STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

KAITAN PSIKOLOGI AGAMA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

1. Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama berasal dari dua suku kata, yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab (Jalaluddin, dkk).
Sedangkan Agama, menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada tuhan, atau juga disebut dengan nama dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Menurut Harun Nasution, agama berasal darikata Al-Din yang berarti undang -undang/ hukum, religi (latin) atau relege berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Dan kata Agama terdiri dari kata akronim dari a ; tidak, gam; per gi yang berarti tetap di tempat dan diwarisi turun menurun.
Menurut Zakiah Darajat, psikologi agama adalah meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang yang mempelajari berapa besar pengaruh kenyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Di sampinga itu, psikologi agama jua mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mem pengaruhi kenyakinan tersebut.
http://pujanggawati.blogspot.com/2010/03/makalah-psikologi-agama.html
Dengan demikian dapat didefinisikan, psikologi agama adalah ilmu yang membahas tentang aktivitas dalam diri manusia dan mencakup salah satu aspek jiwa yaitu agama.
2. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakikat kejadiannya (jalaluddin, 2004: 19).
Pendidikan Agama islam adalah sebuah upaya nyata yang akan mengantarkan umat islam kepada perkembangan rasa agama. Umat Islam akan lebih memahami dan terinternalisasi esensi rasa Agama itu sendiri. Pertama yaitu rasa bertuhan, rasa bertuhan ini meliputi merasa ada sesuatu yang maha besar yang berkuasa atas dirinya dan alam semesta, ada rasa ikatan dengan sesuatu tersebut, rasa dekat, rasa rindu, rasa kagum dan lain -lain. Kedua yaitu rasa taat, rasa taat ini meliputi ada rasa ingin mengarahkan diri pada kehendak -Nya dan ada rasa ingin mengikuti aturan-aturan-Nya.
Adapun unsur-unsur pendidikan (pengajaran) di dalam al-Qur’an seperti: mauizah atau nasihat, dengan bercerita, perumpamaan, mensupport (pahala dan siksa), dan peristiwa-peristiwa yang mengiringi kejadian. (Mahmud Khalifah, 2009:31)

Kamis, 04 Oktober 2012

PENYAKIT JIWA DAN PENANGGULANGANNYA (DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN)

I. PENDAHULUAN
Semenjak adanya mahluk yang berfikir yaitu manusia, maka dia terus menerus berusaha menyingkap rahasia yang meliputi dirinya dan mencari tahu siapakah yang kuasa menciptakan alam ini, yang rumit susunannya, penuh dengan benda-benda yang menakjubkan.
Manusia mengamati segala peristiwa yang menyangkut isi alam dan didapatinya, bahwa selalu ada perubahan dan peredaran, selalu silih berganti dan berubah, tidak ada yang tetap dan kekal.[1] Melalui observasi, eksperimen dan perhitungan manusia mendapatkan bahwa dunia penuh dengan keteraturan. Didalamnya ada hubungan-hubungan yang pasti antara unsur-unsur dan fenomenanya yang diatur oleh hukum-hukum yang pasti dan kokoh. Eksistensi keteraturan yang sistematis tersebut begitu pasti sifatnya sehingga tidak ada satupun kejadian alam yang tidak terencana atau tidak ada kaitannya dengan fenomena lainnya.[2]
Al-Qur’an sebagai sumber dasar untuk mengetahui wawasan Islam atas dunia, berulang kali menyebutkan tanda-tanda Allah dan menuntut manusia untuk memikirkannya, dan melalui itu mengetahui sumber eksistensinya, yaitu Allah.[3]
Kitab suci al-Qur’an mengajak orang arif, orang yang berfikir, dan orang yang waspada untuk merenungkan secara mendalam dunia ini dan keajaiban-keajaiban dan bahkan untuk merenungkan peristiwa-peristiwa alamiah dan sebab-sebabnya agar dapat memperoleh pengetahuan tentang Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Yang Maha Arif, dan Pencipta Yang Maha Esa Pengasih. Ayat-ayat al-Qur’an sebagian dimaksudkan untuk menyadarkan manusia dan menarik perhatian manusia pada isu-isu yang muncul setelah eksistensi pencipta seperti tidak bersekutu. Pengetahuan dan kekuasaan tidak terbatas, kearifan hati, dan sifat-sifat lain, khususnya kekuasaan untuk membangkitkan kembali manusia dari kematiannya, kemudian memberi manusia kehidupan abadi dan selama kehidupan inilah manusia akan mendapat pahala atau hukuman selaras dengan kehidupan yang dijalaninya di bumi.
Manusia yang akrab berteman dengan fenomena alam semesta adalah manusia yang banyak mendapatkan kemudahan dan kenikmatan dari alam semesta itu sendiri. Pemahaman yang kontekstual, holistik, komprehensif tentang perilaku alam semesta menjadikan manusia semakin memahami makna kehidupan dengan berbagai aspeknya yang bersifat multidimensional.[4]

