STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Umum Perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Umum Perkembangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2014

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK HUBUNGANNYA DENGAN PROSES BELAJAR


Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik.
Perkembangan ranah psiko-fisik difokuskan pada proses-proses perkembangan yang di pandang memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan belajar siswa.
Proses – proses perkembangan tersebut meliputi :
1)      Perkembangan motor, yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak
2)      Perkembangan kognitif, yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak
3)      Perkembangan sosial dan moral, yakni proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok

Rabu, 13 November 2013

Kecerdasan Majemuk

8 kecerdasan majemukPengertian mengenai kecerdasan sebagaimana pandangan Spearman telah membuat kita meyakini hanya satu cara agar anak menjadi cerdas. Pengertian kecerdasan menurut Spearman adalah kemampuan kognitif general yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Karena itu, banyak orang tua bertanya “seberapa cerdas anak saya” dan mencari jawaban dari hasil ujian yang dinyatakan dengan angka.
Padahal kenyataannya, setiap anak bisa menjadi cerdas dengan jalannya masing-masing. Kenyataan tersebut yang kemudian diteorikan menjadi kecerdasan majemuk oleh Howard Gardner. Satu dari 6 prinsip kecerdasan majemuk menyatakan bahwa ada banyak jalan agar anak menjadi cerdas. Sebagaimana jalan menuju Roma, ada banyak jalan menjadi cerdas. Dari banyak jalan, ada delapan kecerdasan majemuk yang dapat ditempuh oleh seorang anak. Apa saja?
Kecerdasan Imaji
Kecerdasan imaji adalah kemampuan memahami, mengelola dan menciptakan imaji dari suatu obyek dan ruang. Anak dengan kecerdasan imaji akan lebih peka pada warna atau bentuk dari sebuah obyek.
Kecerdasan Aksara
Kecerdasan Aksara adalah kecerdasan mengelola bahasa, baik lisan maupun tertulis. Anak dengan kecerdasan aksara berpikir dengan kata-kata, di dalamnya mencakup kepandaian dalam berbahasa untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan, dan menafsirkan.
Kecerdasan Diri
Kecerdasan diri adalah kemampuan dalam memahami dan mengelola diri. Anak dengan kecerdasan diri peka terhadap emosi, ide, harapan dan motivasi yang dirasakannya.
Kecerdasan Relasi
Kecerdasan relasi adalah kemampuan memahami orang lain untuk membangun relasi sosial. Anak dengan kecerdasan relasi memiliki kepekaan terhadap keadaan, suasana hati, harapan dan sikap orang lain, serta jeli terhadap perubahan sikap orang lain.

Sabtu, 20 April 2013

Fase-fase Belajar Menurut Gagne

Pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang selanjutnya diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Gagne membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu:
1.  Fase pengenalan (apprehending phase)
Pada fase ini siswa memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar.
2.  Fase perolehan (acqusition phase)
Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan baru dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.

Minggu, 07 April 2013

Konsep al-Qur’an Tentang Fitrah dan Kaitannya dengan Teori Belajar-Mengajar

Setiap manusia dapat memperoleh pendidikan dan hasil belajar yang baik sesuai dengan petunjuk agama. Dalam hal ini, agama Islam dengan al-Qur’an sebagai sumber utamanya menuntut penganutnya untuk memperdalam ilmu pengetahuannya, sesuai dengan tabiat agama. Ini berarti bahwa teori-teori aliran kependidikan yakni teori nativisme, empirisme, dan kovergensi bukan menjadi acuan konsep pendidikan al-Qur’an. Namun al-Qur’an lah yang memberikan konsep terhadap aliran-aliran pendidikan tersebut.
Menurut al-Qur’an, tabiat manusia adalah homo religious (makhluk beragama) yang sejak lahirnya membawa suatu kecenderungan beragama. Dalam hal ini, pada QS. al-Rum (30): 30 Allah berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Term fitrah dalam ayat di atas, mengandung interpretasi bahwa manusia diciptakan oleh Allah mempunyai naluri beragama, yakni agama tauhid. Potensi fitrah Allah pada diri manusia ini menyebabkannya selalu mencari realitas mutlak, dengan cara mengekspresikannya dalam bentuk sikap, cara berpikir dan bertingkah laku. Karena sikap ini manusia disebut juga sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik) dan homo education (makhluk pendidik), karena pendidikan baginya adalah suatu keharusan guna mewujudkan kualitas dan integritas kepribadian yang utuh.

