guru memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam kegiatan pembelajaran, yang akan menentukan mutu pendidikan di suatu satuan pendidikan. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan dan pembelajaran dewasa ini kedudukan guru dalam proses pembelajaran di sekolah belum dapat digantikan oleh alat atau mesin secanggih apapun. Keahlian khusus itu pula yang membedakan profesi guru dengan profesi yang lainnya. Dimana “perbedaan pokok antara profesi guru dengan profesi yang lainnya terletak dalam tugas dan tanggung jawabnya. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan-kemampuan yang disyaratkan untuk memangku profesi tersebut. Kemampuan dasar tersebut tidak lain adalah kompetensi guru” (Saud, 2009 : 44).
Kompetensi dalam profesi guru, pada awalnya dipersiapkan atau diperoleh melalui lembaga pendidikan formal keguruan, sebelum seseorang memangku jabatan (tugas dan tanggung jawab) sebagai guru. Tetapi untuk menuju ke arah pelaksanaan tugas dan tanggungjawab secara profesional, tidaklah cukup dengan berbekal dengan kemampuan yang diperoleh melalui jalur pendidikan formal tersebut. Dalam sebuah karya dikemukakan.
Pada dasarnya pendidikan guru itu bukan berlangsung 3 atau 5 tahun saja, melainkan berlangsung seumur hidup (life long teacher education). Pendidikan yang 3 atau 5 tahun itu adalah pendidikan yang wajib dialami oleh seorang calon guru secara formal. Sedangkan pendidikan sesudah ia bekerja dalam bidang pengajaran, seperti : belajar sendiri, mengikuti penataran, mengadakan penelitian, mengarang buku, aktif dalam organisasi profesi, turut memikul tanggung jawab dalam masyarakat, menonton film, mendengarkan radio, televisi, dan lain-lain. Semua kegiatan itu sangat berharga untuk mengembangkan pengalaman, pengetahuan, keterampilan guru sehingga kemampuan profesionalnya semakin berkembang (Hamalik, 2003 : 123).
Dengan demikian, untuk dapat disebut sebagai profesional, setiap guru harus melakukan pengembangan kompetensinya secara berkesinambungan. Atau sebagaimana dikemukakan oleh Danim (2010 : 3), bahwa “Untuk memenuhi kriteria profesional itu, guru harus menjalani profesionalisasi atau proses menuju derajat profesional yang sesungguhnya secara terus menerus”.

Rabu, 29 Februari 2012

Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan “Strategi Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa”. Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru sebagai tenaga profesional, dituntut tidak hanya mampu mengelola pembelajaran saja tetapi juga harus mampu mengelola kelas, yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Oleh karena itu sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu di semua jenjang pendidikan, penerapan strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan pendidikan di tanah air.

Selasa, 28 Februari 2012

Analisis Problematika Proses Belajar pada Mata Pelajaran Agama

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan sebagai salah satu aspek dari program pemerintah yang perlu mendapat perhatian yang serius dalam pengembangan dewasa ini. Dan perlu juga disadari bahwa bangsa yang berada dalam tahap pembangunan dan perkembangan, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang paling vital. Oleh karena itu melalui proses pendidikan di sekolah, menunjukkan bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung kepada proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah berkat guru dan siswa. 
Untuk pencapaian tujuan, pendidikan yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Upaya tersebut berupa pembangunan, pembuatan sarana dan prasarana, bahkan semua komponen yang dibutuhkan bagi terlaksananya pendidikan.
Salah unsur yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan peserta didik dalam pelaksanan pendidikan adalah guru. Oleh karena itu berbagai upaya telah dilakukan demi untuk peningkatan mutu pendidikan, khususnya peningkatan kualitas guru yang harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, karena dengan peningkatan kualitas guru akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan.
Penegasan di atas mengisyaratkan betapa pentingnya keberadaan seorang guru yang harus mengelola proses belajar mengajar secara profesional di sekolah. Sehingga peningkatan kemampuan mereka harus ditingkatkan secara berkesinambungan. Namun tidak berarti bahwa keberadaan unsur-unsur lainnya tidak begitu penting bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah, selain guru dan murid. 
Dalam proses belajar mengajar ada dua unsur yang sangat penting dimiliki oleh seorang guru yaitu metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek itu saling berkaitan pemilihan salah satu metode pengajar tentu akan mempengaruhi jenis media yang sesuai.[1] Pemakaian media pengajaran dalam proses mengajar dapat membangkitkan keinginan dan  minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan belajar.
Salah satu kelemahan atau kesulitan dalam pembelajaran adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan, karena alat pendidikan dapat digunakan dalam memperlancar proses belajar mengajar baik yang bersifat konkrit maupun abstrak untuk mencapai hasil yang optimal.[2]
Hal-hal tersbebut di atas, merupakan kendala-kendala yang dirasakan oleh guru pada umumnya dan juga berbagai macam problematika yang dihadapinya, tapi yang paling mendasar adalah kurangnya fasilitas atau media untuk menyampaikan mata pelajaran terutama pada mata pelajaran agama Islam.