PERAN PSIKOLOGI DALAM PROSES DAKWAH

I. PENDAHULUAN
Dalam masyarakat modern, kedudukan dan peran psikologi dapat dikatakan sebagai sarana efektif berhasil tidaknya tujuan yang diharapkan, baik secara individu maupun secara kelompok, sebab psikologi memberikan suatu petunjuk yang berdasarkan berbagai macam teori tentang bagaimana seharusnya manusia berbuat untuk dirinya ataupun untuk masyarakat.
Di samping itu, psikologi memberikan pula cara-cara bagaimana yang lebih tepat dalam pemecahan masalah-masalah kemanusiaan, baik ia sebagai individu atau sebagai kelompok masyarakat, begitu pula dapat diterapkan dalam masalah agama, khususnya sebagai acuan metodologi dakwah, merupakan suatu yang tidak dapat ditinggalkan. (M. Arifin, 1997 : 10-12).
Dari segi psikologi bahwa dakwah dalam prosesnya dipandang sebagai pembawa perubahan, atau suatu proses. Dari segi dakwah, psikologi banyak memberi jalan pada perumusan tujuan dakwah pemilihan materi dan penetapan metodenya. Bagi seorang Da’i atau juru dakwah dengan mempelajari metode psikologi yang mana psikologi dapat memungkinkan mengenal berbagai aspek atau prinsip yang dapat menolongnya menelaah tingkah laku manusia dengan lebih kritis dan juga dapat memberikan kepadanya pengertian yang lebih mendalam tentang tingkah laku dan juga psikologi memberikan jalan bagaimana menyampaikan materi dan menetapkan metode dakwah kepada individu manusia yang merupakan makhluk totalitas (psikofisik) dan memiliki kepribadian baik dari faktor dalam maupun pengaruh dari luar.
Maka yang perlu diperhatikan oleh juru dakwah adalah situasi dan kondisi masyarakat obyek khususnya situasi psikologisnya. Manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani yang unik. Proses perubahan dan perkembangan pribadinya sangat rumit. Maka Da’i yang menghadapinya juga komplek sehingga sebagai peran psikologinya sangat dibutuhkan.

PSIKIS MANUSIA TERHADAP KONSEP-KONSEP AL-QUR’AN TENTANG MANUSIA

I. PENDAHULUAN
Manusia sebagai kenyataan fisik material terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu komposisi yang menunjukkan eksistensi manusia secara fisik biologis. Secara psikis, manusia juga memiliki aspek-aspek dan dimensi-dimensi psikis yang membentuk suatu struktur / komposisi totalitas psikis manusia.[1]
II. PEMBAHASAN
Secara bahasa kata motivasi berasal dari bahasa Inggris “motivation” yang kata kerjanya adalah motivate yang berarti “to provide with motives, as the characters in a story or play”. Artinya : “Sebagai karakter dalam cerita / permainan”. Berdasarkan itu, dapat dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan. Dalam istilah psikologi, motivation adalah “a general term referring to the regulation of need–satisfying and goal–seeking behaviors”. Artinya : “motivasi adalah istilah umum yang merujuk kepada perputaran pemenuhan kebutuhan dan tujuan tingkah laku”.[2]
Berdasarkan sifatnya yang intrinsik, motivasi muncul sebagai akibat adanya tiga hal pokok, yaitu kebutuhan pengetahuan, dan aspirasi cita-cita. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul sebagai akibat adanya tiga hal pokok juga, yaitu : ganjaran, hukuman, persaingan / kompetisi. Sejalan dengan itu, maka motivasi itu berguna dan bermanfaat bagi manusia sebagai: menggerakkan tingkah laku, mengarahkan tingkah laku, menjaga dan menopang tingkah laku. Kecuali itu, yang tak kalah pentingnya adalah bahwa motivasi itu juga mempunyai peranan dan fungsi yang besar bagi manusia, yaitu : 1) menolong manusia untuk berbuat / bertingkah laku. 2) menentukan arah perbuatan manusia, dan 3) menyeleksi perbuatan manusia.
Peranan yang demikian menentukan ini, dalam konsep Islam disebut niyyah dan ibadah. Niyah merupakan pendorong utama manusia untuk berbuat / beramal. Sementara ibadah adalah tujuan manusia berbuat / beramal. Maka perbuatan manusia berada pada lingkaran niyyah dan ibadah. Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan bahwa perbuatan sangat ditentukan oleh niyat.
إنّـما لأعمـال بالنيـة
“Sesungguhnya amal perbuatan itu ditentukan oleh niyatnya”[3]