Senin, 18 Maret 2013

Manusia sebagai Individu, Keluarga dan Masyarakat

PENDAHULUAN
       Naluri manusia untuk selalu hidup dan berhubungan dengan orang lain disebut “gregariousness” dan oleh karena itu manusia disebut mahluk sosial. kebudayaan yaitu sistem terintegrasi dari perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. manusia dikenal sebagai mahluk yang berbudaya karena berfungsi sebagai pembentuk kebudayaan, sekaligus apat berperan karena didorong oleh hasrat atau keinginan yang ada dalam diri manusia yaitu :
1.      Menyatu dengan manusia lain yang berbeda disekelilingnya
2.      Menyatu dengan suasana dalam sekelilingnya

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU
       Individu berasal dari kata latin “individuum” artinya yang tidak terbagi, maka kata individu merupakan sebutan yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan.
Pertumbuhan Individu
        Menurut para ahli yang menganut aliran asosiasi berpendapat, bahwa pertumbuhan pada dasarnya adalah proses asosiasi. Pada proses asosiasi yang primer adalah bagian-bagian. Bagian-bagian yang ada lebih dahulu, sedangkan keseluruhan ada pada kemudian. Bagian-bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan asosiasi.Proses asosiasi yaitu terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh timbal balik dari pengalaman atau empiri luar melalui pancaindera yang menimbulkan sensations maupun pengalaman dalam mengenal keadaan batin sendiri yang menimbulkan sensation. Menurut aliran psikologi gestalt pertumbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan sedang bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain. Jadi menurut proses ini keseluruhan yang lebih dahulu ada, baru kemudian menyusul bagian-bagiannya. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ini adalah proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal suatu yang semula mengenal sesuatu secara keseluruhan baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada.

Kamis, 04 Oktober 2012

PSIKIS MANUSIA TERHADAP KONSEP-KONSEP AL-QUR’AN TENTANG MANUSIA

I. PENDAHULUAN
Manusia sebagai kenyataan fisik material terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu komposisi yang menunjukkan eksistensi manusia secara fisik biologis. Secara psikis, manusia juga memiliki aspek-aspek dan dimensi-dimensi psikis yang membentuk suatu struktur / komposisi totalitas psikis manusia.[1]
II. PEMBAHASAN
Secara bahasa kata motivasi berasal dari bahasa Inggris “motivation” yang kata kerjanya adalah motivate yang berarti “to provide with motives, as the characters in a story or play”. Artinya : “Sebagai karakter dalam cerita / permainan”. Berdasarkan itu, dapat dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan. Dalam istilah psikologi, motivation adalah “a general term referring to the regulation of need–satisfying and goal–seeking behaviors”. Artinya : “motivasi adalah istilah umum yang merujuk kepada perputaran pemenuhan kebutuhan dan tujuan tingkah laku”.[2]
Berdasarkan sifatnya yang intrinsik, motivasi muncul sebagai akibat adanya tiga hal pokok, yaitu kebutuhan pengetahuan, dan aspirasi cita-cita. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul sebagai akibat adanya tiga hal pokok juga, yaitu : ganjaran, hukuman, persaingan / kompetisi. Sejalan dengan itu, maka motivasi itu berguna dan bermanfaat bagi manusia sebagai: menggerakkan tingkah laku, mengarahkan tingkah laku, menjaga dan menopang tingkah laku. Kecuali itu, yang tak kalah pentingnya adalah bahwa motivasi itu juga mempunyai peranan dan fungsi yang besar bagi manusia, yaitu : 1) menolong manusia untuk berbuat / bertingkah laku. 2) menentukan arah perbuatan manusia, dan 3) menyeleksi perbuatan manusia.
Peranan yang demikian menentukan ini, dalam konsep Islam disebut niyyah dan ibadah. Niyah merupakan pendorong utama manusia untuk berbuat / beramal. Sementara ibadah adalah tujuan manusia berbuat / beramal. Maka perbuatan manusia berada pada lingkaran niyyah dan ibadah. Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan bahwa perbuatan sangat ditentukan oleh niyat.
إنّـما لأعمـال بالنيـة
“Sesungguhnya amal perbuatan itu ditentukan oleh niyatnya”[3]