Rabu, 30 November 2011

Karakteristik Kepribadian Guru Agama Islam Dalam Meningkatkan Proses Belajar Mengajar di SMP

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Peningkatan mutu pendidikan dalam proses belajar mengajar berkaitan dengan usaha peningkatan hasil belajar siswa yang dapat dicapai melalui proses belajar mengajar yang efektif. Pada asasnya peran penting guru pendidikan agama Islam dalam proses belajar mengajar adalah sebagai “direktur of learning” (direktur belajar). Artinya, setiap guru pendidikan agama Islam diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar tercapai keberhasilan belajar (kinerja akademik) sebagaimana telah ditetapkan dalam sasaran proses belajar mengajar yang bersifat bertahap dan meliputi beberapa jenjang yang kongkrit dapat dirasakan dan dilihat sampai yang bersifat nasional dan universal.
Peranan guru pendidikan agama Islam sebagai mediator (penghubung atau perantara) antara pengetahuan dan keterampilan dengan siswa yang membutuhkannya sangat berpengaruh pada hasil proses belajar mengajar. Profil guru pendidikan agama Islam yang sebenarnya menggambarkan nilai-nilai (perilaku) kependidikannya dari berbagai pengalamannya selama menjalankan tugas atau profesinya sebagai guru pendidikan agama Islam yang ternyata tidak hanya mentransfor ilmu saja tetapi sebagai cermin berperilaku.
Dalam kerangka kependidikan secara umum dapat dikatakan bahwa perilaku guru pendidikan agama Islam dipandang sebagai  “sumber pengaruh” sedangkan tingkah laku yang belajar sebagai “efek” dari berbagai proses tingkah laku dan kegiatan interaksi (Gage, 1964, hal. 139).1 Penulis sepakat dengan pendapat tersebut karena guru pendidikan agama Islam merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh kehidupan pribadi siswa karena itu oleh siswa sering dijadikan tokoh teladan bahkan tokoh identifikasi diri serta menjadi profil yang diidolakan dan segala kebiasaan dijadikan patokan yang paling benar oleh siswa SMP yang sedang dalam pertumbuhan jasmani antara usia (+ 13-16) tahun dan pertumbuhan kecerdasan yang mendekati kematangan sehingga dapat mengambil kesimpulan yang abstrak dari kenyataan yang dilihat atau yang ditemukannya karena siswa berada dalam usia goncang. Padahal sosok guru pendidikan agama Islam yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani bukan karena tuntutan materi belaka yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas di sekolah saja dan seyogyanya guru pendidikan agama Islam meiliki perilaku yang memadai untuk untuk dapat mengembangkan diri siswa secara utuh.

STUDI TENTANG KORELASI BIMBINGAN ORANG TUA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Dengan maraknya reformasi di tanah air kita sekarang ini, adalah suatu upaya untuk menyikapi krisis total yang telah melanda bangsa. Upaya untuk keluar atau lepas dari belenggu krisis ini bukanlah masalah yang mudah dan sederhana, melainkan salah satu tanggapan besar yang dihadapi bangsa ini, termasuk didalamnya krisis pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan peningkatan dan pengembangan kualitas mental dan intelektual suatu bengsa.
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan primer bagi kelangsungan hidup bangsa. Al-qur’an dalam wahyunya yang pertama kali turun, memerintahkan adanya belajar bagi seluruh manusia dengan firmannya surat Al-‘Alaq ayat 1-5:   
ا قر أ با سم ر بك الذ ى خلق (1) خلق الا نسا ن من علق (2) اقرأ وربك  الا اكرام      (3) الذي علم بالقلم (4)  علم الا نسا ن ما لم يعلم (5) . العلق : 1- 5 .
Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.(2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. (4) Yang mengajari (manusia)dengan perantara kalam.(5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.[1]
Arti dari ayat di atas baik implicit maupuan eksplisit menjelaskan bahwa Allah meniciptakan mahluknya dari unsur yang hina, kemudian memuliakannya dengan mengajarkan membaca dan menulis serta memberinya pengetahuan.

