STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Metodologi Studi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Studi Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

PEMBINAAN MASYARAKAT MADANI

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Banyaknya fenomena penindasan rakyat yang dilakukan oleh pemerintah yang sedang berkuasa merupakan realitas yang sering kita lihat dan kita dengar dalam setiap pemberitaan pers, baik melalui media elektronik maupun media cetak. Sebut saja kasus penindasan yang terjadi di Indonesia yang ketika Orba masih berkuasa, yakni penindasan terhadap keberadaan hak tanah rakyat yang diambil penguasa dengan alas an pembangunan. Atau jagu realitas pengekangan dan pembungkaman kebebasan pers dengan adanya pemberedalan beberapa media masssa oleh penguasa, serta pembantaian para ulama (kiayi) dengan dalil dukun santet sekitar tahun 1999 yang dilakukan oleh kelompok oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal ini merupakan bagian kecil dari fenomena kehidupan yang sangat tidak menghargai terhadap posisi rakyat di hadapan penguasa dan bagian dari fenomena kehidupan yang tidak menghargai kebebasan berserikat dan berpendapat.
Melihat bagian kecil dari realitas tersebut, apa yang saudara pikirkan ketika saudara mendengar atu melihat fenomena pembantaian massal? Apa yang saudara pikirkan ketika mendengar dan mengetahui penculikan para aktivis demokrasi diberbagai Negara , termasuk Indonesia? Apa yang saudara lakuan ketika menyaksikan pembatasan ruang public untuk mengemukakan pendapat di muka umum?.
Pertanyaan-pertantaan tersebut pada akhirnya akan bermuara pada perlunya dikaji kembali kekuatan rakyat / masyarakat dalam konteks interaksi-relationship, baik antara rakyat dengan Negara, maupun antara rakyat dengan rakyat. Kedua pola hubungan interaksi tersebut akan memposisikan rakyat sebagai bagian integral dalam komunitas Negara yang memiliki kekuatan bargaining dan menjadi komunitas masyarakat sipil yang memiliki kecerdasan, analisi kritis yang tajam serta mampu berinteraksi di lingkungannya secara demokratis dan berkeadaban.
Kemungkinan akan adanya kekuatan masyarakat sebagai dari komunitas bangsa ini akan menghantarkan pada sebuah wacana yang saat ini sedang berkembangan, yakni Masyarakat madani. Masyarakat madani muncul bersamaan dengan proses modernisasi, terutama pada saat terjadi transformasi dari masyarakat feudal menuju masyarakat barat modern, yang saat itu lebih dikenal dengan istilah civil society.

Kamis, 19 Maret 2015

METODOLOGI STUDI ISLAM PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN ANEKA PENDEKATANNYA



 I.                  PENDAHULUAN

Pada awal tahun 1970-an berbicara mengenai penelitian agama dianggap tabu. Orang akan berkata : kenapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti ; agama adalah wahyu Allah. Sikap serupa terjadi di Barat. Dalam pendahuluan buku Seven Theories Of Religion dikatakan, dahulu orang Eropa menolak anggapan adanya kemumgkinan meniliti agama. Sebab, antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama ( kepercayaan ), tidak bisa disinkronkan.[1]
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.

Jumat, 13 Maret 2015

Manusia, Berfikir dan Pengetahuan



Tanpa saudara kandungnya Pengetahuan, Akal (Instrumen berfikir Manusia) bagaikan si miskin yang tak berumah, sedangkan Pengetahuan tanpa akal seperti rumah yang tak terjaga. Bahkan, Cinta, Keadilan, dan Kebaikan akan terbatas kegunaannya jika akal tak hadir (Kahlil Gibran)
Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan. ..Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa (Louis Leahy)
Mengetahui merupakan kegiatan yang menjadikan subjek berkomunikasi Secara dinamik dengan eksistensi dan kodrat dari “ada” benda-benda (Sartre)

A.     MAKNA MENJADI MANUSIA
Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia  pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.
Berfikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Ketika Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama-nama, pada dasarnya mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah) yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah  dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).

Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan



Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata
ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.
Sebagai contoh ayat di bawah:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]
Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.
Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

ISU-ISU KONTEMPORER: FUNDAMENTALISME ISLAM, MODERENISASI VS KONSERVATISME, ISLAM DAN HAM, AHMADIYAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di era globalisasi saat ini, banyak berbagai permasalahan kehidupan yang terjadi. Segala kejadian yang terus menerus terjadi baik dari segi permasalahan sosial yang berkaitan dengan agama, suku, dan kebudayaan. Isu-isu kontemporer tersebut sebenarnya dalam islam tidaklah dikenal, namun seringkali dijadikan sebagai problematika permasalahan dalam sosial, dikaitkan dengan islam karena arti sebenarnya dari istilah yang termasuk dalam isu-isu kontemporer tersebut merupakan hal yang terkadang bertolak belakang dari ajaran agama islam.
Berbagai isu-isu kontemporer yang awal mulanya timbul dari bangsa barat yang hingga saat ini masih sering kita dengar, lihat dan saksikan diberbagai media yang tidak jarang berupa buku, majalah, koran, televisi, radio dan media yang sekarang sudah bebas untuk kita akses yaitu internet.
Jika dikaitkan Islam dan isu-isu kontemporer tidak jarang menimbulkan banyak spekulasi yang bermunculan dari berbagai pihak baik dari ormas-ormas islam yang menolak keras terhadap isu-isu kontemporer tersebut, maupun ulama-ulama besar islam. Pemikiran yang bertolak belakang dengan islam malah menimbulkan ke-antian terhadap negeri barat itu karena dianggap bahwa istilah-istilah tersebut berasal dari tradisi-tradisi barat. Perkembangan islam di Indonesia memiliki mata rantai yang cukup berliku. Sementara islam di nusantara ini memiliki kompleksitas persoalan, dan dari sini islam hadir dengan membawa wajah tatanan baru dalam masyarakat yang tidak terbentur dengan realitas sosial, budaya, tatanan politik dan tradisi keagamaan. Dalam perkembangannya upaya reaktualisasi diharapkan dapat menjawab problematika kemasyarakatan dan sebagai manifestasi agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam dinamis yanng diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah kontemporer  yang terjadi diberbagai wilayah Indonesiamisalnya Fundamentalisme Islam, Modernisme versus Konservatisme, Islam dan HAM, Ahmadiyah, dll.

Rabu, 27 Maret 2013

MSI: ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM


A. ALIRAN-ALIRAN KALAM

Agama islam yang diyakini sebagai agama “Rahmatan Lil A’lamiin” oleh penganutnya ternyata tidak selamanya bersifat positif. Salah satu buktinya adalah adanya tahkim. Peristiwa inilah yang membuat islam menjadi terpecah, paling tidak ada 3 kelompok, yaitu :

Pendukung Mu’awiyah diantaranya Amr Bin Ash.
Pendukung Ali Bin Abi Thalib, diantaranya Musya Al-Asyari.
Umat islam yang membelot/menentang terhadap Ali Bin Abi Thalib (Khawarij), pelopornya adalah A’tab bin A’war, Urwah bin Jarir. (Al-Syahrastani : 114-6).

Khawarij memiliki ajaran memiliki ajaran dan menjadi ciri utama ajaran ini, yaitu ajaran tentang pelaku dosa besar (Murtakib Al-Kabair).