PSIKOANALISIS DAN PSIKOLOGI ANALISIS ADLER

I. PENDAHULUAN
Psikoanalisis dan psikologianalisis sangat dipengaruhi oleh pandangan positivisme yang mendasari fisiko dan biologi pada abad ke-19. Manusia dipikirkan sebagai sistem kompleks energi yang memelihara diri dengan tujuan mempertahankan diri dan mempertahankan jenis menurut hukum evolusi, berbagai proses psikologis terjadi untuk mencapai tujuan ini.
Di samping fikiran seperti yang digambarkan di atas itu, pada akhir abad 19, juga terdapat arah pikiran yang lain, yang terutama dipengaruhi oleh sosiologi dan antropologi yang sedang berkembang pesat pada dewasa itu. Menurut ilmu-ilmu sosial ini, manusia adalah terlebih-lebih hasil masyarakat di mana ia hidup, manusia adalah terutama makhluk sosial dari pada makhluk biologis, sedikit demi sedikit pandangan ini makin meresap ke dalam psikologi dan mendewasakan psikologi dan akhirnya mempengaruhi kepribadian. Salah satu teori kepribadian yang memakai cara pendekatan psikologi sosial adalah individual psikologi yang didirikan oleh Adler.
II. PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Adler
Alfred Adler lahir di Wina pada tahun 1870. Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina pada tahun 1895. Mula-mula ia mengambil spesialisasi dalam Ophthalmology, dan kemudian dalam lapangan psikiatri. Mula-mula bekerja sama dengan Freud dan menjadi anggota, yang akhirnya menjadi Presiden “Masyarakat Psikoanalisis Wina”, namun dia segera mengembangkan pendapatnya yang menyimpang dari Freud, yang akhirnya ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden serta dari keanggotaan “Masyarakat Psikoanalisis Wina”, dan mendirikan aliran baru yang diberi nama individual psychologic (pada tahun 1911).
Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat, di sama ia melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar dalam psikologi media di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di Scotland pada tahun 1937.

Rabu, 03 Oktober 2012

PSIKOLOGI DAN KESEHATAN MENTAL

I. PENDAHULUAN
Kesehatan mental merupakan keinginan wajar bagi setiap manusia seutuhnya, tapi tidaklah mudah mendapatkan kesehatan jiwa seperti itu. Perlu pembelajaran tingkah laku, pencegahan yang dimulai secara dini untuk mendapatkan hasil yang dituju oleh manusia.
Untuk menelusurinya diperlukan keterbukaan psikis manusia ataupun suatu penelitian secara langsung atau tidak langsung pada manusia yang menderita gangguan jiwa.
Pada dasarnya untuk mencapai manusia dalam segala hal diperlukan psikis yang sehat.[1] Sehingga dapat berjalan menurut tujuan manusia itu diciptakan secara normal.
II. PERMASALAHAN
Sampai sejauh mana manusia digerogoti gangguan jiwa dan bagaimana manusia itu melakukan proses penanganan.
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Kesehatan Mental
Istilah “kesehatan mental” diambil dari konsep mental hygiene. Kata “mental” diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahas latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.[2]
Kesehatan mental merupakan bagian dari psikologi agama, terus berkembang dengan pesat. Hal ini tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang membutuhkan jawaban atas berbagai permasalahan yang melingkupinya.

