STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Penerapan Aksiologi dalam Pendidikan

Telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan (Kattsoff, 1992:327)  atau studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (Sarwan, 1984:22). Penerapan aksiologi sebagai nilai-nilai dalam dunia pendidikan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Aliran filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar terhadap dunia pendidikan karena meletakkan dasar-dasar kemerdekaan, dan kebebasan kepada anak didik, (Hamdani, 1993:146). Oleh karena itu, filsafat ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab pendidikan otoriter akan mematikan potensi pebelajar untuk mengembangkan potensinya.
Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru yang memberikan warna dan corak dari kreasi yang dihasilkan dari situasi yang tercipta secara edukatif.
Setiap pebelajar mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang dimilikinya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Potensi tersebut bersifat kreatif dan dinamis untuk memecahkan problema-problema yang dihadapinya.
Sekolah yang ideal adalah sekolah yang pelaksanaan pendidikannya terintegrasi dengan lingkungannya. Sekolah adalah bagian dari masyarakat, sehingga harus diupayakan pelestarian karakteristik lingkungan sekolah atau daerah tempat sekolah itu berada dengan prinsip learning by doing (belajar dengan berbuat). Tegasnya, sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan), melainkan juga sebagai transfer of value (pendidikan nilai-nilai) sehingga anak menjadi terampil dan berintelektual.

Minggu, 01 April 2012

Dasar Filsafah Pendidikan di Indonesia

Dasar pendidikan merupakan suatu Asas atau pondasi untuk mengembangkan dalam bidang pendidikan dan menjadikan pembinaan kepribadiaan. Apabila asas tersebut kokoh maka bangunan yang mau dibangun akan kokoh juga dan asas tersebut berfungsi sebagai sumber peraturan yang akan digunakan serta sebagai pegangan hidup dan pegangan langkah pelaksanaan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai berbagai macam kebudayaan  yang telah menduduki  status tinggi dalam filsafat sebagai ideologi bangsa dan Negara yang memenuhi seluruh aspek kehidupan social, politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan serta mempunyai ajaran ajaran filsafatnya tersendiri bagi setiap bangsa dan Negara. Eksistensi suatu bangsa adalah eksistensi dengan ideology atau dengan filsafat hidup yang mempunyai nilai-nilai hukum dan moral yang hanya dapat ditempuh melalui jalan pendidikan. Pada dasarnya masyarakat Indonesia telah menjalankan prinsip prinsip yang terkandung dalam nilai pancasila dengan melaksanakan aktivitas pendidikan. Untuk menjamin pendidikan itu benar dan prosesnya efektif  dibutuhkan landasan-landasan filosofis dan ilmiah sebagai asas normative dan pedoman pelaksanaan pembinaan. Dalam pengertiannya Filsafat berasal dari bahasa yunani “philosophia” yang secara lazim diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut berakar pada kata “philos”  (pilia, cinta) dan “sophia” (kearifan). Berdasarkan  pengertian bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan. Kata kearifan bisa juga berarti “wisdom” atau kebijaksanaan sehingga filsafat bisa juga berarti cinta kebijaksanaan. Berdasarkan makna kata  tersebut maka mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia.[1] Sedangkan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[2] Ilmu dan pengetahuan merupakan hakekat dari bidang ilmu pendidikan sedangkan filsafat pendidikan merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan. Karena Filsafat pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik-pendidik dan filosof untuk menerangkan, menyelaraskan, mengecam dan mengubah proses pendidikan dengan persoalan-persoalan kebudayaan dan unsur-unsur yang bertentangan didalamnya.[3] Keberadaan filsafat bagi ilmu pengetahuan bukan bersifat insidentil, melainkan filsafat itu merupakan teori umum dan landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.
Dalam sejarahnya Indonesia merumuskan falsafahnya  tersebut dalam  pancasila yang berasal dari kata Sansakerta (Agama Buddha) yaitu untuk mencapai Nirwana diperlukan 5 Dasar/Ajaran, yaitu
1.      Jangan mencabut nyawa makhluk hidup/Dilarang membunuh.
2.      Jangan mengambil barang orang lain/Dilarang mencuri
3.      Jangan berhubungan kelamin/Dilarang berjinah
4.      Jangan berkata palsu/Dilarang berbohong/berdusta.
5.      Jangan minum yang menghilangkan pikiran/Dilarang minuman keras.[4]