Rabu, 03 Oktober 2012

AL-RUH MANUSIA DALAM AL-QUR’AN

I. PENDAHULUAN
Manusia terdiri dari ruh dan jasad, karenanya Allah Swt menundukkan keduanya secara keseluruhan, baik ketika di mahsyar, diberi pahala maupun disiksa. Ruh adalah makhluk. Beberapa hadits mengidentifikasikan bahwa ruh adalah materi yang lembut. Bagi sementara pihak yang berkata bahwa ruh adalah qadim, merupakan kekeliruan besar.
Ahli hakikat dari kalangan ahli sunnah berbeda pandangan soal ruh. Ada yang berpendapat, ruh adalah kehidupan, yang lain berpandangan ruh adalah kenyataan yang ada dalam hati, yang bernuansa lembut. Allah Swt menjalankan kebiasaan makhluk dengan mencipta kehidupan dalam hati, sepanjang arwahnya menempel di badan. Manusia hidup dengan sifat kehidupan, tetapi arwah selalu di cetak di dalam hati dan bisa naik ketika tidur dan terpisah dengan badan, kemudian kembali kepada-Nya.[1]

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian al-Ruh
Menurut Ibnu Zakariya (w. 395 H / 1004 M) menjelaskan bahwa kata al-ruh dan semua kata yang memiliki kata aslinya terdiri dari huruf ra, wawu, ha; mempunyai arti dasar besar, luas dan asli. Makna itu mengisyaratkan bahwa al-ruh merupakan sesuatu yang agung, besar dan mulia, baik nilai maupun kedudukannya dalam diri manusia.[2]
Al-Raqib al-Asfahaniy (w. 503 H / 1108 M), menyatakan di antara makna al-Ruh adalah al-Nafs (jiwa manusia). Makna disini adalah dalam arti aspek atau dimensi, yaitu bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia adalah al-ruh.[3]
Nyawa (ruh) menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian, pertama : tubuh halus (jisim lathif). Sumbernya itu lubang hati yang bertubuh. Lalu bertebar dengan perantaraan urat-urat yang memanjang ke segala bagian tubuh yang lain. Mengalirnya dalam tubuh, membanjirnya cahaya hidup, perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman dari padanya kepada anggota-anggotanya itu, menyerupai membanjirnya cahaya dari lampu yang berkeliling pada sudut-sudut rumah. Sesungguhnya cahaya itu tidak sampai kepada sebagian dari rumah, melainkan terus disinarinya dan hidup itu adalah seperti cahaya yang kena pada dinding. Dan nyawa itu adalah seperti lampu. Berjalannya nyawa dan bergeraknya pada batin adalah seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah, dengan digerakkan oleh penggeraknya.

Senin, 25 Juni 2012

TINJAUAN PSIKOLOGIS MENGENAI PENDIDIKAN DAN AJARAN AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai masalah kejiwaan manusia, dan didalam dunia pendidikan ilmu psikologi ini digunakan untuk membantu mengenali jiwa anak didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar semakin lancar. 
Berbicara mengenai hubungan psikologi dengan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan makalah yang akan penyusun bahas begitu sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru khususnya dapat memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan anak didik artinya psikologi digunakan untuk pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pengajaran sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan mudah tercapai.
  Banyak berbagai buku yang membahas tentang tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum ,akan tetapi dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan yaitu mengenai tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan ajaran agama, oleh karena itu yang dibahas hanya sebatas perkembangan psikologis seseorang dari perkembangan beragamanya, sehingga akhirnya kita ( pendidik / guru ) mudah mencari bahan dan cara pendidikan serta pengajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikologisnya.
Gambaran mengenai pembahasan dalam makalah ini yaitu;
a) Pengertian psikologi, pendidikan dan pengajaran agama.
b) Tinjauan psikologis mengenai perkembangan beragama
c) Cara pendidikan dan pengajaran agama.
Penyusun menyadari dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan akan adanya kritik dan saran,untuk perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya.