Selasa, 02 Oktober 2012

SEJARAH LINTAS PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Untuk sekedar mengerti isi dari psikologi pada umumnya baik yang kolot maupun yang modern, akan kami tinjau sekedar sejarah perkembangan psikologi dimana pada akhirnya dilahirkan psikologi modern.
Dibawah ini akan kami ulas sejarah perkembangan psikologi secara singkat, yang dipelopori oleh beberapa tokoh. Kita juga akan membahas tentang metode dan materi-materinya yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi.
1. ALIRAN ASOSIASIONISME
  1. James Mill (1773-1836)
Sebenarnya pandangan Mill tidak jauh beda dengan pandangan John Locke tentang ide. Hanya disini Mill membedakan antara penginderaan (sensation) dan ide. Penginderaan adalah hasil kontak langsung alat indera manusia dengan rangsang-rangsang yang datang dari luar dirinya. Ide adalah semacam salinan atau copy dari penginderaan itu yang muncul dalam ingatan seseorang. Ia beranggapan sulit untuk memisahkan penginderaan dari ide, karena penginderaanlah yang menimbulkan ide dan ide tak mungkin ada tanpa seseorang mengalami penginderaan terlebih dahulu.
Kemudian Mill berpendapat bahwa ide-ide dapat dihubungkan satu dengan yang lainnya misalnya meja dan kursi. Mekanisme yang menghubungkan satu ide dengan yang lainnya disebut asosiasi.
Kuat lemahnya asosiasi ditetapkan oleh tiga kriteria :
1. Ketetapan (permanency) : Asosiasi yang kuat adalah asosiasi yang permanen, artinya selalu ada kapan saja.
2. Kepastian (certainty) : Suatu asosiasi adalah kuat kalau orang yang berasosiasi itu benar-benar yakin akan kebenaran asosiasinya itu.
3. Fasilitas (facility) : Suatu asosiasi akan kuat kalau lingkungan sekitar cukup banyak prasarana atau fasilitas.
  1. John Stuart Mill (1806-1873)
Sebagaimana ayahnya, J.S. Mill memulai ajarannya dari penginderaan dan ide (sensation dan idea). Tapi pandangannya berbeda dari ayahnya yaitu :
1. Penginderaan dan ide adalah dua hal yang bisa dibedakan dan dipisahkan antara kedua itu, idelah yang sangat penting daripada penginderaan.
2. Ada 3 hukum asosiasi yaitu :
a. Similaritas : persamaan dua hal menyebabkan asosiasi.
b. Kontiguitas : kelanjutan antara satu hal dengan hal yang lain yang menimbulkan asosiasi.
c. Intensitas : kekuatan hubungan antara dua hal menimbulkan asosiasi dan karena ragu, beliau mengganti istilah intensitas dengan dua konsep lain yaitu insuperabilities dan frekuensi.
3. Ide gabungan (compound idea) bukan sekedar penjumlahan dari ide-ide simple saja, melainkan punya sifat-sifat tersendiri yang lain dari sifat masing-masing ide simple yang membentuk ide gabungan itu.
4. Dalam mengemukakan ajaran-ajarannya J.S. Mill lebih banyak mendasarkan diri pada eksperimen-eksperimen daripada ayahnya yang mendasarkan diri pada pemikiran-pemikiran yang abstrak teoritis saja.

Senin, 01 Oktober 2012

PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK

Di dalam Al-Qur’an telah ada dasar-dasar pendidikan akhlak anak yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak-anak yang terdapat di dalam surat Luqman :
1. Akhlak kepada Allah SWT terdapat Q..S. 31/Luqman : 13 :
وَاِذْقَالَ لُقْمنَ لاِبْنِه وَهُوَبَعِظُه يبُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ ط إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (Q.S. Luqman : 13)[1]
Berdasarkan ayat tersebut di atas mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya, kemudian anak-anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan shalat, sehingga terbentuk manusia yang senantiasa mengingat dan kontak dengan penciptanya, seperti disebutkan dalam Q.S. 31/Luqman : 17 :
يبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلى مَا اَصَابَكَ ط اِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman : 17)[2]
2. Akhlak Kepada Orang Tua
Dalam Q.S. 31/Luqman : 14
وَوَ صَّيْنَا اْلاِنْسنَ بِولِدَيْهِ. حَمَلَتْهُ اُمُّه وَهْنًا عَلى وَهْنٍ وَّفِصلُهُ فِى عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لىِ وَلِولِدَيْكَ ط اِلَىَّ الْمَصِيْرُ.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman : 14)[3]