Selasa, 29 November 2011

INOVASI PENDIDIKAN AKHLAK BERBASIS MANAJEMEN QOLBU

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Terjadinya aksi dan tindak kekerasan (violence) akhir-akhir ini merupakan fenomena yang seringkah kita saksikan. Bahkan hal itu hampir selalu menghiasi informasi media masa. Sebagai contoh adalah, terjadinya tawuran antar pelajar, pemerkosaan, pembakaran gedung, pembunuhan, pembantaian, dan tindak anarkis yang lain. Itulah salah satu fenomena krisis akhlak yang kini tengah menimpa bangsa kita. Disamping itu, masih banyak krisis akhlak yang lain, seperti mabuk-mabukkan, penyalahgunaan narkotika, suap dan lain sebagainya. Krisis multi dimensional yang menimpa bangsa ini, salah satu penyebabnya -dan boleh jadi ini merupakan sebab yang paling utama- adalah karena terjadinya krisis moral atau akhlak. Krisis moral terjadi karena sebagian besar orang tidak mau lagi mengindahkan tuntunan agama, yang secara normative mengajarkan kepada pemeluknya untuk berbuat baik, meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat dan munkarat (Az-Zaibari, 2003:5,6).
Islam memuji akhlak yang baik, menyerukan kaum muslimin untuk membinanya, dan mengembangkannya di hati mereka. Islam menegaskan bahwa bukti keislaman ialah akhlak yang baik. Selain itu puncak derajat kemanusiaan seseorang dinilai dari kualitas akhlaknya. Maka tak heran jika kualitas keimananpun di ukur dari akhlak. Seluas apapun kadar keilmuan seseorang tentang Islam, sehebat apapun dirinya ketika melakukan ibadah, atau sekencang apapun pengaduannya tentang kuatnya keimanan yang dimiliki, semua itu tidak bisa memberi jaminan. Tetap saja, alat ukur yang paling akurat untuk menilai kemuliaan seseorang adalah kualitas akhlaknya (Gymnastiar, 2002: 5).

APLIKASI METODE JIGSAW GUNA MENINGKATKAN MOTIVASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu metode mengajar memiliki andil yang sangat besar dalam kegiatan belajar mengajar.1
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama, sebagaimana yang telah peneliti alami ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar di SMPN 4 Batu, ternyata sebagian besar peserta didik membuat kegaduhan ditengah-tengah berlangsungnya proses belajar mengajar, begitu juga wajah mereka menunjukkan kelesuan dan yang lebih penting lagi, motivasi peserta didik terhadap pembelajaran materi pendidikan Agama Islam sangat kurang, sehingga peserta didik tidak menguasai materi yang telah guru sampaikan, ketika itulah guru mempertanyakan faktor penyebabnya dan berusaha mencari jawabannya secara tepat.
Melihat kondisi tersebut peneliti sangat prihatin, sehingga peneliti berusaha mencari solusi agar tujuan pengajaran yang diinginkan dapat tercapai. Dalam hal ini guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menciptakan lingkungan belajar yang kreatif dan menyenangkan bagi kegiatan belajar peserta didik dikelas, agar mereka memiliki dorongan (motivasi) dalam belajar materi pendidikan agama Islam.

KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab yang berat. Mengingat perannya yang sangat besar, keuletannya serta kewibawaannya dalam membuat langkah-langkah baru sebagai jawaban dari kebutuhan masyarakat. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Bernard Kutner, yang dikutip oleh Evendy M. Siregar tentang kepemimpinan:
Dalam kepemimpinan tidak ada asas yang universal, yang nampak ialah proses kepemimpinan dan pola hubungan antar pemimpinnya. Fungsi utama kepemimpinan terletak dalam jenis khusus dari perwakilan (group representation). Seorang pemimpin harus mewakili kelompoknya sendiri. Mewakili kelompoknya mengandung arti bahwa si pemimpin mewakili fungsi administrasi secara eksekutif. Ini meliputi koordinasi dan integrasi berbagai aktivitas, kristalisasi kebijaksanaan kelompok dan penilaian terhadap macam peristiwa yang baru terjadi dan membawakan fungsi kelompok. Selain itu seorang pemimpin juga merupakan perantara dari orang dalam kelompoknya di luar kelompoknya.[1]

            Berkenaan dengan kepemimpinan ini. Dirawat mengemukakan dalam bukunya “Pengantar Kepemimpinan Pendidikan” bahwa
kepemimpinan adalah merupakan suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan mengendalikan orang lain yang ada hubungannya dnegan pengembangan ilmu pengetahuan atau pendidikan serta agar kegiatan yang dilaksanakan lebih efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.[2]

Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Metode Inkuiri pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Kreativitas dan Pemahaman Siswa Kelas V di SD

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan  mempunyai peranan yang amat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia (Nurhadi dkk, 2003: 1).
Sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional yang tercantum pada Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yaitu:
Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis.