Menurut aliran ini, orang-orang yang terlibat dan menyetujui hasil hakim telah melakukan dosa besar, orang yang telah melakukan dosa besar menurut pandangan mereka berarti telah kafir, kafir setelah memeluk islam berarti murtad dan orang murtad halal dibunuh, berdasarkan sebuah hadits Nabi Muhammad SAW : “Man Baddala Dinah faktuluuh”. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Amr bin Ash dan sahabat-sahabat lain yang yang menyetujui tahkim, namun yang berhasil yang mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib. Disamping itu mereka mencela Umar bin Khattab, orang-orang yang terlibat dalam perang Jama dan perang siffin (Al-Syahrastani : 117)

MSI: STUDI KAWASAN DAN ISLAM DEWASA INI

I. ISLAM DI AFRIKA TIMUR, ASIA TENGGARA, DAN CINA

Pada kesempatan ini, kita akan membicarakan Islam dengan pendekatan studi kawasan. Adapun kawasan yang dipilih pada bagian ini adalah Afrika Timur, Asia Tenggara dan Cina. Negara-negara itu dipilih karena mewakili wilayah Afrika dan Asia.

A. Islam di Afrika Timur

Daerah yang termasuk Afrika Timur pada abad ke-10 sampai ke-19 mencakup Sudan, Ethiopia, dan Somalia. Pada abad ke-20, wilayah ini tidak mengalami banyak perubahan, kecuali adanya wilayah yang memisahkan diri dari Ethiopia setelah bencana kekeringan dan kelaparan, yaitu Eriteria.

Pada kesempatan ini kita akan membicarakan Islam di Afrika Utara, khususnya Sudan. Dalam sejarahnya, Sudan Timur (Negara Sudan Modern) memisahkan diri dari Sudan Tengah. Sudan Timur berhutang kepada fakta bahwa Islam menyebar sampai ke sudan Timur dari Mesir. Arab menguasai Mesir pada tahun 641 H. Gelombang Arab pertama yang mendiami Mesir terjadi pada abad 9 M. Kemudian terjadi perkawinan antara Arab dengan penduduk pribumi. Penetrasi Arab abad 9 M ini diikuti oleh Mamluk. Pada tahun 1317, Gereja Dongola diubah menjadi masjid. Kemudian Islam disebarkan hampir ke seluruh daerah oleh Arab keturunan.
Sementara itu, di Funj terdapat Kerajaan Kristen. Pada tahun 1504 M, Raja Amara Dunqas, yang mendirikan kota Sinar sebagai ibukota Kerajaan Funj, dikalahkan oleh Arab Muslim. Dari kota itu, dilakukan hubungan perdagangan dengan Mesir.

Senin, 18 Maret 2013

Manusia sebagai Individu, Keluarga dan Masyarakat

PENDAHULUAN
       Naluri manusia untuk selalu hidup dan berhubungan dengan orang lain disebut “gregariousness” dan oleh karena itu manusia disebut mahluk sosial. kebudayaan yaitu sistem terintegrasi dari perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. manusia dikenal sebagai mahluk yang berbudaya karena berfungsi sebagai pembentuk kebudayaan, sekaligus apat berperan karena didorong oleh hasrat atau keinginan yang ada dalam diri manusia yaitu :
1.      Menyatu dengan manusia lain yang berbeda disekelilingnya
2.      Menyatu dengan suasana dalam sekelilingnya

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU
       Individu berasal dari kata latin “individuum” artinya yang tidak terbagi, maka kata individu merupakan sebutan yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan.
Pertumbuhan Individu
        Menurut para ahli yang menganut aliran asosiasi berpendapat, bahwa pertumbuhan pada dasarnya adalah proses asosiasi. Pada proses asosiasi yang primer adalah bagian-bagian. Bagian-bagian yang ada lebih dahulu, sedangkan keseluruhan ada pada kemudian. Bagian-bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan asosiasi.Proses asosiasi yaitu terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh timbal balik dari pengalaman atau empiri luar melalui pancaindera yang menimbulkan sensations maupun pengalaman dalam mengenal keadaan batin sendiri yang menimbulkan sensation. Menurut aliran psikologi gestalt pertumbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan sedang bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain. Jadi menurut proses ini keseluruhan yang lebih dahulu ada, baru kemudian menyusul bagian-bagiannya. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ini adalah proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal suatu yang semula mengenal sesuatu secara keseluruhan baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada.