Senin, 25 Juni 2012

TINJAUAN PSIKOLOGIS MENGENAI PENDIDIKAN DAN AJARAN AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai masalah kejiwaan manusia, dan didalam dunia pendidikan ilmu psikologi ini digunakan untuk membantu mengenali jiwa anak didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar semakin lancar. 
Berbicara mengenai hubungan psikologi dengan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan makalah yang akan penyusun bahas begitu sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru khususnya dapat memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan anak didik artinya psikologi digunakan untuk pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pengajaran sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan mudah tercapai.
  Banyak berbagai buku yang membahas tentang tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum ,akan tetapi dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan yaitu mengenai tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan ajaran agama, oleh karena itu yang dibahas hanya sebatas perkembangan psikologis seseorang dari perkembangan beragamanya, sehingga akhirnya kita ( pendidik / guru ) mudah mencari bahan dan cara pendidikan serta pengajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikologisnya.
Gambaran mengenai pembahasan dalam makalah ini yaitu;
a) Pengertian psikologi, pendidikan dan pengajaran agama.
b) Tinjauan psikologis mengenai perkembangan beragama
c) Cara pendidikan dan pengajaran agama.
Penyusun menyadari dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan akan adanya kritik dan saran,untuk perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya.

Kamis, 31 Mei 2012

PENGEMBANGAN KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Kemandirian sangat berpengaruh untuk membentuk kepribadian seorang peserta didik.Supaya untuk melatih seorang individu untuk bersikap tidak bergantung pada orang lain,berpikir positif,bertindak atas dasar nilai-nilai internal,sadar akan tanggung jawab dll.
Bab ini akan membahas tentang pengertian kemandirian, karakteristik kemandirian, jenis-jenis perkembangan kemandirian, faktor-faktor yang mempengaruhi dan upaya pengembangan kemandirian.
B. Rumusan Masalah

a.  Apa pengertiaan kemandirian
b. Apa saja tingkatan dan karakterristik kemandirian peserta didik 
c . Apa Pentingnya kemandirian bagi peserta didik
d. Bagaimana perkembangan kemandirian peserta didik dan implikasinya bagi pendidikan
e .Bagaimana Bentuk-bentuk kemandirian
f . Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian
g. Apa saja Upaya pengembangan Kemandirian
C. Tujuan penulisan
      a. Untuk mengetahui pengertian kemandiri
      b.Untuk memahami tingkat dan karakteristik kemandirian peserta didik
     c. Untuk mengatahui seberapa pentingnya kemandirian peserta didik
     d.Untuk mengatahui bgaiman perkembangan kemandirian peserta didik
     e. Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk kemandirian
     f. Untuk mengetahui factor-faktor yag mempengaruhi perkembangan peserta didik
     g.Untuk mengetahui apa saja upaya pengembangan kemandirian peserta didik