Sabtu, 12 Mei 2012

Psikologi dan Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an

Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.[5] Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[6]
Pergulatan Psikologis
Dalam kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan dan sifat-sifat malaikat yang terkadang timbul pergulatan antara dua aspek kepribadian manusia tersebut. Adakalanya, manusia tertarik oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan adakalanya ia tertarik oleh kebutuhan spiritualnya.
Al-Qur’an mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.

Kamis, 08 Maret 2012

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA TERHADAP REMAJA Dan LINGKUNGAN MASYARAKAT

PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk sosial yang eksploratif dan potensial. Dikatakan makhluk eksploratif ,karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis . Manusia sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan secara nyata.

Dalam diri kita selain mempelajari tentang perkembangan jiwa keduniaan ,kita juga mempelajari jiwa keagamaan karena kita harus melihat kebutuhan-kebutuhan manusia secara menyeluruh sebab kebutuhan manusia yang kurang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani akan menyebabkan timbul ketimpangan dalam perkembangan.
Jiwa keagamaan termasuk aspek rohani (psikis) akan sangat tergantung pada aspek fisik, dan dengan demikia pula sebaliknya. Oleh karena itu sering dikatakan kesehatan fisik akan sangat mempengaruhi pada kesahatan mental. Selain itu perkembangan juga ditentukan oleh tingkat usia.


Pendidikan Agama Dasar Pembentukan Pribadi Anak
Dalam suatu pendidikan jangan hanya dituangkan pengetahuan semata-mata kepada anak didik, tetapi harus juga diperfiatikan pembinaan moral, sikap dan tingkah laku. Oleh karena itu, dalam setiap pendidikan pengetahuan harus ada pendidikan moral dan pembinaan kepribadian yang sehat. Dasar dan tujuan pendidikan moral biasanya ditentukan oleh pandangan hidup dari lembaga pendidikan itu sendiri, sertajuga harus sesuai dengan dasar dan tujuan negara. Kalau negara itu berdasarkan Demokrasi, maka pendidikan yang dilakukan terhadap anak-anakjuga bertujuan membinajiwa demokrasi. Begitu juga halnya kalau negara itu berdasarkan Otokratis, Ketuhanan.

Rabu, 07 Maret 2012

PSIKOLOGI AGAMA (sebuah pengantar)

Pengertian Psikologi Agama
Pada suatu fase dalam pengkajian psikologi agama, seseorang dihadapkan kepada pertanyaan tentang apakah yang dimaksud dengan kata-kata “psikologi” dan “agama.” Kedua kata tersebut dipergunakan dengan berbagai macam makna. Ini tidak berarti tidak ada kendala yang tidak teratasi dalam memahami kedua kata tersebut secara pasti. Namun perlu dikemukakan bahwa penulis tertentu akan menjelaskan bagaimana dia digunakan kata-kata tersebut.
Kata “psikologi” sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah-laku dan pengalaman manusia. Ilmu ini telah berkembang pesat sejak awal abab [ke-20] ini, baik dalam metode-metode penelitiannya maupun dalam cara-cara perkembangan terhadap hasil-hasil penelitian-penelitian tersebut, yakni dalam “sistem konseptual”nya. Penelitian psikologi dapat dianggap sebagai metode penelitian yang diarahkan kepada pemahaman terhadap apa yang diperbuat, dipikirkan dan dirasakan oleh manusia.
Metode-metode ini mencakup metode-metode eksperimental pada leboratorium psikologik, penggunaan metode-metode statistik (seperti “analisis faktor”), penggunaan berbagai tes psikologik, berbagai penelitian dengan berbagai kuesyener yang dialamatkan kepada berbagai kelompok masyarakat, kajian-kajian sejarah kasus terhadap orang-orang tertentu, dan sebagainya. Kadang-kadang data untuk penlitian-penelitian oleh para ahli psikologi itu ditemukan dalam bentuk cetakan (misalnya dalam berbagai otobiografi keagamaan), dan kadang-kadang dia mengumpulkannya untuk diri sendiri.