Senin, 12 Maret 2012

PENGANTAR FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendahuluan
Ada yang berpandangan bahwa filsafat adalah wilayah pemikiran yang dapat mempengaruhi tingkat keberimanan seseorang. Karena itu, dapatlah dimengerti jika pada anggapan ini filsafat diletakkan sebagai wilayah yang haram disentuh dan dipelajari.
Sebenarnya mempelajari filsafat tidaklah sulit yang dibayangkan sebagian orang. Sebab filsafat pada kenyatannya adalah urusan yang bertalian dengan hidup dan konteks manusia dalam melibatkan sejarahnya. Filsafat merupakan bagian dari hidup manusia sendiri. Pemikiran filosofis dilihat dari sudut ini adalah bentuk pemikiran reflektif yang melihat hidup dari sisi yang lebih dalam dan bermakna.
Pertanyaan tentang keadilan, hak asasi manusia, makna hidup dan hendak kemana manusia setelah mati merupakan medan pemikiran reflektif filosofis. Karena filsafat melihat segala sesuatu dari sudut yang mendalam, filsafat cendrung radikal, mempertanyakan segala sesuatu secara mendasar dan tidak mau melihat gejala yang nampak sebagai hal yang biasa-biasa saja.
Filsafat adalah seni bertanya, mengapa ini begini, kenapa tidak begitu. Pertanyaan demikian adalah spirit dan inti filsafat. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para filsuf melahirkan jawaban-jawaban yang serius dan berimplikasi besar yang kemudian mempengaruhi cara pandang manusia dalam melihat dan mengerti kompleksitas kehidupan[3].
Tulisan ini membahas sedikit tentang Apa yang dimaksud dengan filsafat pendidikan? Cakupannya meliputi apa saja? Berbagai teori tentang filsafat pendidikan?
Memahami Filsafat
Kata filsafat atau falsafah berasal dari perkataan Yunani Philosophia yang berarti kebijkasanaan (philein-cinta, dan Sophia=hikmah, kebijaksanaan). Ada yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata philos (keinginan) dan Sophia (hikmah, kebijaksanaan), dan ada juga yang mengatakan berasal dari kata phia (mengutamakan, lebih suka) dan Sophia (hikmah, kebijksanaan)[4].

ANALISA FILSAFAT DAN MASALAH KEPENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Allah Yang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa, “Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Dalam tujuan Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan ditujukan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.

Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1990. Selain pendidikan dipusatkan untuk membina kepribadian manusia, pendidikan juga diperuntukkan guna pembinaan masyarakat.

FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat PEndidikan Merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Masih Bingung apa Itu Filsafat Pendidikan? Baca TErus Ulasan menarik dibawah ini.
Dalam filsafat Pendidikan Seperti juga dalam filsafat umum terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran. Karena Filsafat Pendidikan merupakan jiplakan tidak langsung dari filsafat itu sendiri. Sebenarnya tidak ada beda antara filsafat pendidikan dengan filsafat itu sendiri. hanya ketika filsafat di tarik kedalam wilayah pendidikan, maka filsafat menjadi filsafat pendidikan. Demikian pula jika filsafat di tarik ke ruang yang membahas tentang pacul, maka filsafat akan berubah nama menjadi filsafat perpaculan.
Jika Dalam Filsafat ada aliran materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, Post-modernisme sampai post-kolonial maka dalam filsafat pendidikan pun tuturut munding (latah) menjadi ada dengan otomatis aliran yang serupa. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan / jiplakan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.
Seorang tokoh filsafat pendidikan (yang ita tidak tahu siapa dan apa maunya)Brubacher (1950) pernah ngomong bahwa filsafat pendidikan memiliki dua kelompok besar (kita tak akan berani membantah hal ini, apalagi dosen kita), silahkan di cek siapa saja kelompok yang pernah di omongkan sama beliaunya