Minggu, 18 Maret 2012

GENG REMAJA DAN INVOLUSI PENDIDIKAN

Fenomena geng remaja sudah menjadi hal biasa dan tak asing lagi di masyarakat. Berbagai jenis geng remaja seperti geng motor sebagai bentuk kumpulan remaja yang didominasi para pelajar merupakan fenomena perilaku pelajar. Meskipun sama sekali bukan hal baru, namun geng remaja mencuat ke publik berkenaan dengan isu dan praktik kekerasan yang lekat dengannya. Perkelahian pelajar, penyalahgunaan narkotika, dan pergaulan bebas sudah tidak asing lagi menjadi label pada remaja. Sebenarnya bila remaja berkumpul dan berkelompok, itu merupakan hal yang lumrah. Masalahnya ketika berkumpulnya mereka itu mengarah pada hal yang destruktif. Sebagaimana lazimnya manusia, kalangan remaja juga membutuhkan komunitas untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, mereka akan merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan sesama.
Lebih parah lagi, bila tujuan yang kurang atau tidak baik memang telah ditetapkan dan disepakati bersama anggota geng untuk dilaksanakan. Patut diduga, remaja memilih geng sebagai saluran organisasinya karena organisasi remaja yang sudah establish barangkali tidak mampu untuk mewadahi mereka. Atau lebih dari itu, organisasi bersegmen remaja tidak dapat menjangkau dan melayani kebutuhan mereka. Remaja adalah masa dimana mereka membutuhkan wadah untuk berapresiasi dan berekspresi. Sepanjang organisasi remaja tidak mampu memenuhi itu, maka ia akan ditinggalkan.
Mereka lebih suka memikirkan hal yang dekat, terjangkau, dan berbau senang-senang. Hal itu masih wajar bila mereka tidak terjerembab pada pilihan yang jelas negatif. Remaja memang memiliki dunianya sendiri yang berbeda dengan dunia dewasa. Yang diperlukan adalah kontrol dan pengarahan mereka untuk selalu berada pada jalan yang benar. Pun kebenaran itu tidak harus diperspektifkan sebagai hal yang kaku dan tidak berwarna. Biarlah remaja tetap berada dalam dunia keremajaan dan keceriannya, sepanjang dalam batasan yang tidak kebablasan (musrif). Remaja pada dasarnya juga memiliki naluri sehatnya sendiri versi mereka, sungguhpun bagi kalangan tua (yang kolot) kadang banyak hal yang dilakukan remaja hari ini tampak asing, aneh, dan dianggap melanggar.

Selasa, 06 Maret 2012

Aspek Perkembangan Motorik dan Keterhubungannya dengan Aspek Fisik dan Intelektual Anak

I. PENDAHULUAN
Pembentukan kualitas SDM yang optimal, baik sehat secara fisik maupaun psikologis sangat bergantung dari proses tumbuh dan kembang pada usia dini. Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak yang meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi, maupun perkembangan psikososial yang terjadi dalam usia anak (infancytoddlerhood di usia 0 ­ – 3 tahun, early childhood usia 3 ­ – 6 tahun, dan middle childhood usia 6-11 tahun). Masing-masing aspek tersebut memiliki tahapan-tahapan sendiri. Pada usia 1 bulan, misalnya pada aspek motorik kasarnya, anak sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya.

Masa balita adalah masa emas (golden age) dalam rentang perkembangan seorang individu. Pada masa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa, baik dari segi fisik motorik, emosi, kognitif maupun psikososial. Perkembangan anak berlangsung dalam proses yang holistic atau menyeluruh. Karena itu pemberian stimulasinya pun perlu berlangsung dalam kegiatan yang holistik.
Demikian pun dalam kaitan dengan kecerdasan motorik anak, tentu saja dipengaruhi oleh aspek perkembangan yang lainnya, terutama dengan kaitan fisik dan intelektual anak. Dalam makalah ini akan coba di paparkan apa yang dimaksud dengan kecerdasan motorik, pentingnya perkembangan motorik anak, bagaimana proses perkembangan motorik anak pada usia middle age atau anak anak ( 3 – 5) tahun dan stimulasi apa saja yang bisa diberikan untuk mengoptimalkan perkembangan motorik anak usia 3 – 5 tahun.

Kamis, 05 Januari 2012

Tahapan Perkembangan Perilaku Konatif-Freud

Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin,2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual, sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :
Daerah Sensitif Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan
A. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD)
Pre Genital Period Infantile Sexuality
Oral Stage
Mulut dan benda
Early Oral Menghisap ibu jari Mulut sendiri, memilih dan memasukkanbenda kemulut
Memilih benda dan digigitnya secara sadis
Late Oral Menggigit, merusak dengan mulut
Anal Stage
Dubur dan benda
Early Anal Memeriksa dan memainkan duburnya Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur
Late Anal Memainkan dan memperhatikan duburnya
Early GenitalPeriod (phalic stage) Menyentuh, memegang, melihat, menunjukkan alat kelaminnya Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties)
B. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD)
No New Zone
(tidak ada daerah sensitif baru)
Represi
Reaksi formasi
Sublimasi dan kecen- derungan kasih sayang
Berkembangnya perasaan–perasaan sosial

Tahapan Perkembangan Kognitif Individu-Piaget

Piaget, seorang ahli psikologi kognitif, mengemukakan 4 (empat) tahapan perkembangan kognitif individu, yaitu:
1. Tahap Sensori-Motor (0-2)
Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fundasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence. Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18 – 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.