Minggu, 17 Maret 2013

MODEL PENELITIAN KEAGAMAAN

A. Pendahuluan
Sebenarnya penelitian Agama sudah dilakukan beberapa abad yang lalu namun hasil penelitiannya masih dalam bentuk aktual atau perbuatan saja belum dijadikan sebagai ilmu. Setelah bertambahnya gejala-gejala agama yang berbentuk sosial dan budaya, ternyata penelitian dapat dijadikan sebagai ilmu yang khusus dalam rangka menyelidiki gejala-gejala agama tersebut.
Perkembangan penelitian Agama pada saat ini sangatlah pesat karena tuntutan-tuntutan kehidupan sosial yang selalu mengalami perubahan. Kajian-kajian agama memerluka relevansi dari kehidupan sosial berlangsung, permasalahan-permasalahan seperti inilah yang mendasari perkembangan penelitian-penelitian Agama guna mencari relevansi kehidupan sosial dan agama.
Dewasa ini penelitian Agama diisi dengan penjelasan mengenai kedudukan penelitian Agama dalam konteks penelitian pada umumnya, elaborasi mengenai penelitian Agama dan penelitian keagamaan dan konstruksi teori penelitian keagamaan, dari beberapa penjelasan singkat tersebut maka pemakalah perlu mengkaji secara rinci terhadap penjelasan tersebut.

B. Rumusan Masalah
Dari pendahuluan diatas, maka muncul beberapa pertanyaan, yaitu:
1. Apa pengertian penelitian Agama dan penelitian keagamaan?
2. Bagaimana perbedaan antara penelitian Agama dan penelitian  keagamaan?
3. Bagaimana Konstruksi teori penelitian keagamaan?
4. Bagaimana bentuk model-model penelitian keagamaan itu?

C. Pembahasan
1. Arti penelitian Agama
Penelitian (research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Selain itu, penelitian juga berarti upaya pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan. Pengetahuam manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, sehingga ia siap merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu melelui penemuan-penemuan baru.
Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah karena menggunakan metode keilmuan, yakni gabungan antara pendekatan rasional dan pendekatan empiris. Pendekatan rasional memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan pendekatan empiris merupakan kerangka pengujian dalam memastikan kebenaran. Dimana metode ilmiah sendiri adalah usaha untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan kesangsian sistematis.

Jumat, 15 Maret 2013

Islam dan Kebudayaan Indonesia

A. PERSENTUHAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN MELAYU DAN JAWA

Dalam Islam terhadap ajaran tauhid, sesuatu konsep sentral yang berisi ajaran bahwa Tuhan adalah pusat segala sesuatu, dan manusia haraus mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada-NYA. Konsep ini dijelaskan dalam beberapa literatur dengan penjelasan yang berbeda. Di pesantren-pesantren tradisional salafi, kalimat lailaha illa Allah sering ditafsirkan sebagai berikut: pertama, la mujudu illa Allah (tidak ada yang “wujud” kecuali Allah); kedua, la ma'buda illa Allah (tidak ada yang disembah kecuali Allah); ketiga, la maqsud illa Allah (tidah ada yang dimaksud kecuali Allah); dan keempat, la mathlub illa Allah (tidak ada yang diminta kecuali Allah).
Indonesia pernah mengalami dualisme kebudayaan, yaitu antara kebudayaan keraton dan kebudayaan populer. Dua jenis kebudayaan ini sering dikategorikan sebagai kebudayaan tradisional.
Konsep kekuasaan Jawa sungguh berberbeda dengan konsep kekuasaan islam. Dalam kebudayaan Jawa dikenal konsep Raja Absolut, islam justru mengutamakan konsep Raja Adil, al-Malik al-Adil. Akan tetapi, sesuatu hal yang perlu dicatat adalah kebudayaan karaton diluar jawa memiliki konsep yang lebih dekat dengan gagasan Islam. Di Aceh, misalnya, raja memiliki sebutan al-Malik al-Adil. Ini berarti kebudayaan keraton di Jawa lebih mengutamakan kekuasaan, sedangkan kebudayaan kerabudayaan keraton diluar pulau Jawa lebih mengutamakan keadilan. Perbedaan lain antara kebudayaan masyarakat berdasarkan atas kemutlakan kekuasaan raja, ketertiban masyarakat berdasarkan atas kemutlakan kekuasaan raja, sedangkan dalam islam, ketertiban sosial akan terjamin jika peraturan-peraturan syariat ditegakan. Dengan kata lain, kebudayaan karaton di Jawa mementingkan kemutlakan kekuasaan raja untuk ketertiban sosial, sedangkan Islam mementingkan hukum yang adil untuk diteganya ketertiban sosial. Karna terjadi perbedaan yang begitu tajam, yang sering terjadi ketegangan antara Isalam dengan kebudayaan keraton jawa. (Kuntowijoyo,1991: 232)