Hubungan filsafat dan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
a.      Latar belakang masalah
Fisafat sebagai “Mater-Scientiarum” (induk ilmu pengetahuan), perumusannya sangat sulit dilaksanakan, sebab nilai filsafat itu hanyalah dapat dimanifestasikan oleh seseorang sebagai filsuf yang otentik. Setiap orang yang ingin mengejar pengertian hidup dan kehidupan itu, maka itu berarti bahwa ia masih di atas jalan menjadi seorang filsuf, untuk lebih memanusiakan dirinya. Sebab berfilsafat tiada lain adalah hidup berpikir dan pemikiran sedalam-dalamnya tentang hidup dan kehidupan itu.
Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenungannya menemukan tiga bentuk eksistensi kebenaran yaitu: ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Ibarat satu garis lurus, maka kebenaran ilmu pengetahuan mengandung kenisbian (elativitas), yang bermuara kepada filsafat sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat kenisbian yang bermuara kepada agama, sebagai kebenaran yang mutlak (absolut) karena bersumber dari Yang Maha Mutlak dan Maha Benar.

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME

BAB I
RINGKASAN MATERI
Essensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progreif di sekolah-sekolah. Essensialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti pengetahuan umum yang harus diberikan di sekolah-sekolah dalam suatu cara yang sistematik dan berdisiplin. Essensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota masyarakat yang produktif.
Essensialisme, sepertihalnya perenialisme dan progresivisme bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri, yang mendirikan suatu bangunan filsafat, malainkan suatu gerakan dalam pendidikan yang memprotes terhadap pendidikan progresivisme. Essensialisme mengadakan protes tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan progresivisme seperti halnya yang dilakukan perenislisme.
Dua aliran filsafat –idealisme dan realisme – yang membentuk corak essensialisme sebagai pendukung essensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.

FILSAFAT PANCASILA: LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN INDONESIA

A. PENGERTIAN FILSAFAT
Filsafat dimulai dengan rasa ingin tahu dan dengan rasa ragu-ragu. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Karakteristik berfikir filsafat adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas hanya mengenal ilmu dari segi pandang ilmu itu sendiri, tapi ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya.
Dalam kehidupan manusia filsafat tidak terpisahkan, karena sejarahnya yang panjang kebelakang zaman dan juga karena ajaran filsafat malahan menjangkau masa depan umat manusia dalam bentuk-bentuk ideology. Pembangunan dan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa pun bersumber pada inti sari ajaran filsafat. Oleh karena itu filsafat telah menguasai kehidupan umat manusia, manjadi norma negara, menjadi filsafat hidup suatu bangsa.
Filsafat adalah suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif). Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikir manusia. Filsafat mencoba mengerti, menganalisis, menilai dan menyimpulkan semua persoalan-persoalan dalam jangkauan rasio manusia, secara kritis, rasional dan mendalam. Kesimpulan-kesimpulan filsafat manusia yang selalu cenderung memiliki watak subjektivitas. Faktor inilah yang melahirkan aliran-aliran filsafat, perbedaan-perbedaan dalam filsafat.
Berdasarkan uraian diatas dapatlah diuraikan pengertian filsafat tersebut. Filsafat berasal dari bahasa Yunani “ philosophos”. “Philos” atau “philein” berarti “mencintai”, sedangkan “sophos” berarti “ kebijaksanaan “. Maka filsafat merupakan upaya manusia untuk memenuhi hasratnya demi kecintaannya akan kebijaksanaan. Namun demikian,, kata “kebijaksanaan” ternyata mempunyai arti yang bermacam-macam  yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya, satu pendapat mengartikan kebijaksanaan dalam konteks luas, yaitu melibatkan kemampuan untuk memperoleh pengertian tentang pengalaman hidup sebagai suatu keseluruhan, penekanannya pada kemampuan untuk mewujudkan pengetahuan itu dalam praktik kehidupan yang nyata. Ada  yang mengartikan filsafat dalam arti sempit yakni sebagai “pengetahuan” atau “pengertian” saja.

FILSAFAT PENDIDIKAN

BAB I
RINGKASAN MATERI
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Beberapa aliran filsafat pendidikan;
ü Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
ü Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
ü Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pandangan Umum Eksistensialisme dalam Pendidikan.