2. Tahap Pra Operasional (2–7)
Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

Rabu, 04 Januari 2012

Konsep Dasar Perkembangan Individu

oleh : Akhmad Sudrajat
1. Apa perkembangan individu itu?
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.
2. Apa yang dimaksud dengan sistematis ?
Sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya.
3. Apa yang dimaksud dengan progresif ?
Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku).

Tugas–Tugas Perkembangan Individu

Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu, yang merentang sepanjang hidupnya. Pada setiap fase perkembangan ditandai dengan adanya sejumlah tugas-tugas perkembangan tertentu yang seyogyanya dapat dituntaskan.
Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap, perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Havighurst (Abin Syamsuddin Makmun, 2009) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa: “A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task”..
Tugas perkembangan individu bersumber pada faktor–faktor:  (1) kematangan fisik;  (2) tuntutan masyarakat secara kultural; (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu itu sendiri; dan  (4) norma-norma agama.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dikemukakan rincian tugas perkembangan dari setiap fase menurut  Havighurst.

Minggu, 27 November 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan merupakan suatu proses yang terjadi selama manusia hidup. Studi mengenai perkembangan seseorang tidak lagi seperti dulu berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaannya, melainkan berlangsung terus dan mulai konsepsi hingga orang itu mati. Pembentukan pada masa dini ini akan bersifat tetap dan mempengaruhi sifat penyesuaian fisik, psikologis dan sosial pada masa-masa yang kemudian. Hal ini pula menyebabkan mengapa perlakuan terhadap anak pada masa dini ini harus sedemikian rupa sehingga dapat mengarah kepada penyesuaian sosial dan penyesuaian pribadi yang baik pada masa yang akan datang. Dapat pula dibuktikan bahwa perkembangan kognisi dan kecerdasan anak ditentukan pula pada masa yang sangat awal ini, bahkan pada masa pranatalnya. Kalau pengertian-pengertian ini nantinya dapat dipadukan dengan program-program pemeliharaan anak-anak Balita, tentu akan merupakan paduan usaha yang sangat baik.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran – pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Oleh karena itu perlu kita ketahui faktor – faktor apa saja yang dominan pengaruhnya dalam perkembangan peserta didik.

Minggu, 06 November 2011

Psikologi Perkembangan

1. Definisi psikologi perkembangan
sebelum membahas tentang definisi psikologi perkembangan terlebih dahulu akan dijelaskan sedikit tentang definisi psikologi dan perkembangan itu sendiri. Psikologi berasal dari bahasa yunani psycho yang berarti jiwa dan logos yang mempunyai arti ilmu dengan kata lain bias disebut juga ilmu jiwa. Menurut istilah psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, proses maupun latar belakangnya[1]. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan adalah sesuatu yang tumbuh teratur dan tidak bias terulang kenbali. Perkembangan merupakan proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi. Berdasar proses pertumbuhan, kenasakan dan belajar.[2]
Banyak ahli yang mendefinisikan tantang psikologi perkembangan
1. that branch of psychology which studies processes of pra and post natal growth and the maturation of behavior”yang artinya adalah psikologi perkemnbangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan prilaku(JP Chaplien : 79)
2. psikologi perkembangan merupalan cabang psikologo yang mempelajari tingkah l;aku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari masa konsepsi sampai mati (Ross Vasta : 92) [3].
3. Psikologi perkembangan adalah ilmu yang mempelajari psikis (jiwa) dan perkembangan kehidupan psikis manusia normal.[4]