POSISI ISLAM DI ANTARA AGAMA-AGAMA DI DUNIA

A. PENDAHULUAN

Sebelum Islam datang ke dunia ini, telah terdapat sejumlah agama yang dianut oleh umat manusia. Para Ahli Ilmu Perbandingan Agama membagi agama secara garis besar kedalam dua bagian

  1. Kelompok agama yang diturunkan oleh Tuhan melalui wahyu-Nya sebagaimana termaktub dalam kitab suci Alquran dan agama ini biasanya disebut dengan agama samawi (agama langit) karena berasal dari atas langit. Yang termasuk kedalam kelompok agama ini antara lain Yahudi, Nasrani dan Islam.
  2. Kelompok agama yang didasarkan pada hasil renungan mendalam dari tokoh yang membawanya sebagaimana terdokumentasikan dalam kitab suci yang disusunnya dan agama ini biasanya disebut dengan agama ardli (agama bumi) karena berasal dari bumi. Yang termasuk kedalam kelompok agama ini antara lain Hindu, Budha, Majusi, Kong Hucu dan lain sebagainya.

Agama-agama tersebut hingga saat ini masih dianut oleh umat manusia didunia dan disampaikan secara turun temurun oleh penganutnya. Didalam mengkaji agama islam biasanya sering dihadapkan dengan agama-agama tersebut dengan tujuan untuk mengetahui posisi islam diantara agama-agama tersebut.

MSI: Peran Islam dalam kehidupan manusia

Pada Bahasan  ini kita berbicara dua topic yang berbeda, yang pertama: Islam sebagai agama (peran agama Islam dalam kehidupan dan apa yang diajarkan Islam keseluruh dunia). Kedua: Islam dan agama lain, sumbangan Islam terhadap kemanusiaan masa kini. Sebagian materi ini telah dibahas pada bab I. Oleh karena itu, bagian ini secara khusus membahas peran Islam dalam kehidupan manusia.
  • Menurut Emile Durkheim(1858-1917), ahli sosiologi dari Perancis, memperkenalkan masyarakat organis. Durkheim percaya bahwa norma-norman akan terancam oleh pembagian kerja yang berlebihan. Dalam pandangan nya, masyarakat praindustri disebut masyarakat mekanis, individu-individu menjalankan perannya masing-masing: sebagai ayah, suami, pemburu, pendeta dan yang lainnya. Semua peran atau fungsi itu diteruskan dari generasi kegenerasi dengan perubahan sekecil mungkin. Sebaliknya masyarakat modern adalah masyarakat organis, produk pembagian kerja dan diferensiasi yang dihasilkan oleh proses industry. Masyarakat organis bersifat inovatif dan kompleks. Agama, dalam pandangan Emildurkheim, meliputi semua kehidupan dalam masyarakat pertama, tetapi tempatnya menjadi lebih terbatas dalam masyarakat kedua. (david e. apter, 1988:377)

DIMENSI-DIMENSI AJARAN ISLAM

A.    PENDAHULUAN

Agama adalah sebuah realitas yang senantiasa melingkupi manusia. Agama muncul dalam kehidupan manusia dalam berbagai dimensi, termasuk agama Islam. Namun, yang menjadi tolak ukur dalam membedakan suatu agama adalah isi atau dimensi ajaran agamanya. Dalam Islam, ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Komponen utama agama Islam atau unsur utama ajaran agama Islam (akidah, syari’ah, dan akhlak) dikembangkan dengan rakyu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk mengembangkannya. Yang dikembangkan adalah ajaran agama yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadist. Dengan kata lain, yang dikembangkan lebih lanjut supaya dapat dipahami oleh manusia.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang paling sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air besar sampai urusan negara. Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya.

Salman Al-Farisi berkata,“Telah berkata kepada kami orang-orang musyrikin, ‘Sesungguhnya Nabi kamu telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai buang air besar!’ Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Hal ini dapat menunjukkan betapa sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup di dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk selainnya, baik itu teori demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.

DIMENSI-DIMENSI ISLAM

Syari’ ah
Syari’at bisa disebut syir’ah artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “sya ra’a fiil maa’I” artinya dating ke sumber air mengalir atau dating pada syari’ah. Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.
Kata “ syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman :
“Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peratuan (syari’at) dan jalan yang terang.”[QS. Al-Maidah(5)
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikut hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.”[QS.Al-Maidah (5)
“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42)
Sedangkang arti syari’at, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah SWT, melalui rasul-rasul-Nya, untuk manusia agar mereka keluar dari kegelapan ke alam yang terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus. Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi frase Syari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu). Istilah bentukan ini berarti, hukum atau peraturan yang diturunkan Allah SWT. Untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW, baik berupa Al Qur’an maupun Sunah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.
Terkadang syari’ah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian Fiqh Islam. Jadi , maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul ‘aam mi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus)

Senin, 04 Maret 2013

Masyarakat Madani dalam Perspektif Islam: Konsepsi Substantif, Aplikatif, dan Solutif

PENGANTAR
Konsepsi adalah salah satu keistimewaan manusia yang diberikan oleh Allah. Menusia diberi kemampuan untuk menginterpretasikan setiap gerak-gerik, langkah, dan kejadian yang mereka alami sesuai dengan kondisi dan suasana batin yang mereka rasakan. Penyesuaian hasil interpretasi itu kemudian disempurnakan menjadi konsep-konsep yang siap diaplikasikan dalam kehidupan mereka di lapangan. Proses pembelajaran seperti inilah yang membuat manusia—secara langsung maupun tidak langsung—semakin paham akan seluk-beluk kehidupan, sehingga mereka mampu mengukuhkan eksistensi mereka di muka bumi sebagai pengelola dan pemberdaya secara utuh dan berkesinambungan.[1]

Kemampuan manusia melakukan konsepsi yang diperoleh dari hasil observasi secara langsung dan tidak langsung terhadap kehidupan, menjadikan mereka sebagai makhluk terbaik yang diciptakan Allah (ahsan al-taqwîm). Ide-ide dan pikiran inilah yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Berawal dari prakonsepsi, dilanjutkan dengan konsepsi, kemudian lahir sebuah konsep, dan diakhiri dengan aktualisasi konsep tersebut dengan tindakan-tindakan konkret.

Dalam aplikasinya, setidaknya ada dua orientasi yang terlihat kontradiktif dari tindakan-tindakan tersebut. Pertama, orientasi natural, yaitu yang didasarkan pada fitrah dan nurani manusia. Karena faktanya, Tuhan telah menciptakan fitrah dan naluri tersebut secara sama dan merata dalam diri manusia. Sehingga agama yang diturunkan pun bersesuaian dengan fitrah tersebut,[2] baik dalam konteks perseorangan maupun komunal; baik dalam konteks keyakinan (tauhid), peribadatan, maupun interaksi sosial sesama manusia. Karena itu, orientasi ini juga bisa disebut sebagai orientasi religius. 