Tabel 2.5 Pandangan Umum Eksistensialisme dalam Pendidikan.
No.
KOMPONEN
Keterangan
(1)
(2)
(3)
1
Hakekat Pendidikan
§ Menghendaki agar pendidikan selalu melibatkan pserta didik dalam mencari pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing dan menemukan jati dirinya, karena masing-masing individu adalah makhluk yang unik dan bertanggung jawab atas diri dan nasibnya sendiri.
2
Tujuan Pendidikan
§ Siswa mengembangkan potensinya masing-masing untuk mencari jati dirinya
3
Kurikulum
§ Secara umum tidak ada penetapan kurikulum, karena setiap individu memiliki kebutuhan dan minat tertentu untuk dipenuhi.
§ Menekankan proses pemikiran refketif.
§ Ilmu-ilmu sastra dan seni sebagai nata pelajaran penting untuk intropeksi dan refleksi
4
Metode
§ Mendorong siswa mengikuti proyek-proyek yang membantu mereka untuk mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan
5
Pelajar
§ Adalah individu yang dapat mengembangkan potensinya masing-masing untuk mencari jati dirinya
6
Pengajar
§ Pembimbing dan stimulator berfikir reflektif melalui panggilan pertanyaan-pertanyaan (inquiry)
§ Bukan pemberi instruksi
§ Memiliki kejuruan ilmiah, integritas dan kreatifitas
§ Figure yang tidak mencampuri perkembangan minat dan bakat siswa.
0 komentar

Pandangan Umum Rekonstruksionalisme dalam Pendidikan.

Tabel 2.4 Pandangan Umum Rekonstruksionalisme dalam Pendidikan.
No
KOMPONEN
Keterangan
(1)
(2)
(3)
1
Hakekat Pendidikan
§ Menghendaki agar peserta didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmuy pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas .
2
Tujuan Pendidikan
§ Tujuan pendidikan rekonstruksionis adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah social, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global dan mengajarkan kepada mereka ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk mengatasi mesalah tersebut
§ Membangun tatanan masyarakat baru.
3
Kurikulum
§ Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi masalah-masalah social, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia, yang termasuk didalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik sendiri; dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah untuk aksi kolektif.
§ Struktur organisasi kurikulum terbentuk dari cabang-cabang ilmu social dan proses-proses penyelidikan ilmiah sebagai metode pemecahan masalah.
4
Metode
§ Analisis kritis terhadap kerusakan-kerusakan masyarakat dan kebutuhan-kebutuhan programatik untuk perbaikan. Dengan demikian menggunakan metode pemecahan masalah, analisis kebutuhan dan penyusunan program aksi perbaikan masyarakat (Scientific inquiry sebagai metode kerja problem solving)
5
Pelajar
§ Siswa hendaknya dipandang sebagai bunga yang sedang mekar. Hal ini mengandung arti bahwa siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur social yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.
6
Peranan Guru
§ Guru sebagai direktur proyek. Oleh karena guru harus membuat para peserta didik manyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, membantu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya dan menjamin bahwa mereka memiliki keterampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, maka tugas guru adalah sebagai direktur proyek. Apabila mereka tidak memilikinya, adalah tugas guru untuk mengajarkannya
§ Guru sebagai Pemimpin Penelitian. Guru harus terampil dalam membantu peserta didik menghadapi kontroversi dan perubahan, karena sebagian tersebar masalah-masalah yang dipecahkan adalah masalah-masalah controversial. Guru harus menumbuhkan berpikir berbeda-beda sebagai suatu cara untuk menciptakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang menjanjikan keberhasilan. Guru harus mampu mengorganisasikan dengan baik berbagai macam kegiatan belajar serempak.
.

Pandangan Umum Progressivisme Tentang Teori Pendidikan.

Tabel 2.3 Pandangan Umum Progressivisme Tentang Teori Pendidikan.

