I. PENDAHULUAN
Seorang
filosof yang lahir dan di besarkan dalam keluarga muslim akan dinamakan
seorang muslim, akan tetapi pandangan dan kepercayaannya mungkin saja
Bid’ah, inilah yang disebut dengan “Filusuf Muslim”. Filusuf
Islam adalah orang yang mengambil inspirasinya dari al-Qur’an dan
Sunnah, serta pandangan-pandangan filsafatnya sesuai sepenuhnya dengan
pandangan-pandangan yang diuraikan didalam al-Qur’an dan Sunnah
tersebut.
Filusuf
Muslim lahir berkat masuknya pemikiran Yunani ke dalam permikiran Arab,
hanya melalui penerjemahan pengetahuan Yunani ke dalam bahasa kaum
muslim dirangsang dan dipaksa untuk berfikir. Oleh karena itu banyak
ajaran dan kepercayaan yang sampai kepada bangsa Arab melalui
karya-karya itu. Adapun karya-karya itu bertentangan dengan dasar-dasar
agama Islam.
Para
filusuf muslim membedakan antara ilmu yang berguna dan ilmu yang tak
berguna dan kedalam ilmu yang berguna mereka memasukkan ilmu-ilmu
duniawi.
Adapun
tujuan para filusuf muslim adalah untuk memberikan kepada dunia suatu
teori lengkap mengenai kesatuan kosmos yang tidak hanya memuaskan akal
pikiran, akan tetapi juga perasaan keagamaan.[1]
II. PEMBAHASAN
Adapun
para filusuf muslim itu adalah : pada pemaparan makalah ini kami akan
membahas beberapa para filusuf muslim abad pertengahan.
a. Al-Ghazali
Nama aslinya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir di Thus tahun 450 H / 1058 M.[2]
Pemikiran
al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak
kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan
yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses
pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat
menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang
sempurna.
Batas
awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan
ovum sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu
orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada
kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral.[3]
b. Ibnu Khaldun
Nama lengkapnya Abdurrahman Abu Zain Waliuddin bin Muhammad bin Khaldun al-Maliki, dilahirkan di kota Tunnisia pada awal Ramadhan tahun 732 H / 27 Mei 1333 M.[4]
Dasar sejarah filsafatnya adalah :
1. Hukum
sebab akibat yang menyatakan bawa semua peristiwa, termasuk peristiwa
sejarah, berkaitan satu sama lain dalam suatu rangkaian hubungan sebab
akibat.
2. Bahwa kebenaran bukti sejarah tidak hanya tergantung kepada kejujuran pembawa cerita saja akan tetapi juga kepada tabiat zaman.
Karena
hal ini para cendekiawan memberinya gelar dan titel berdasarkan tugas
dan karyanya serta keaktifannya di bidang ilmiah, yaitu :[5]
1. Sarjana dan filosof besar 6. Ahli Hukum
2. Ulama Islam 7. Politikus
3. Sosiolog 8. Sastrawan Arab
4. Pedagang 9. Administrator dan organisator
5. Ahli sejarah
c. Sayyid Ahmad Khan
Dia
adalah seorang pendekar besar nasionalisme dan ia berpendapat bahwa
Islam adalah agama akal. Ia menolak segala hal dalam agama yang
bertentangan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang sudah terbukti
kebenarannya.[6]
Pada
waktu itu golongan muslim menolak belajar bahasa Inggris, dan mereka
menganggap sebagai murtad untuk belajar di sekolah-sekolah dan perguruan
tinggi yang didirikan oleh bangsa Inggris. Sehingga pendidikan mereka
jauh tertinggal dari golongan Hindu yang memenuhi sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi Inggris dan mengejar pengetahuan modern dengan penuh
semangat.
Maka dengan adanya hal itu Ahmad Khan punya tugas yang sulit yaitu :
1. Ia harus meyakinkan bangsa Inggris bahwa golongan muslim itu tidak loyal
2. Ia harus membujuk golongan muslim agar belajar bahasa Inggris dan melengkapi dirinya dengan pengetahuan modern
Dengan
tugas ini maka ia berusaha menghilangkan antipati golongan muslim
terhadap bahasa Inggris dan pengetahuan modern melalui pidatonya dan
dengan jalan mendirikan Aligarh School yang menjadi Aligarh University.
d. Al-Kindi
Nama
lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail
al-Ash‘ats bin Qais al-Kindi. Ia seorang filosof muslim yang pertama.