KEMASYARAKATAN DALAM ISLAM

I. PENDAHULUAN

Segala puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia dan nikmatNya. Sehingga kami diberikan kesempatan untuk dapat menulis dan menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa juga kami haturkan kalimat sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. Dimana beliaulah yang telah menuntun dan mengeluarkan umat manusia dari zaman Jahiliyyah, zaman yang penuh kesesatan dan kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti sekarang ini. Hanya kepada beliau jugalah kita memohon syafaatnya di hari akhir nanti. Semoga kita semua di akui sebagai ummatnya. Amiiin...
Penulis menulis makalah dengan judul ”Kemasyarakatan Dalam Islam” yang membahas tentang kehidupan bermasyarakat yang berdasarkan Islam. Yaitu suatu kehidupan dimana dalam kesehariannya dilandasi dengan penerapan-penerapan perilaku Islam. Banyak masyarakat yang mengaku beragama Islam tetapi mereka tidak mencerminkan perilaku sebagai seorang muslim.
Dalam makalah ini akan dikupas tentang berbagai macam fenomena yang ada dalam masyarakat. Mulai dari penerapan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, hambatan-hambatan dalam penerapannya, sampai solusi menuju masyarakat yang ideal dan harmonis.oleh karena itu penulis berharap dengan makalah ini, pembaca dapat lebih sadar akan kebersamaan dan kerukunan dalam masyarakat akan menciptakan kehidupan yang harmonis dan tenteram. Dan yang terpenting semoga makalah kami dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca pada umumnya, dan terlebih khususnya kepada kami, penulis pribadi.

Minggu, 03 Maret 2013

DOKTRIN KEPERCAYAAN DALAM ISLAM (Allah,Wahyu, Rosul, Manusia, Alam Semesta, Eskatologi)

2.1. Pengertian Doktrin
Doktrin;ajaran tentang asas – asas suatu aliran politik, kepercayaan, keagamaan dsb. sedangkan yang di maksud doktrin disini adalah doktrin sentral dalam agama islam, yang meliputi ketuhanan (Allah), Nubuwahatau rosul, wahyu, manusia, alam semesta, dan eskatologi.
2.2. Doktrin-Doktrin Sentral Dalam Islam
Tidak mungkin kita bisa menghitung seluruh doktrin yang ada dalam islam dan memang tidak ada tuntutan untuk mengetahui semua dokttrin dalam islam,tapi ada beberaap doktrin sentral yang seharusnya diketahui oleh seorang mislim, doktrinsentral tersebut meliputi;Allah,Wahyu ,Rosul, Manusia, Alam Semesta, serta Eskatologi (hari kiamat).
2.3. Penjelasan Doktrin-Doktrin Sentral Dalam Islam
a). Allah
Doktrin sentral agama islam berkitan dengan konsep tentang tuhan yang ditinjau dari Diri-Nya sendiri,juga nama nama dan Sifat sifat-Nya.Doktrin yang integral tentang sifat ketuhanan, sekaligus yang absolut,yang azali, dan yang maha baik yang berada pada jantung ajaran islam. Realitas tertinggi, atau Allah (demikianlah, dia sudah sepatutnya di panggil, adalah kata dari bahasa Arab untuk menunjukkan Tuhan yang di pakai oleh penganut Arab Kristen, penganut Yahudi yang terarabkan, juga kaum muslim), yang sekaligus sebagai Tuhan, realitas supra personal atau Tuhan tertinggi. Allah bukanlah wujud yang murni melainkan bukan hanya sekedar wujud, sehingga tidak ada deskripsi yang dapat menyifati-Nya, yang justru tidak dapat mengelakkan pereduksian sifat-nya yang azali dan Esensi-Nya yang absolute, karena Dia mengatasi segala pembatasan dan definisi. Itulah alasan yang menjadikan syahadat,la ilaha illa’Llah(“tidak ada tuhan selain allah”),yang memuat dokrtin islam yang sempurna tentang sifat tuhan, bermula denga awalan la, untuk menegaskan segala sesuatu berupa esensi ketuhanan atau tuhan, pada-nya diri dan realitas-nya yang maha tinggi. Adalah denga hanya membatasi itu malalui penegasan yang pasti. Sebagaimana dalam salah satu ayat al-Qur’an “tidak ada satupun , yang dapat mnyerupai-Nya.”(Q.s.42:2).Allah adalah yang absolut, yang maha, Esa yang sepenuhnya transenden dan mengatasi semua batas – batas dan pembatasan, dari setiap konsep dan ide.

Kamis, 24 Januari 2013

ISLAM DAN KEPEDULIAN SOSIAL

 A.       Pengertian Islam      
           Islam berasal dari bahasa arab salima yang artinya “selamat, sentosa, dan damai”. Kemudian salima diubah menjadi aslama yang mengandung arti “berserah diri masuk dalam kedamaia”.[1]
           Selain pendapat diatas ada sumber lain yang mengatakan bahwa Islam berasal dari bahasa arab kata salima dibentuk menjadi aslamna yang artinya “memelihara dari keadaan selamat sentausa, dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat”.
           Islam juga dapat dipahami dalam surah Al-Baqarah ayat 202.
Yang artinya :
           “Hai orang-orang yang beriman ,masuklah kamu kedalam islam secara keseluruhanya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaiton, sesungguhnya syaiton itu adalah musuh yang nyata bagi mu”.[2]
           Jika di teliti kandungan ayat tersebut menjelaskan bahwa kita diperintah Allah untuk masuk agama islam dan menjauhi syaitan, sebab syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.[3]
           Secara istilah pengertian islam menurut Harun Nasution adalah Agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul.

PENDEKATAN STUDI ISLAM

BAB I
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendekatan Studi Islam
Pendekatan adalah suatu cara kerja untuk memudahkan pendidik/warga belajar agar peserta didik atau warga belajar ingin belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama (Uicha, 2011).
Pendekatan studi Islam adalah suatu cara kerja untuk memudahkan seseorang mengetahui dan mendalami Islam secara luas dan menyeluruh agar tidak muncul pola fikir yang dangkal.
B.     Beberapa Pendekatan Studi Islam
Adapun pendekatan studi Islam, antara lain:
1.      Pendekatan normatif
Normatif adalah peraturan yang mengatur tentang baik buruknya perbuatan berdasarkan norma yang berlaku.
Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Menurut Lubis (2011) Pendekatan normatif adalah sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek norma-norma dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah.
Pendekatan normatif diklasifikasikan menjadi tiga:
a.       Missionaris tradisional
Yaitu pendekatan yang bertujuan merubah suatu masyarakat agar masuk agama tertentu diserta penyakinan akan pentingnya peradaban missionaris, seperti yang dilakukan oleh Belanda dengan menjajah Indonesia, mereka tidak hanya meyakinkan betapa kuatnya perabadaban yang mereka miliki, tetapi juga menyebarkan agamanya yaitu Agama Kristen.

Minggu, 04 November 2012

AGAMA DAN HUBUNGAN ANTAR AGAMA

Dalam sebuah masyarakat yang dicirikan oleh kemajemukan agama, tidak ada hal yang sedemikian penting dan mendesak seperti hubungan antarumat beragama.
Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.
Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar-tawar, apalagi berganti.[1] Ia mengibaratkan agama bukan sebagai (seperti) rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya.[2] Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara objektif dalam soal keagamaan, karena manusia dalam keadaan involved (terlibat). Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia involved (terlibat) dengan Islam.[3] Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, bermacam-macam agama.