] No
KOMPONEN

Keterangan

(1)
(2)
(3)
1
Hakekat Pendidikan
§ Menghendaki pendidikan yang pada hakekatnya progresif., tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan
2
Tujuan Pendidikan
§ Siswa memiliki ketrampilan, alat dan pengalaman social (interaksi dengan lingkungan)
§ Siswa memiliki kemampuan problem solving (personal maupun social).
§ Tujuan pendidikan keseluruhan adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak
3
Kurikulum
§ Kurikulum dibangun dari pengalaman personal dan social siswa
§ Ilmu social sebagai bidang inti untuk problem solving
§ Ketrampilan komunikasi, proses matematika, scientific inquiry secara interdisipliner sebagai alat problem solving
§ Buku sebagai alat proses belajar, bukan sumber pengetahuan pokok
§ Kurikulum pendidikan Progresif adalah kurikulum yang berisi pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan belajar yang diminati oleh setiap siswa (experience curriculum)
§ Sebagai contoh kurikulum pendidikan progresif dari Lester Dix adalah berisi : studi tentang dirinya sendiri, studi tentang lingkungan social, studi tentang lingkungan alam dan studi tentang seni.
4
Metode
§ Metode belajar aktif. Metode pendidikan Progresif lebih berupaya penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
§ Metode Memonitor Kegiatan Belajar. Mengikuti proses kegiatan-kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan tertentu apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar proses berlangsungnya kegiatan-kegiatan belajar tersebut.
§ Metode Penelitian Ilmiah. Pendidikan Progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep, sedangkan metode pemecahan masalah lebih tertuju pada pemecahan masalah-masalah kritis.
§ Pemerintahan Pelajar. Pendidikan Progresif memperkenalkan pemerintahan pelajar dalam kehidupan sekolah (student government) dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah, sehingga pelajar diberikan kesempatan untuk turut serta dalam penyelenggaraan kehidupan di sekolah.
5
Pelajar
§ Pendidikan berpusat pada anak. Anak merupakan pusat dari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. sebab mengajar yang bermutu berarti aktivitas siswa, pengembangan kepribadian siswa, studi ilmiah tentang pendidikan dan latihan guru sebagai seniman pendidikan..
§ Anak adalah unik. Pendidikan progresif sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas sendiri; anak mempunyai alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian anak harus diperlakukan berbeda dari orang dewasa.
6
Pengajar
§ Pembimbing dalam proyek dan aktivitas problem solving.
§ Guru dalam melakukan tugasnya dalam praktek pendidikan berpusat pada anak mempunyai peranan-peranan sebagai (a) Fasilitator, atau orang yang menyediakan dirinya untuk memberikan jalan bagi kelancaran proses belajar sendiri siswa; (b) Motivator, atau orang yang mampu membangkitkan minat siswa untuk terus giat belajar sendiri menggunakan semua alat dirinya; (c) Konselor, atau orang yang dapat membantu siswa menemukan dan mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapi setiap siswa dalam kegiatannya belajar sendiri.; (d) Guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, serta kecintaan kepada anak, agar dapat melaksanakan peranan-peranan dengan baik. Untuk itu guru harus sabar, fleksibel, interdisipliner, cerdas dan kreatif

Pandangan Umum Perennialisme tentang Pendidikan

Tabel 2.1 Pandangan Umum Perennialisme tentang Pendidikan
No
KOMPONEN
Keterangan
(1)
(2)
(3)
1
Hakekat Pendidikan
§ Menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan, karena ia telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional
2
Tujuan Pendidikan
§ Membantu siswa menemukan kembali dan menginternalisasi kebenaran (universal dan konstan) masa lalu dan sebagai penyerapan dan penguasaan fakta-fakta dan informasi.
§ Membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki. Oleh karena kebenaran-kebenaran tersebut universal dan konstan, maka kebenaran-kebenaran tersebut hendaknya menjadi tujuan-tujuan pendidikan yang murni. Kebenaran-kebenaran hakiki dapat dicapai dengan sebaik-baiknya melalui latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran dan latihan karakter sebagai suatu cara mengembangkan manusia spiritual.
3
Kurikulum
§ Kurikulum berpusat pada mata pelajaran, dan cenderung menitikberatkan pada sastra, matematika, bahasa dan humaniora, termasuk sejarah.
§ Kurikulum adalah pendidikan liberal
4
Metode
§ Kajian terhadap buku-buku besar yang membahas peradaban Barat melalui membaca dan diskusi.
§ Atau latihan mental dalam bentuk diskusi, analisis buku melalui pembacaan buku-buku besar tentang peradaban Barat tersebut.
5
Pelajar
§ Makhluk rasional yang dibimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis.
6
Pengajar
§ Ahli dalam bidangnya punya kemampuan dalam bidang keguruan, tidak suka mencela/menyalahkan pemilik kewenangan
§ Pengajar sebagai pendisiplin mental dan pemimpin moral dan spiritual.
§ Pengajar mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Untuk itu Guru hendaknya orang yang telah menguasai suatu cabang ilmu, seorang guru yang ahli (a master teacher) bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang tepat, dan yang wataknya tanpa cela.
§ Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan.