Senin, 26 Desember 2011

Model dan Prosedur Penerapan Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning Strategy)

Berikut ini adalah beberapa metode / strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar (khususnya mata pelajaran pendidikan agama Islam), diantara metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pembelajaran Terbimbing (Guided Teaching)
Dalam tehnik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan selingan yang mengasyikkan di sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini memungkinkan guru untuk mengetahui apa yang telah di ketahui dan dipahami oleh siswa sebelum memaparkan apa yang guru ajarkan. Metode ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak. (Silberman, 1996: 137)

Prosedur:
1. Ajukan pertanyaan atau serangkaian pernyataan yang menjajaki pemikiran siswa dan pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban, semisal “Bagaimana kamu menjelaskan seberapa cerdasnya seseorang?”.
2. Berikan waktu yang cukup kepada siswa secara berpasangan atau berkelompok untuk membahas jawaban mereka.

Sabtu, 26 November 2011

PERKEMBANGAN AGAMA PADA MASA DEWASA

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa dewasa, atau ada juga yang menyebutnya masa adolesen. Ketika mereka meginjak dewasa, pada umumnya mempunyai sikap: menemukan pribadinya, menentukan cita-citanya menggariskan jalan hidupnya ,bertanggung jawab, menghimpun norma-norma sendiri.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tingkat perkembangan agama pada masing-masing individu selalu berbeda-beda dan mengalami proses sesuai perkembangan jiwanya. Bahkan dapat dikatakan semakin bertambah usia maka semakin tingggi keagamaan yang ia miliki. Begitu juga dengan masa dewasa. Ketika seseorang menginjak dewasa maka banyak hal yang ia rasakan sebagai akibat dari keagamaan. Dalam mengalami proses tersebut banyak hal yang mempengaruhinya. Untuk dapat berkembang secara normal, manusia membutuhkan bantuan dari luar dirinya, dapat berupa bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Dengan adanya bimbingan dan pengarahan tersebut diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri yang sudah tersimpan sebagai potensi bawaannya.sehingga apabila tidak searah dengan potensi yang dimilikinya akan berdampak negatif pada perkembangan manusia itu sendiri. Hal tersebut akan terlihat dalam berbagai sikap dan tingkah laku yang menyimpang dalam kaitannya dengan kegagalan manusia untuk memenuhi kebutuhan baik yang berupa fisik/non psikis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam hal mempelajari perkembangan jiwa keagamaan, perlu dilihat dulu kebutuhan-kebutuhan manusia secara menyeluruh. Sebab kebutuhan yang kurang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani akan menyebabkan timbulnya ketimpangan dalam perkembangan.

Minggu, 03 Juli 2011

MEMBIMBING KEMATANGAN BERAGAMA (MATURE RELIGION) ANAK USIA DINI

I. PENDAHULUAN
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematanan beragama, jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menganut suatu agama karena menurut keyakinannya agama tersebutlah yang terbaik. Karena itu ia berusaha menjadi penganut yang baik, keyakinan itu ditampilkannya dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya.[1]

Kematangan Beragama

PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui dalam perkembangan manusia, manusia mengalami dua macam perkembangan yaitu perkembangan jasmani dan perkembangan rohani. Perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis, puncak perkembangan jasmani yang dicapai manusia disebut kedewasaan. Sebaliknya perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (Abilitas), pencapaian tingkat abilitas tertentu bagi perkembangan rohani disebut istilah kematangan (Maturity).
Dalam makalah ini kami mencoba untuk memaparkan criteria orang yang matang beragama yang erat kaitannya dengan perkembangan manusia yang semua itu kami jelaskan dalam makalah ini.

Konversi Agama ( Psikologi Agama).

I. Pengertian Konversi Agama
Dampak yang paling menonjol dari modernitas adalah keterasingan (alienasi) yang dialami oleh manusia. Alienasi muncul dari cara pandang dualisme, yaitu: jiwa-badan, makhluk-Tuhan, aku-yang lain, kapitalis-proletar, dll. Akhirnya terjadilah gejala reifikasi atau pembedaan antar sisi dari dualitas tersebut. Ini disebut pula objektivikasi, yaitu manusia memandang dirinya sebagai objek, seperti layaknya sebuah benda.
Dalam filsafat kita mengenalnya dengan aliran materialisme. Semakin kuat pengaruh materialisme, semakin kuat pula gejala alienasi (keterasingan) diderita umat manusia. Anda pasti tidak menghendaki filosofi akan berdampak sedemikian menyedihkan. Dan masyarakat dunia Barat adalah yang paling menderita karena materialisme memang berkembang biak sangat subur di sana.