Pendidikan dalam Islam dipahami sebagai sebuah proses transformasi dan internalisasi ajaran-ajaran Islam terhadap anak  didik, melalui proses pengembangan fitrah, agar memperoleh keseimbangan hidup dalam semua aspeknya (Muhaimin dkk, 2001: 136). Dengan demikian, fungsi pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses pewarisan nilai-nilai budaya Islam untuk pengembangan potensi manusia, dan sekaligus proses produksi nilai-nilai budaya Islam baru sebagai hasil interaksi potensi dengan lingkungan dan konteks zamannya. Oleh karena itu, kunci keberhasilan umat Islam, agar mampu menangkap ruh ajaran Islam yang sesungguhnya dan selalu konteks dengan kehidupan tiada lain adalah melalui proses pendidikan.

PENERAPAN STRATEGI BELAJAR AKTIF (ACTIVE LEARNING STRATEGY) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


Perkembangan masyarakat Indonesia berjalan kian hari kian cepat. Salah satu faktor yang berpengaruh sangat besar terhadap kecepatan ini adalah pembangunan nasional. Ada banyak pengaruh yang memberikan arah kepada pembangunan nasional. Pengaruh yang sangat menonjol berasal dari penerapan ilmu dan teknologi. Seirama dengan perkembangan itu, tidak hanya terjadi pembenturan dan pergeseran nilai-nilai yang dianut masyarakat, tetapi bahkan terjadi pula perubahan-perubahan nilai.
Fenomena empirik menunjukkan bahwa pada saat ini di Indonesia terdapat banyak kasus kenakalan dikalangan para pelajar, diantaranya isu perkelaihan pelajar, tindak kekerasan, premanisme, konsumsi narkoba dan minuman keras, pemerkosaan, pembunuhan, kurangnya etika berlalu lintas, dan kriminalitas-kriminalitas lain yang semakin hari semakin meningkat dan semakin kompleks telah mewarnai halaman surat kabar dan media masa.
Timbulnya kasus-kasus tersebut memang bukanlah semata-mata karena kegagalan pendidikan Agama di sekolah, tetapi bagaimana semua itu dapat digerakkan oleh pemerintah, masyarakat, dan sekolah dalam hal ini adalah guru agama untuk mencermati kembali dan mencari solusi lewat pengembangan metodologi pendidikan agama untuk tidak hanya berjalan secara konvensional-tradisional dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang telah mempengaruhi banyak para pelajar sehingga mereka berprilaku seperti itu.

PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ (Studi Aplikasi Quantum Teaching di MTs)

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
            Dalam era globalisasi dan pasar bebas manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan "di laut lepas" yang dapat menyesatkan jika tidak memiliki konsep sebagai pedoman untuk bertindak dan untuk mengarunginya (E.Mulyasa, 2002: 4). 
            Gejala fenomenal di balik globalisasi itu direspon secara beragam oleh banyak orang, terutama oleh mereka yang telah menjadi masyarakat pembelajar. Ada orang yang tidak lebih hanya melafalkannya. Ada yang memang siap menghadapinya secara intelektual, ekonomi dan sosial. Sebagian lagi berfikir realistis dengan menjalani kehidupan ini secara bersahaja dan membangun persepsi bahwa hadirnya milenium ketiga adalah sebuah rentang perjalanan waktu secara normal yang tidak lebih dari hukum alam, laksana adanya kelahiran dan kematian (Sudarwan Danim, 2003:1).
            Arus globalisasi semakin menunjukkan kekekarannya untuk memimpin dunia. Semua ide-ide yang bersifat bebas tak terbatas sudah melingkupi masyarakat dunia. Setiap tindakan selalu dinilai dengan uang, jabatan dan kesenganan. Pelanggaran HAM sudah tidak terhitung  lagi banyaknya akibat ulah manusia. Begitu juga dengan kapitalisasi, praktek mencari keuntungan sendiri sekarang sudah bukan sesuatu yang rahasia lagi, bahkan hal ini terkesan malah dilindungi.
            Masalah dekadensi moral telah dirasakan sangat mengglobal seiring dengan tata nilai yang sifatnya mendunia. Dibelahan bumi manapun kerap kali dapat disaksikan berbagai gaya hidup yang bertentangan dengan etika dan nilai agama. Berbagai pendekatan telah dan sedang dilakukan untuk menyelamatkan peradaban manusia dari rendahnya perilaku moral. Pentingnya pendidikan akhlaq bukan dirasakan oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Islam saja, tapi kini sudah mulai diterapkan berbagai negara. Di Jerman misalnya, pelajaran agama Islam juga masuk pada kurikulum sekolah mereka (Muhaimin, 2005:21).