Pandangan Umum Esensialisme Tentang Pendidikan.

Tabel 2.2 Pandangan Umum Esensialisme Tentang Pendidikan.
No.
KOMPONEN
Keterangan
(1)
(2)
(3)
1
Hakekat Pendidikan
§ Menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan dan nilai-nilai ini hendaklah yang sampai kepada manusia melalui sivilasasi yang telah teruji oleh waktu.
§ Tugas pendidikan adalah sebagai perantara atau pembawa nilai-nilai yang ada dalam gudang di luar ke dalam jiwa peserta didik, sehingga ia perlu dilatih agar ia mempunyai kemampuan penyerapan yang tinggi
2
Tujuan Pendidikan
§ Menyampaikan warisan budaya dan sejarah seputar inti pengetahuan yang terakumulasi begitu lama dan bermanfaat untuk diketahui semua siswa. Dan Siswa harus mampu menyerap ide-ide.
§ Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Ketrampilan –ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan.
§ Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdesan.
3
Kurikulum
§ Subject Centered. Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.
§ Kurikulum sekolah dasar ditekankan pada pengembangan ketrampilan dasar dalam membaca, menulis dan matematik.
§ Kurikulum sekolah menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap mata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu unsure utama bagi pendidikan umum yang sangat diperlukan untuk dapat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin-disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka.
§ Penguasaan fakta dan konsep-konsep-konsep pokok dan disiplin-disiplin yang inti adalah wajib.
4
Metode
§ Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered). Umumnya dinyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar. Oleh karena itu padagogi yang bersifat lemah lembut harus di jauhi dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode latihan tradisional yang tepat.
§ Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas dan penguasan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
§ Menekankan pada pengembangan pada mind siswa dan kesadaran akan dunia fisik sekitarnya serta Menekankan penguasaan fakta dan konsep dasar tentang bidang-bidang essensial.
5
Pelajar
§ Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta dan ketrampilan –ketrampilan pokok yang siap siaga melakukan latihan-latihan inteltif atau berpikir
6
Pengajar
§ Master of particular subject
§ Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
§ Guru berperanan sebagai sebuah contoh dalam pengawalan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan. (Model yang patut ditiru dan sebagai suri tauladn terhadap nilai-nilai yang didamkan)
§ Master of particular subject.
§ Pemilik kewenangan di bidang kehlian vaknya.

PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT SOCRA­TES (470-399 SM)

Pada titik waktu ini dalam sejarah filsafat muncullah salah seorang pemikir besar kuno (470-399 SM) yang mana gagasan-gagasan filosofisnya dan metode pengajarannya ditunjukan untuk mempengaruhi secara mendalam dan abadi terhadap teori dan praktik pendidikan diselu­ruh dunia Barat. Socrates yang dilahirkan di Athena, is adalah putra seorang pemahat dan seorang bidan yang hanya sedikit dikenal kecuali nama mereka, yaitu Sophonicus dan Phaenarete (Smith, 1986: 19).
Adapun prinsip-prinsip dasar pendidikan menurut Socrates adalah, metode dialektis, yang digunakan oleh Socrates yang mana telah menjadi dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar untuk berpikir secara cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seseorang guru tidak memaksa wibawanya atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan­kebiasaannya dan kekuatan mental.
Tujuan pendidikan yang benar menurut Socrates adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi (Smith, 1986: 25).