PSIKOLOGI AGAMA

(2 SKS)
Tujuan: Agar mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.

TOPIK-TOPIK PERKULIAHAN
1.     DEFINISI DAN SEJARAH PSIKOLOGI AGAMA
Psikologi agama adalah bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Sejarah Psikologi Agama :
-          Early period (1899-1930)
. 1899 Edwin Starbuck: “The Psycology of Religion”,
. 1902 William James: “The Varieties of Religious Experience”,
-          Middle Period (1930-1950)
-          Contemporary Period (> 1950)

PENDEKATAN MODERN:INTEGRASI PENDEKATAN AGAMA DAN PEKERJAAN SOSIAL

Abstrak
Dalam perkembangannya, Iptek acap kali berbenturan atau dibenturkan dengan agama yang berakibat pada kegagalannya dalam misi kemanusian yang dilandasi pada bingkai humanis , demokratis dan berkeadilan. Distorsi ini juga dapat dialami oleh profesi pekerjaan sosial sebagai aktivitas kemanusiaan yang abai terhadap nilai-nilai keagamaan di satu sisi dan misi kemanusiaan oleh agama yang tidak dibingkai oleh keilmuan pada sisi yang lain.
Integrasi antara keduanya dalam praktek pekerjaan sosial merupakan sebuah keharusan sebab pendekatan moderen dan agama dalam praktek pekerjaan sosial merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Namun, pertanyaan kemudian adalah Dimana letak urgensi integrasi antara praktek peksos modern dan keagamaan tersebut.?

Jumat, 01 Juli 2011

Tahapan Perkembangan Keagamaan

Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya, pada saat-saat tertentu, individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat, 1970). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari.

Rabu, 29 Juni 2011

Hakikat Cinta

Cinta merupakan suatu keadaan perasaan yang sifatnya kuat, menakjubkan, mendalam, dan penuh kelembutan terhadap suatu objek tertentu. Karena merupakan suatu yang bersifat personal, seringkali cinta dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin untuk diteliti secara eksperimental, sehingga para ahli psikologi pun mengalami kesulitan tersendiri untuk mengungkapkan dan menjelaskan lebih jauh tentang perasaan cinta ini. Kendati demikian, menurut para ahli bahwa perekembangan perasaan cinta seseorang pertama kali dibentuk dan diperoleh terutama dari ibu atau pengasuhnya pada masa bayi, melalui segenap upaya yang dilakukan ibu dalam rangka pemenuhan berbagai kebutuhan dasar sang bayi.

Selasa, 28 Juni 2011

HAKIKAT HIDUP BERAGAMA

A.      Pendahuluan
Kehidupan beragama seyogianya mampu didayagunakan untuk meningkatkan keluruhan moral dan menguatkan daya tahan mental dalam mengarungi kehidupan ini. Kualitas moral yang makin meningkat dapat mengantarkan manusia makin memiliki rasa kemanusiaan yang makin tinggi. Agama sesungguhnya sudah memberikan kedudukan yang lebih mulia kepada manusia kalau dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Karena itu kehidupan beragama seyogianya berdaya guna untuk membangun masyarakat yang lebih humanis dari pada manusia yang tidak menganut suatu agama.
Kalau ada manusia yang semakin tidak memiliki rasa kemanusiaan karena agama yang dianutnya, tentunya patut dipertanyakan cara manusia tersebut memahami agama yang dianutnya. Agama itu adalah sumber kebenaran dari Tuhan. Agama bukan sumber pembenar setiap perbuatan dengan mengatasnamakan agama. Banyak orang melakukan suatu perbuatan dengan mengatasnamakan agama, tetapi perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. Agama adalah media untuk menuju jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan dalam kitab suci.

Kamis, 26 Mei 2011

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Dari sudut pandang ini, agama disatu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan atau bahkan akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya. Pada sisi lain, karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya setempat, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dengan budaya. Persoalanya adalah apakah agama lebih dominan mempengaruhi terhadap budaya, atau sebaliknya apakah budaya lebih dominan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian sosiologi, baik agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.