Signifikansi Penggunaan Metode Tanya Jawab Dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MA


BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Salah satu faktor yang diyakini oleh masyarakat dalam kelangsungan hidup manusia adalah pendidikan. Pendidikanlah yang mampu menstimulus perubahasan sosial kearah terbentuknya suatu kondisi masyarakat yang dicita-citakan. Asumsi bahwa untuk mencapai kemajuan peradaban maka salah satu alternatif faktor pendidikan. Hal ini disebabkan masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan, bukan saja sangat penting, bahkan masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan negara itu.
Setiap kegiatan apapun bentuk dan jenisnya, sadar atau tidak sadar, selalu diharapkan kepada tujuan yang ingin dicapai. Bagaimanapun segala sesuatu atau usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa. Dengan demikian, tujuan merupakan faktor yang sangat menentukan.
Pendidikan sebagai bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju kearah cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok  bagi pendidikan ialah arah tujuan yang ingin dicapai.[1]

PERAN KEGIATAN EKSTRA KURIKULER “SEKSI KEROHANIAN ISLAM” DALAM PEMBINAAN MENTAL SISWA SMUN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Siswa adalah suatu komponen input dalam proses pendidikan. Berhasil dan tidak berhasil dalam proses pendidikan banyak tergantung pada bagaimana keadaan, kemampuan, tingkat perkembangan dari siswa itu sendiri. Bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diresapi atau sama sekali tidak dihayati bergantung pada apakah siswa memberi sambutan atau menolaknya. Selain dari itu, hasil pendidikan atau proses kemajuan siswa sudah tentu tidak sama untuk setiap orang, oleh kerena itu antar siswa yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan secara inividual, baik perbedaan fisik, psikologis, maupun perbedaan kondisi social budaya dimana mereka hidup. Berdasarkan uraian tersebut, maka logis dan wajar apabila dalam rangka penyusunaan kurikulum, faktor siswa harus mendapat  perhatian secara seksama.
Dari uraian diatas, kita akan membahas secara singkat tentang: siswa adalah anggota masyarakat, siswa berada dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangan, kebutuhan, minat, dan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa, perbedaan-perbedaan indivual diatara siswa. Dalam pokok-pokok tersebut kemudian kita tinjauan implikasinya dalam penyusunan kurikulum. 
Para siswa Sekolah Menengah sedang berada pada tingkat perkembangan yang disebut “masa remaja” atau pubertas. Mereka berada dalam masa di mana terjadi perubahan-perubahan psikologis. Dalam masa perubahan itu, siswa umumnya mengalami berbagai kesulitan dan masalah di dalam melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya.

Peran Kepala Sekolah Dalam Usaha Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi perserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan pendidikan nasional ditekankan kembali dalam rumusan arah kebijakan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan kualitas manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya pro aktif dan kreatif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal. Rumusan tersebut sesuai dengan penjelasan dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan Undang-Undang[1]. Semua itu merupakan bagian dari program pendidikan nasional yang perlu diupayakan keberhasilannya, terutama oleh kualitas sumber daya manusianya baik yang menjadi pengambil keputusan, penentu kebijakan, pemikir dan perencana maupun yang menjadi pelaksana sektor kedepan dan pelaku fungsi kontrol atau pengawas pembangunan.
Pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dan sekaligus merupakan sumber daya yang sangat penting. Khususnya bagi negara yang sedang berkembang. Dari uraian di atas maka sebagai salah satu jalan keluar yang paling baik untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui jalan pendidikan karena pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan pendidikan akan membantu membentuk kepribadian dimasa yang akan datang dan sekaligus juga mempunyai fungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan nasional.