Kindah adalah salah satu suku Arab yang besar pra-Islam. Kakeknya
Al-Ash’ats ibn Qais, memeluk Islam dan dianggap sebagai salah seorang
sahabat Nabi SAW. Al-Ash’ats bersama beberapa perintis muslim pergi ke
kufah, tempat ia dan keturunannya mukim. Ayahnya adalah Ishaq al-Sabbah
menjadi gubernur Kufah selama kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan
al-Basyid. Kemungkinan besar al-Kindi lahir pada tahun 185 H / 801 M.[7]
Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berderajat tinggi, kaya
akan kebudayaan dan terhormat. Ia tidak tertarik unutk menjadi politikus
dam prajurit – meneruskan jejak ayahnya – tetapi panggilan ilmu
pengetahuan menyedotnya hingga ia pindah ke Kufah dan Basrah – pusat
ilmu pengetahuan – dan Baghdad.
Menurut
al-Kindi filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan
Islam, oleh karena itu para sejarawan Arab awal menyebutnya “filosof
Arab”. Menurutnya batasan filsafat yang ia tuangkan dalam risalahnya
tentang filsafat awal adalah “filsafat” adalah pengetahuan tentang
hakekat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena
tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran dan dalam
prakteknya ialah menyesuaikan dengan kebenaran.
e. Al-Farabi
Nama
lengkapnya Abu Nash al-Farabi, lahir pada tahun 258 H / 870 M di Farab,
meninggal pada tahun 339 H / 950 M. Sejarah mencatatnya sebagai
pembangun agung sistem filsafat, dimana ia telah membaktikan diri untuk
berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan
kekisruhan masyarakat.[8]
Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskosi, keterangan dan penalarannya.
Unsur-unsur penting filsafatnya adalah :
1. Logika
2. Kesatuan filsafat
3. Teori sepuluh kecerdasan
4. Teori tentang akal
5. Teori tentang kenabian
6. Penafsiran atas al-Qur’an.
f. Ibnu Sina
Dalam
sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (370/980 –
428/1037), dalam banyak hal unik sedang diantara para filosof muslim ia
tidak hanya unik tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi
hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang
telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci –
suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim selama
beberapa abad.[9]
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Huseyn bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Siena.
Ia lahir didalam masa kekacauan pada bulan Safar 370 H / Agustus 910 M
didesa Afshanah dekat kota Kharmaitan, kabupaten baikh, wilayah
Afghanistan Propinsi Bukhara (Rusia) ibunya bernama Asfarah, ayahnya
Abdullah seorang gubernur dari suatu distrik di Bukhara pada masa
Samaniyyah – Nuh II bin Mansur.[10]
III. ANALISIS
Dari
pemaparan makalah diatas, saya sedikit dapat menganalisa tentang
berbagai pemikiran-pemikiran para filusuf muslim. Sebenarnya pemikiran
dari beberapa filusuf muslim yang saya contohkan diatas kebanyakan dari
mereka membahas mengenai ilmu pengetahuan.
Memang
ketika kita berbicara mengenai ilmu pengetahuan pasti tidak lepas dari
akal, karena melalui akal pikiranlah suatu ilmu pengetahuan itu
dimunculkan, akan tetapi semua itu tidak terlepas dari faktor lingkungan
tempat dimana dia berada.
Masing-masing
pemikirannya berbeda-bedaantara filusuf yang satu dengan filusuf yang
lainnya. Akan tetapi pada intinya adalah satu yaitu menuju ke arah
perkembangan ilmu pengetahuan.
IV. KESIMPULAN
Setelah
melihat uraian yang ada diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan
adalah proses memanusiakan manusia yang tidak luput dari ilmu
pengetahuan yang tumbuh melalui akal pikiran, sehingga tercapai sesuatu
yang diinginkan dan tidak mengandalkan dari keturunannya untuk dapat
meraih cita-citanya. Dengan pemikirannya itu misalnya Ibnu Sina
menemukan ilmu kedokterannya.
DAFTAR PUSTAKA
Akhyar Dasoeki, Thawil, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993.
Chabib Thoha, M. dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam¸ Pustaka Pelajar, Semarang, 1996.
Ibnu Rush, Abidin, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.
Nata, Abudin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993.
Qadir, C. A., filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991.
Syarif, M. M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996.
[1] C. A Qadir, filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991, hlm 15.
[2] Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993, hlm 95.
[3] Abidin ibn Rush, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm 53.
[4] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993, hlm 97.
[5] Ibid, hlm 99.
[6] M. Chabib Thoha, dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam¸ Pustaka Pelajar, Semarang, 1996.
[7] M. M Syarif, Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996, hlm 11.
[8] Ibid, hlm 15.
[9] Ibid, hlm 43.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar